Jumat, 10 Mei 2019
ISLAM SINTESIS : Latar belakang pemikiran Alm.Lafran Pane
Keluarganya yang nasionalistik dan muslim berkontribusi kuat bagi pemikiran sekaligus dikehidupan seharinya. Kesadaran berjamaah, berorganisasi dan Mendirikan HMI berpijak diantara sintesa " Kesantrian " ( Muslim ) dan " Nasionalisme ". Saat itu nasionalisme sebagai sikap "abangan" dan gaya " Priyayi " dengan " Kesantrian " yang mengkonsentrasikan secara ideologis dalam wadah Himpunan Mahasiswa Islam. Sesederhananya kader HMI diharapkan menjadi Santri-Intelektual dan Intelektual-santri dalam dunia kemehasiswaan indonesia , 05 Februari 1947 ( Organisasi kemahasiswaan tertua ).
Bangkirnya kesadaran mendirikan HMI didukung kecenderungan orang yang terpelajar ( Intelectuellen ) mwnjauhkan diri,bahkan sinis,terhadap kesadaran " santri " ( muslim ). Bayangkan dan kesan santri pada saat itu " kumuh " hidupnya terbelakang dari sudut pandang orang terpelajar apalagi dipergiruan tinggi.
Lafran Pane sendiri adalah mahasiswa sekolah tinggi islam ( STI ) Yogyakarta. Mahasiswa yang umumnya bergaya kebarat-baratan. Pantaslah Lafran Pane engggan berlama-lama berada di Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta ( PMY ) yang bercorak abangan serta perilakunya terbaratkan. PMY juga tidak menampung idenya agar anggota PMY diajarakan tentang agama, sehingga apresiasi islam tidak memiliki ruang di dalamnya.
Ide keislamanya mulai eksis dalam kehidupan HMI saat itu,namun keislaman HMI saat itu, masih diragukan oleh ormas-ormas islam yang mendahuluinya. keislaman yang sintesis ini yang menjadi tersendiri bagi perjuangan HMI sendiri,yang bebas,independen dari pengaruh partai politik islam maupun non islam.
Lafran Pane tidak pernah belajar di Pesantren,kemudian meloncat ke Perguruan Tinggi. Sebab itu , ilmu keislamanya diperoleh melalui perkuliahanya dengan literarur-literatur bahasa belanda dan sedikit inggris pada saat itu. Model pembelajaran saat itu mengikuti perkuliahan dianggap sebagai perjalanan intetelektual sendiri, tetapi api islam tetap menggambarkan " kesantrian " yang tidak pernah padam meski pesantren. Semua itu bukti mumculnya HMI dengan Ladran Pane yang bukan keturunan nasab ( keturunan ) Kyai,Ulama,sehingga keberadaanya masih dipersoalkan baik di HMI maupun Ketokohannya.
Jujur saja kedalaman agama tak sedalam para ulama,karena ia belajar di Perguruan Tinggi ,Namun secara sadar dan sistematis pemahaman islam benar-benar mulai dirumuskan dalam konteks perjuangan bangsa Indonesia. Cita-citanya ingin mewukudkan ulama-intelektual dan intelektual-ulama, Lafran Pane adalah penggagas yang sungguh-sungguh menekuni cita-citanya. Spirit keislaman sangat tinggi dan dapat diamati dari keteguhanya mempertahankan eksistensinya selama Indonesia dalam pergolakan ketidakpastian jalanya Pemerintahan pada masa-masa awal kemerdekaan meski dengan cara mengambil alih kepengurusan PB HMI yang mengalami kevakuman sebelum periode Dahlan Ranuwiharjo. Tindakan itu memilikibmotif kuat agar HMI tetap survive gina tetap berkiprah sebagai wadah perkaderan islam sebagaimana yang dicita-citakanya.
Ketegasan yang kuat dalam pemikiran dan pendirian hidup menjadikan orang sekitar berkesimpulan bahwa beliau " Berkepala Batu " perpaduan yang demikian dipadukan sikap hidup sederhana kerap disalah mengerti sebagai sikap yang tinggi hati. Walau sejatinya pendirian hidupnya yang teguh memegang prinsip tidak meniadakan kegemaranya berdiakusi, sekalipun dalam suasana panas. Setiap ahir diskusi pasti beliau masih dapat melempar tawa dengan lawan bicaranya.
Hariqo sw
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar