Sabtu, 11 Mei 2019

PENGANTAR IDEOLOGI


PENGANTAR IDEOLOGI

Secara etismologis istilah ideologi berasal dari bahasa Greek, Yunani kuno, yang tersusun atas kata idea dan logos. Pengertiaan idea dalam buku The Advence Leaners Distionary  berarti a plan or schema in the mind, suatu rencana yang dibentuk / dirumuskan didalam pemikiran. Sedang menurut buku Websters New Collegiate Distionary pengertian ide berarti something existing in the mind as the result of the formulation of  opinion, a plan of the like, sesuatu yang ada didalam pemikiran sebagai hasil perumusan sebuah pendapat, rencana atau hal yang tidak beda dengan pendapat dan rencana.
Adapun kata logis dari asal kata logos yang berarti ward, kata ini berasal dari legein berarti to speak, berbicara. Selanjutanya kata logis berarti science atau theory.
Dengan demikian pengertian ideologi menurut arti kata berarti pengucapan dari apa yang terlihat atau pengutaraan dari apa yang terumus dalam pemikiran sebagai hasil pemikiran ( Sukarna, 1974 ).
Menurut pengertian yang ada, ideologi berarti the body of doctrne, myth and symbols of sosial movement, institution, class of large group; suatu kerangka dokrin, kepercayaan, symbols pergerakan sosial, kelembagaan, klas atau group besar. Ideologi berarti pula such a body of doctrine, etc with reference to some political and cultural plan, as that of fascism along with the devices for putting it in to operation, suatu kerangka dokrin yang mendasarkan pada perencanaan politik dan kebudayaan seperti fasisme yang memiliki pembagian tugas operasi, rencana politik atau aliran faham.
Sedangkan dari sisi lain, ideologi merupakan the ideas characteristic of a school of thinkers, a class of society, a political paty or the like, karakter/ watak/ ciri-ciri hasil pemikiran kelas akademis, masyarakat, suatu partai politik atau kelompok sejenisnya.
Dari pemikiran dimuka, maka ideologi dapat didifenisikan sebagai seperangkat gagasan atau ide-ide yang terkondifikasi dalam suatu nilai yang diyakini dan diperjuangkan oleh suatu masyarakat tertentu (dalam tempo dan tempat tertentu) sebagai pedoman dan tolok ukur dalam aktifitas  kehidupanya.
Dengan demikian dalam prakteknya ideologi paling tidak harus mempunyai unsur-unsur berupa :


Gagasan atau ide tertentu
Merupakan suatu nilai (diyakini)
Adapun suatu masyarakat tertentu (negara/klas sosial)
Berfungsi sebagai pedoman (aturan main/peraturan dan tolok ukur).
Sekalipun ideologi dalam prakteknya sudah berkembang bersamaan dengan sejarah peradapan dan perjuangan masyrakat manusia, namun dalam sejarah peristilahannya ideologi berkembang dengan berbagai konotasi.
Konotasi positif berangkat dari sejak pertama kali istilah ideologi dikenal, dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy saat menggeloranya revolusi Perancis. Istilah ini dipakai Traccy untuk menyebut suatu study tentang asal mula hakekat dan perkembangan manusia, dikenal dengan Science of Ideas.
Sedang konotasi negatif berasal dari sikap Napoleon dalam menyebut para cendekiawan liberal dari Institut Perancis yang dianggap membahayakan kedudukan Napoleon dengan istilah kaum ideologi (ideologues). Menurut Napoleon pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh para cendekiawan tidak lebih dari spekulasi yang kabur, salah kaprah dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga terjadi konflik antara Napoleon dengan para cendekiawan.
Penggunaan istilah ideologi sebagai suatu bentuk penyikapan yang mempunyai konotasi negatif yang diutarakan oleh Kalr Marx dan karl Manhein.
Menurut pandangan Mark, ideologi tidak lebih dari serangkaian pemikiran klas penguasa untuk merasionalisasikan atau memberikan justifikasi terhadap tertib yang berlaku serta hak-hak istimewa yang dimiliki klas penguasa. Demikian pula menurut pandangan Manhein, ideologi hanya sebagai pemikiran yang condong mengutamakan kepentingan klas-klas yang dominan dalam masyarakat.

KARAKTERISTIK IDEOLOGI
Untuk memudahkan pemahaman mengenai karakteristik ideologi, mak perlu dilihat kembali pengertian-pengertian dasar ideologi :
Ideologi  merupakan suatu ajaran-ajaran atau doctrin-doctrin dari suatu masyarakat/klas tertentu yang diyakini kebenarannya dan diperjuangkan kebenarannya oleh masyarakat yang bersangkutan.
Ideologi merupakan tata aturan yang berfungsi sebagai tolok ukur dalam setiap pandangan dan perilaku kehidupan.
Ideologi merupakan hasil pemikiran, emosi ataupun antisipasi atas sesuatu hal dalam kondisi dan atau ruang waktu tertentu
Dari penekanan pengertian tersebut, maka dapat digali beberapa karateristik ideologi antara lain :
Ideologi Tidak universal
Ideologi merupakan suatu keyakinan dan atau doctrin yang mempunyai nilai subyektif  bagi suatu kelompok ataupun individu sebagai penganutnya. Ideologi juga hanya diyakini, dipraktekkan dan berfungsi dalam suatu masyarakat/klas tertentu, dan belum dapat dipraktekkan dalam masyarakat/klas yang berbeda kondisinya. Hal ini mengingat ideologi hanya merupakan hasil pemikiran, emosi ataupun antisipasi atas kondisi tertentu dalam tempo dan tempat tertentu pula.

Ideologi Tidak Komprehensif
Sekalipun ideologi mengikutsertakan program, aturan dan pedoman dalam kehidupan masyarakat, namun ideologi tidak dapat mendeteksi seluruh kebutuhan hajat hidup manusia. Dengan demikian ideologi tidak bisa memberikan langkah-langkah yang menyeluruh, baik mengenai pelaksanaan sesuatu hal maupun masalah-masalah yang timbul pada saat dan sesudahnya.
Ideologi cenderung menonjol bagian tertentu yang bersifat material dan kompleksitas hidup manusia. Hal ini dapat dilihat pada ideologi Marxis yang hanya menonjolkan permasalahan ekonomi dan persamaan hak atas hak milik. Liberalisme hanya menonjolkan masalah kebebasan individu dan fascis hanya menonjolkan masalah kebangsaan.

Berubah-ubah Tata Aturannya
Ideologi sebagai suatu pranata sosial dan aturan main dalam kehidupan individu dan kelompok, dalam perjalanan sejarahnya hampir tidak ada yang konsisten. Setiap memasuki wilayah atau jaman tertentu selalu berubah dan berinteraksi dengan kondisi sosial yang ada. Sebagai contoh : ideologi komunis ala Karl marx akan berbeda dengan versi Lenin, Mao Tse Tung ataupun Gorbachev.
Jadi ideologi, ada dan tidaknya, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan suatu kelompok masyarakat.

Ideologi Berfungsi sebagai Tata Aturan di dunia
Dalam bentuknya sebagai tata aturan dan pedoman hidup, ideologi hanya berbicara tentang kemaslahatan hidup manusia didunia saja. Ideologi hanya berbicara pokok dan cita-cita hidup manusia didunia terpotong keberadaannya setelah hidup didunia ini. Dengan kata lain ideologi tidak memberikan proyeksi atau jalan bagi penganutnya mengenai hidup setelah hidup (kehidupan akhirat).
Ideologi tidak lain merupakan rasionalisasi dari materi dan kepentingan-kepentingan yang tidak realistis yang diabdikan untuk mempertahankan status quo atau sebaliknya untuk mengundang terjadinya perubahan-perubahan.

Perwujudan teori ini berangkat dari pendekatan Karl Marx yang mengambil dialektikannya Hegel mengenai thesa, antithesa dan synthesa dengan menggantikanya dengan material yang sekaligus juga digunakan untuk menghantam teorinya Hegel mengenai ide-ide tersebut.

Jadi kalau dalam pandangan Hegel, serangkaian ide-idelah yang menentukan sejarah dan eksistensi manusia, serta konflik ide-ide merupakan manifestasi dari perjuangan manusia, maka Marx membaliknya, bahwa exsistensi material manusia itulah yang menentukan ide-idenya. Sedang yang menjadi landasa konflik menurut Marx bukan ide akan tetapi materi.

Dengan demikian menurut Marx, dialektika materialisme yang menentukan sejarah menusia.

C. Teori Posisional
Teori sebagian besar diangkat dari pendekatan materialis, khususnya penyebutan ideologi yang dipakai Marx terhadap upaya rasionalisasi didasari para kapitalis dalam mempertahankan status quo. Menurut teori ini, analisis Marx terhadap ideologi atau penyikapanya terhadap kapitalisme itu sendiri merupakan ideologi.

Karl Mannhein dalam menangkap kesenjangan logika marxis menyusun suatu pemikiran yang membedakan antara ideologi dan utopis.

 Menurut Mannhein, ideologi dilihat semata-mata dari fungsi konservatif klas-klas penguasa dalam upaya melindungi tertib yang sudah mapan, sedang utopis dihilat semata-mata dari fungsi revolusionernya, yang merupakan keperayaan-kepercayaan yang tumbuh dalam pemikiran klas-klas yang berusaha menggulingkan tertib masyarakat yang berlaku serta menggantikannya dengan tertib yang baru.





























DASAR FILSAFAT IDEOLOGI

Teori Idealis
Asumsi dasar yang menjiwai teori ini, bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari pemikirannya. Bahwa tingkah laku manusia tidak bisa lepas dari berbagai pranata yang ada disekitar manusia sebagaian besar merupakan produk dari pikiran.

Dalam teori ideologi tidak lain merupakan hasil pemikiran yang didorong oleh konflik-konflik ide-ide.

Menurut Hegel, perjalanan sejarah dan eksistensi manusia didorong oleh ide-ide yang selalu dialeksi. Yaitu pertarungan yang sangat tajam antara thesa (pernyataan pendapat) dan antithesa (penentang terhadap pendapat). Kemudian sebagai hasil dari konflik tersebut lahirlah synthesa, dan synthesa didalam antithesa baru pula dan kemudian menjadi synthesa baru. Demikian seterusnya hingga perjalanan sejarah yang berliku-liku sampai pada synthesa final.
Synthesa final yang merupakan ide pokok yang tidak dapat dipertentangkan lagi tersebut, menurut Hegel tidak lain ialah ide negara.








Teori Materialisme

Teori materialisme atau yang dikenal pula dengan sebutan teori realis, berpendapat bahwa berbagai ide-ide dan ideologi lebih banyak ditentukan oleh kepentingan dan perilaku manusia.



MACAM-MACAM IDEOLOGI



IDEOLOGI LOBERALISME

Liberal berasal dari bahasa latin, yang berarti free, bebas.
Liberal berati :
Not restricted, tidak dibatasi
Not bound by established forma in political or religious philosophy, tidak terikat oleh ajaran-ajaran yang telah ada dalam filsafat politik dan agama.
Independent in opinion, bebas dalam pendapat.

Dalam pengertiannya adalah salah satu ideologi, liberalisme bersikap menjunjung nilai-nilai kebebasan perorangan (individual liberty) terhadap campur tangan penguasa atas kehidupan pribadi seseorang. (A. Dahlan Ranuwiharjo,1983).

Menurut Huszen dan Stevenson dalam buku political Science, asumsi dasar dari liberalisme bersumber dari teorinya Jhon Loche, tabula rasa, yang menganggap setiap manusia lahir ibarat kertas putih. Liberalisme berdsarkan pada prinsip, setiap orang mempunyai hak-hak tertentu yang tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat dilanggar oleh kekuasaan manapun. Hak-hak yang dimiliki oleh setiap individu telah dibawanya semenjak lahir, sedangkan fungsi negara tidak lebih dari melindungi setiap individu dalam melaksanakan hak-hak tersebut dan sama sekali dibenarkan ikut campur dalam pelaksanaan hak masing-masing individu.

Pada dekade belakangan ini liberalisme ditandai dengan :
Memiliki kecenderungan untuk mendukung perubahan
Mempunyai kepercayaan terhadap nalar manusia
Bersedia menggunakan pemerintah untuk meningkatkan kondisi manusiawi.
Mendukung kebebasan individu.
Bersikap ambivalen terhadap sifat manusia
(Lyman Tower Sargend, 1986).

Kemudian bila dilihat dari bentuk operasionalnya, maka :
Dalam bidang politik, liberalisme mengumandangkan hak-hak asasi rakyat.
Dalam bidang ekonomi, liberalisme idemtik dengan :
Free enter price, kemudian free competition hingga sampai pada free exploitation dengan semboyan : Laisse faire laisse passe, biarkan setiap orang mengerjakan apa yang ia sukai dan sanggupi.
Dalam bidang budanya mengumandangkan : freedom of religion, saking liberalnya berkambang menjadi free from religion (sekularisme) sedang dalam bidang budaya mengendaki freedom of culture dan berkembang menjadi free culture dengan free love dan free sex-nya.
Dalam bidang intelektualisme, liberal pararel dengan sikap free from religion, free thinking, berfikir bebas tanpa ikatan aqidah dan iman.

Keterkaitan antara liberalisme dengan kapitalisme ialah karena dalam kapitalisme merupakan hasil terbesar dari liberalisme dalam bidang ekonomi.
Sementara itu bila dilihat dari praktek-praktek yang ada, kapitalisme berangsur-angsur mengalami perubahan.
Kapitalisme masa tradisional ditandai dengan :
Pemilikan kekayaan pribadi
Tidak ada batasan untuk memupuk kekayaan
Ketiadaan investasipemerintah dalam ekonomi sistem pasar bebas

Sedang kapitalismesaat ini ditandai dengan :
Sebagaian kekayaan dimiliki seara pribadi.
Adanya pembatasan tertentu terhadap pengumpulan kekayaan
Peraturan pemerintah tentang ekonomi-sistem pasar bebas yang telah dimodifikasi.
Sistem kesejahteraan yang terus berkembang.
Hal yang perlu diketahui, terjadinya perubahan tersebut karena terpengaruh pemerintah sebagai organisasi yang kuat mampu memaksa organisasi ekonomi yang ada. Namun demikian secara ideologi kapitalisme tradisional masih dimiliki.


SOSIALISME / KOMUNISME
Suatu teori politik atau ekonomi tentang suatu masyarakat yan didasarkan atas hak milik bersama (kolektif) atau hak milik yang diakui pemerintah dan pengendalian secara demokratisdari segala alat-alat untuk memproduksi dan distribusi barang-barang. (Moh. Karnawi Bajuri Ferenduany, 1989).

Asumsi dasar sosialisme :
Sumber-sumber ekonomi harus merupakan milik bersama, tanpa adanya kelas-kelas tertentu yang menguasainya.
Pengusaan ekonomi oleh kelas-kelas tertentu akan melahirkan kesengsaraan bagi kehidupan manusia.

Sosialisme sebagai suatu bentuk perjuangan kelas dalm bidang ekonomi, dalam prakteknya akhirnya menjadi suatu ideologi. Dalam pemunculannya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk ideologi komunis :

B.1. KOMUNIS UTOPI
Komunis utopis sudah cukup lama ada, Falto boleh disebut penganjur pertama. Dalam dialektikannya The Republic atau Potea, plato mengangkapkan, masyarakat ideal adalah masyarakat dimana kehidupan elite politik disusun sesuai dengan garis pemikiran manusia.

Sementara itu Sir Thomas More (1516) dalam essaynya yang berjudul Utopia mengungkapkan, prinsip-prinsip hak umum sebagai landasan yang harus diungkapkan dalam sistem produksi distribusi.

Menurut kaum utopis, hak milik perseorangan adalah merupakan pangkal kesengsaraan manusia. Kondisi semacam ini harus didobrak melalui apa yang disebut Community od possesion.

Revolusi Perancis merupakan salah satu usaha yang dipengaruhi oleh para pemuka utopis.

B.2. KOMUNIS MARXIS
Komunis dalam pengertian yang sekarang ini keberadaannya tidak lepas dari tokohnya, Karl Mark (1818-1883) dan Fiedrich Engels (1820-1895). Unsur-unsur yang menjiwai berkembangnya ideologi komunis didasarkan pada teorinya Marx mengenai :

Dialectical Materialisme
Menurut Marx, cara produksi materi memberi kondisi proses keseluruhan kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukanlah kesadaran orang yang menentukan keberadaan materi, tetapi sebaliknya, kondisi sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka. Dalam hal ini Marx mengambil dialektika dari Hagel yang membuktikan bahwa semua gagasan melalui proses-proses dialektika. Namun Marx menolak asas pokok ajaran idealisme Hegel yang membatasi hukum dialektri hanya berlaku dalam dunia abstrak/pikiran, melainkan menurut Marx juga berlaku dalam dunia materi/kebendaan. Dari tensis (posisi pertama), kemudian berlawanan dengan anti tesis (posisi kedua) dan menghasilkan sintesis yang merupakan tesis baru dan akan dicounter oleh anti tesis baru pula, dalam proses yang berlanjut dan menghasilkan sintesis final/negasi, dalam pandangan Marx merupakan pertentangan materi.

Historical Materialism
Untuk menganalisa masyarakat mulai dari permulaan jaman sampai masyarakat dimana marx hidup, disebut dengan teori materialisme historis. Teori ini juga disebut analisa ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of historis) karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi.

Dalam teorinya sekalipun Marx tidak menyatakan, dirinya dapat meramalkan masa depan, namun ditegaskan bahwa ada pola-pola sejarah yang berada dalam semua kemungkinan untuk berlangsung terus ke masa depan.

Menurut Marx, mula-mula masyarakat berangkat dari komunisme primitif melalui praktek perbudakan, kemudian berproses kearah masyarakat feodal dan kapitalis. Dari masyarakat yang demikian, kemudian menumbuhkan produktivitas industri dimana dalm skala yang lebih besar akhirnya memerlukan konsentrasi tenaga kerja. Tetapi karena para pekerja rata-rata belum mendapatkan penghargaan yang sesuai, akhirnya terjadi konflik/kontradiksi (kontradiksi klas).

Sebagai akhir dari kontradiksi klas, klas proletar akan tampil serta berusaha mensosialisasikan modal, untuk selanjutnya menselaraskan antara alat-alat produsi, kemampuan ekonomi, struktur sosisal dan politik.

Untuk sementara (dari kemenangan para pekerja atas kaum kapitalis) negara akan dikuasai oleh suatu yang disebut dengan dictatorship of the proletariat dan kemudian apabila masyarakat sosialis sudah ditransformasikan ke dalam masyarakat komunis tanpa klas, maka ditatorship of the proletariat dan sekaligus negara akan hilang dengan sendirinya. Akhirnya hanya akan ada lembaga administratif.

Dalam proses tersebut perlu ditekankan, bahwa menurut Marx sosialisme baru akan terbuntuk setelah mengalami serangkaian krisis industrialisasi dan pertentangan klas.

Penyikapan Terhadap Masyarakat Kapitalis
Sikap Marx terhadap kapitalis didasarkan pada teori yang dikenal dengan :
Labor the of value, teori nilai buruh.
Bahwa nilai buruh tergantung dari sejumlah waktu yang diberikan buruh untuk memproduksi. Jadi disini nilai buruh bukan harga dari setiap benda yang dihasilkan oleh pabrik melainkan kemanusiannya.
Ajaran Subsistence Wages, upah penyambung hidup.
Kapitalisme hanya akan membayar pekerja-pekerja sekedar untuk mempertahankan hidup, upah sekedar untuk menyambung hidup. Adapun sebagai salah satu faktor penyebabnya, perlengkapan/peralatan industri semakin canggih, sehingga tidak begitu banyak memerlukan tenaga kerja. Sedangkan disegi lain jumlah tenaga kerja buruh melimpah. Akibatnya terjadi kompetisi diantara buruh untuk mendapatkan pekerjaan. Kesempatan ini digunakan oleh kaum kapitalis/borjuis untuk memperendah upah.

Surplus Value, nilai lebih
Dasar dari anggapan Marx, bahwa :
Ada kelebihan buruh, tak ada keperluan untuk membayar lebih.
Marx tidak percaya bahwa kapitalisme akan membayar buruh lebih dari tingkat upah yang diperlukan.
Marx menganggap bahwa kapitalisme akan berhadapan dengan serangkaian krisis ekonomi yang tidak memungkinkan kapitalisme akan membayar lebih banyak.
     
Teori Revolusi
Revolusi bagi Marx adalah sesuatu yang perlu dan penting. Marx beranggapan bahwa untuk mencapai masyarakat yang bebas dari paksaan, perlu melalui jalan paksaan dan kekerasan. force is the midwife of every old society pregnant with a new one, kekerasan adalah bidan dari setiap masyarakat lama yang sedang hamil tua dengan masyarakat baru.

Dalam pandangan Marx revolusi terjadi karena dua alasan : pertama, bahwa pencapaian sintesis akan selalu terjadi secara tiba-tiba, sedang yang kedua, golongan borjuis tidak akan bersedia mengalami kehancuran sebagai sebuah kelas dan akibatnya akan selalu mendorong kaum proletar kedalam revolusi yang keras.

Sekalipun teori komunisme Marx mendapat perhatian yang besar dari para pengikutnya, namun dalam menenggapi mengenai revolusi ini terdapat perbedaan. Eduard Bernstein (1850-1932) berpendapat, bahwa tujuan komunisme dapat tercapai tanpa  harus melalui revolusi, yaitu secara damai melalui jalan parlementer dan atas dasar hak pilih umum (universal frnchise). Aliran baru bernstein ini disebut aliran Revisionis dan dalam perkembangannya sangat mempengaruhi partai-partai sosislis demokrat (democratic socialists) yang dalam abad ke-20 dibeberapa negara seperti Swesia dan Inggris berhasil menguasi pemerintahan melalui jalan parlementer. Yang lebih orthodox dari bernstein dalam menilai teori Marxis ialah Karel Kautsky (1854-1938) sehingga oleh golongan Lenin disebut Marxis murtad.

Dalam negara yang industrialisasinya baru berkembang seperti Rusia, teori Marx justru mendapat perhatian yang besar. Lenin dalam usahanya mengembangkan ideologi komunis membentuk partai revolusioner. Sekalipun anggota juga petani, namun menurut Lenin, kaum proletarlah yang harus mengambil barisan depan dan sekaligus nantinya mengambil kekuasaan revolusioner komunis yang pertama dan membangun semua mesin pemerintah.

Gagasan yang ditemukan Lenin dalam partai komunis, adalah revolusioner profesional dan prinsip-prinsip organisasi, disebut dengan demokratic centralism.

Revolusioner profesional dimaksud, walaupun hanya terdiri dari kelompok kecil namun harus mampu mengembangkan kontrak dengan dengan seluruh masyarakat. Mengingat tak ada revolusi yang berhasil tanpa dukungan masyarakat. Ini berarti setiap anggota harus memiliki bermacam-macam ketrampilan, seperti ahli-ahli agitasi, propaganda, administrasi dan lain-lain. Untuk selanjutnya anggota partai harus mempersiapkan diri guna melancarkan revolusi.

Sedang democratic centralism berfungsi memberikan saluran informasi bagi kepemimpinan dan sebagai alat untuk menyampaikan petunjuk ke seluruh negara serta menjamin bahwa, petunjuk-petunjuk itu diikuti.

Prinsip-prinsip komunis dengan menggunakan organisasi revolusioner juga dilakukan oleh Mao Tse Thung. Teori yang digunakan berupa prinsip-prinsip militer yang tegas dan beberapa prinsip politik yang berasal dari salah satu prinsip militer.

C. FASCISME
Istilah fascisme berasal dari bahasa Itali, fascismo, fasces atau fascio, merupakan simbol kekuasaan pada jaman romawi kuno. Fascis dalam arti sempit adalah sistem kenegaraan dan kemasyarakatan. Sedang dalam arti luas menunjuk semua gerakan dan sistem yang mirip dengan Fascisme.

Dalam proyeksinya sebagai faham, Fascisme adalah paham nasionalisme yang berlebih-lebihan. Negara menjadi tujuan dan diats segala-galanya, sedang individu hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Manakala negara memerlukan, orang wajib rela mengorbankan segalanya.

Dalam sejarahnya fascisme merupakan gerakan politik, muncul di Itali setelah perang dunia pertama dan sempat menguasai negara itu sejak tahun 1922-1943. Di Itali fascisme banyak dikembangkan oleh Benito Mussolini, sedang di Jerman dikembangkan oleh Hitler. Keberadaannya sebagai sangat dipengaruhi oleh pemikiran fichte dan Hegel. Fascisme cenderung menganut moralitas ideal, dimana orang seyogyanya lebih menuntut kebijaksanaan dari pada sekedar memenuhi kesenangan pribadi. Orang harus mementingkan tugas dan kewajiban dari pada hanya menuntut hak semata-mata, sedang pengorbanan diri atas masyarakat harus dilaksanakan atas dasar kepentingan diri sendiri. Sebagaimana ungkapan Hegel, pengorbanan yang diberikan individu kepada negaranya merupakan ikatan subtansional antara negara dan seluruh anggotanya.

Fascisme sebagai suatu gerakan, sebagaimana yang diakui Mussolini, merupakan satu ideologi yang menerima ajaran-ajaran opportunisme Machiavelli, absolutisme politik Hegel, ajaran kekuasaan Sorel dan model-model pragmatisme William James. Dalam pandangan Mussolini, fascisme bukanlah ideologi yang bersifat dogamtis dan kaku, dipadang sebagai ideologi yang luwes dimana ajaran-ajarannya diterima sebagai suatu kenyataan darurat sesuai dengan suasana yang ada dalam masyarakat  dan negara. Hakekat facisme adalah kepercayaan dan instink, bukan akal atau ajaran.

Ciri-Ciri Fascisme :
Irasional, artinya dalam memecahkan permasalahan-permasalahan sosial cenderung menggunakan mitos, appeal yang bersifat emosional dan kebencian. Dengan kata lain menolak penerapan ilmu pengetahuan dan logika yang wajar.
Darwinisme Sosial
Farcis memandang kehidupan sebag

Tidak ada komentar:

Posting Komentar