Selasa, 30 April 2019

Pribadi Lafran Pane

            Pribadi Lafran Pane

Beliau memiliki ketegasan prinsip hidup. Konsisten dalam berfikir,bertindak sehingga kepribadiannya dikenal kaku.Pendirian hidupnya lurus ,jujur,berani, sehingga tampak independen dalam pergaulan sehari dengan rekan-rekan mahasiswa maupun alumni bahkan penguasa sekalipun.

              Dalam tukar pikiran diberbagai waktu , tak segan-segan beliau memyatakan perbedaan dan penyangkalan terhadap lawan bicara meskipun barberkenalan, Umumnya bagi warha Yogya sikap itu kurang tepat. kuat pendirian ini tercermin dari kesederhanaanya,tidak bepengaruh gaya hidup bdrlebihan mewah atau priyai.

                   Sebagai guru,dosen, Lafran pane juga tidak pandang bulu dalam pergaulan dengan mahasiswa. Nilai juga diberikan adil, meakipun dia anggota Himpunan Mahasiswa Islam, gidal bisa ya tidak lulus.Ia kuga terbuka untuk berkonsultasi mahasiswa dan berbicara segala hal secara blak-blakan.


---Haruqoh Sw---

Senin, 01 April 2019

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN



A.    MANUSIA
Manusia  berasal dari kata manu (sanskerta) mens ( latin )  yang berarti berfikir, berakal budi. secara istilah manusia apat diartikan sebuah konsep atau sebuah  fakta,sebuaah gagasan atau Realitas , sebuah kelompok  atau seorang individu.
menurut  NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhinka,tetapi tunggal. Bhineka karena ia jasmani rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
Jadi manusia merupakan paduan antara makhluk material dan sepiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivitaskan dirinya. Manusia dalam bahasa arab disebut insan , berasal dari kata nisiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar “al-uns” berati jinak. kata insan dipakai untuk menyebut manusia , karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak ( manusia selalu menysuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya).1
Ada yang mengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) an pendapat ini diyakini oleh para filosof. Ada juga yang menyebut manusia sbagaai Animal simbolik, peryataan tersebut didasarkan pada anggapan karenaa manusia menkomunikasaikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut.
Manusia juga sebagai homo faber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja dan menggunakan alat-alat serta menciptanya. Manusia memeang makhluk yang aneh, ia sebagai makhluk alami tetapi disisi lain manusia juga harus menyesuaikan alam sesuai kebutuhannya,Manusia dapat dikatakan  sebagai homo sapiens, manusia memiliki akal budi dan mengungguli  makhluk lain. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens ( makhluk yang senang bermain) manusia dalam bermain memiliki ciri khasnya dalam kebudayaan yang bersifat fun. Permainan dalam sejarahnya juga digunakan untuk memikat dewa-dewa dan bahkan ada sesuatu kebudayaan yang menganggap  permainan sebagai ritus suci.2
1 Musa Asy’arie, Filsafat Islam (Sunnah Nabi dalam Berpikir),LESFI,Yogyakarta: 2002,hlm.6
2 Muhammad Abdul Halim Sani,6 September 2007, Filsafat Manusia,Siapakah Manusia,makalah hlm.2, diakses 2 Mei 2010
Manusia menurut paulo Freire merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah,dan hidup dalam masa kini yang kekal, yang mempunyai  kontaak tidak kritis dengan dunia, yang hanya berada dalam dunia. Manusia dibedakan dengan hewan karena  kemampuanya untuk melakukan refleksi yang menjadikan manusia makhuk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk  menyampaikan hubungan dengan dunia. Tindakan dan kesadaran manusia  bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal, yang menunjukan disini berhubungan dengan yang disana, sekarang berhubunga dengan masa lalu dan berhubungan dengan masa yang akan datang. Manusia meenciptakan sejarah,  juga sebaliknya sejarah menciptakan manusia.3
B.Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata budaya, sedangkan budaya adalah bentuk jamak dari budi-daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta buddayah yaitu bentuk jamak dari kata buddhi berarti budi atau akal.
Berikut pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli :
1.      EB. Taylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.      R. Linton, kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
3.      Koentjaraningrat, mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar hasil karya, cipta dan rasa masyarakat.



3 Muhammad Abdul Halim Sani,6 September 2007, Filsafat Manusia, Siapakah Manusia, makalah hlm.3,diakses 2 Mei 2010
A.    Perwujudan Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai 3 wujud, yaitu :
1.      Wujud abstrak, berupa kompleks gagasan, ide, konsep, dan pikiran manusia, wujud ini disebut sistem budaya tidak bisa dilihat tapi dapat dirasakan, dan berpusat pada gagasan dan pikiran manusia-manusia penganutnya. Contoh : UUD 45, Pancasila, dst.
2.      Wujud kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat konkret, dapat diamati dan diobservasi. Ini disebut sistem sosial yang tidak dapat melepaskan diri dari sistem budaya.
3.      Wujud Fisik, wujud kebudayaan sebagai benda dalam bentuk fisik, konkret, mulai benda diam sampai yang bergerak, wujud fisik kebudayaan dapat dipkai sebagai indikator dari majunya atau canggihnya kebudayaan dari sebuah bangsa.
Contoh : Candi Borobudur atau Prambanan, Keraton Jogja / Surakarta, Pesawat Terbang dan seterusnya. Menunjukkan bangsa kita bangsa Indonesia telah memiliki kebudayaan maju dan peradaban tinggi.

Konsep kebudayaan yang berkembang di kalangan anti antropologi, telah berkembang pula ke berbagai bidang pemikiran, sekalipun sering kita jumpai belum ada konsistensi penggunaannya, terutama dalam pemakaiannya masih terdapat pemahaman yang kurang jelas. Sebagai contoh : Roger M. Keesing dan Goodenough (1957-1961) mengatakan bahwa dalam konteks definisi serta penggunaannya seringkali masih kabur. misalnya dalam membedakan antara “Pola untuk perilaku” dan “Pola dari perilaku”. Kebudayaan sebagai pola untuk perilaku adalah mengacu pada pola kehidupan suatu masyarakat, yaitu berupa berbagai kegiatan atau bentuk “Pengaturan Sosial dan Material”. Dalam pengertian kedua adalah berupa gagasan yang mengacu pada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang menjadi pedoman untuk mengatur tindakan mereka.4



                4  Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta:2000, hlm.56-57
Sementara itu kebudayaan yang merupakan fenomena yang selalu berubah sesuai dengan alam sekitar dan keperluan suatu komunitas berdasarkan pada kerangka pemikiran tersebut, jelaslah bahwa kebudayaan sebagai suatu sistem yang melingkupi kehidupan manusia dan pendukungnya, dan merupakan kaitannya dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya. Karenanya, bagaimanakah mutu suatu lingkungan fisik atau lingkungan sosial itu, pada dasarnya adalah pncerminan kualitas kehidupan sosial masyarakat para pendukung kebudayaan itu.5
B.     Sifat-sifat Kebudayaan
Ada beberapa sifat dari kebudayaan seperti sebagai berikut,
1.      Etnosentis
Kebudayaan ini beranggapan bahwa kebudayaannyalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki orang lain. Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri.
Contoh : kebiasaan memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggan.
2.      Universal
Kebudayaan universal adalah kebudayaan yang mencari jawab atas problematika masyarakat, bukan apologi terhadap kesenian, tidak pula apriori terhadap politisasi massa. Tetapi, lebih pada rasionalitas melihat dan menjangkau ke depan demi perkembangan masyarakat majemuk Indonesia.


5 Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta:2000, hlm.59
Contoh : Sigit dari Indonesia dan James dari Inggris sama-sama memiliki kebudayaan (bersifat universal). Namun, Sigit memiliki pola perilaku untuk menerima sesuatu selalu menggunakan dengan tangan kanan. Sementara James memiliki pola perilaku untuk menerima sesuatu bisa dengan menggunakan tangan kanan atau kiri (ciri khusus kebudayaannya).
3.      Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Contoh : Bangunan rumah di daerah Kota, Jakarta Utara dan Juga Museum Fatahillah Jakarta merupakan wujud akulturasi dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa ketika menjajah Indonesia. Bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam di Amsterdam, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
4.      Adaptif
Kebudayaan adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah keberhasila mekanisme bagi spesis manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah keuntungan selektif yang besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.
Contoh : Adaptasi terhadap budaya luar, karena terjadinya bencana alam masyarakat yang berara pada daerah terebut harus pindah ke daerah lain yang memiliki budaya berbeda.


5.      Dinamis (flexible)
Kebudayaan itu tidak bersifat statis, ia selalu berubah atau bersifat dinamis. Tanpa adanya “gangguan” dari kebudayaan lain atau asing pun dia akan berubah dengan berlalunya waktu. Bila tidak dari luar, akan ada individu-individu dalam kebudayaan itu sendiri yang akan memperkenalkan variasi -variasi baru dalam tingkah-laku yang akhirnya akan menjadi milik bersama dan dikemudian hari akan menjadi bagian dari kebudayaannya. Dapat juga terjadi karena beberapa aspek dalam lingkungan kebudayaan tersebut mengalami perubahan dan pada akhirnya akan membuat kebudayaan tersebut secara lambat laun menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi tersebut.
Contoh : Setiap kebudayaan pasti mengalami perubahan atau perkembangan, walaupun kecil dan sering kali tidak dirasakan oleh anggota-anggotanya. Coba perhatikan corak pakaian pada potret nenek anda ketika masih muda, lalu bandingkan dengan corak pakaian anda saat ini. Tentu keduanya berbeda. Itulah contoh kecil perubahan dalam masyarakat. Umumnya, unsur kebedaan seperti teknologi lebih terbuka terhadap proses perubahan, dibandingkan dengan unsur rohani seperti moral dan agama yang cenderung statis.
6.      Integratif (Integrasi)
Integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu : Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Contoh : Sekelompok yang pergi kesuatu daerah yang budayanya berbeda dengan daerah asalnya maka sekelompok masyarakat tersebut sebagai kebudayaan minoritas yang harus bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Terkait Peran Budaya Lokal Dalam Pembangunan Nasional
Pembangunan melalui kebudayaan menjadi salah satu faktor penting yang harus dilaksanakan untuk kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu ke depannya pemrintah perlu memperhatikan aspek kebudayaan lokal untuk dijadikan landasan kebijakan dalam melaksanakan programnya masing-masing. Di samping itu pula peranan masyarakat dituntut aktif dalam pembangunan kebudayaan karena tanpa partisipasi masyarakat untuk mengembangkan buday lokal, pelaksanaan pembangunan kebudayaan tidak dapat berhasil dengan sukses. Serta dapat menekan budaya asing yang semakin hari semakin menghantui bangsa ini.
C.     Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan
Sejak manusia turun ke muka bumi, mereka terus beradaptasi dengan lingkungan hidupnya dari zaman ke zaman hingga membentuk sebuah budaya masing-masing. Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berdampak pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri dari masyarakatnya yang nampak dari luar, artinya orang aing. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan maka seseorang dapat mengetahui mengapa suatu lingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan menghasilkan kebudayaan yang berlainan pula.
Cara untuk menjelaskan perilaku manusia sebagai perilaku budaya dalam kaidah dengan lingkungannya terlebih lagi perspektif lintas budaya akan mengandung variabel yang saling berkaitan dalam keseluruhan sistem terbuka.
Beberapa variabel yang berkaitan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan diuantaranya :
·         Physical Environment
Menunjuk pada lingkungan alamiah seperti : suhu, curah hujan, iklim wilayah, flora dan fauna.
·         Cultural Social Environment
Meliputi aspek kubudayaan beserta proses sosialisasi seperti norma, adatistiadat, dan nilai-nilai.
·         Environment Orientation and Representation
Mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat  mengenai lingkungan.
·         Enviromental Behavior and Process
Meliputi bagaimana masyarakat  menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial.
·         Out Carrier Product
Meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas, kota beserta usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik seperti budaya pertanian dan iklim.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berdampak pada pola tata laku, norma, nilai dan aspek kehidupan lainnya yang akan menjadi ciri khas masyarakat itu sendiri.

B.     Saran
Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan  ukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.
Maka dari itu, manusia yang berbudaya sebagaimana hakikat kita sebagai manusia.



DAFTAR PUSTAKA

·         Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Prespektif Antarapologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta            : 200. Hal.59
·         Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Prespektif Antarapologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta            : 2000. Hal.56-57
·         Ismawati Esti, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Penerbit ombak, Yogyakarta : 2012. Hal 4-6
·         Musa Asy’ari, sunnah nabi dalam berfikir, Lembaga Studi Filsafat Islam,, Yogyakarta:2002.
·         Abul Halim Sani Muhammad, filsafat manusia,  Siapakah Manusia? 6September 2007, makalah
·         Abdul Halim Sani Muhammad, filsafat manusia Siapakah Manusia? 2Mei 2010, makalah

PEMBERDAYAAN EKONOMI KREATIF


1.     
a.       Pengertian
Istilah pemberdayaan (empowerment), menurut Ginanjar Kartasasmita pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya (masyarakat) dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan akan potensi serta berupaya untuk mengembangkan.[1]Sedangkan menurut Wuraji yang dikutip oleh Azis pemberdayaan adalah sebuah proses penyadaranmasyarakat yang dilakukan secara transformative, partisipatif dan berkesinambungan melalui peningkatan kemampuan dalam menangani berbagai persoalan dasar yang dihadapi dan meningkatkan kondisi hidup sesuai dengan harapan.[2]
Dengan kata lainpemeberdayaan merupakan sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah srangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami kemiskinan. Sedangkan sebagai tujuan, maka pemberdayaan menujuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial.[3]
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan melalui serangkaian kegiatan, untuk memperkuat keberdayaan kelompok lemah yang terdapat di masyarakat agar dapat mencapai kehidupan yang lebih baik.
b.      Ekonomi Masyarakat
Dalam konteks permasalahan sederhana, ekonomi rakyat merupakan strategi” bertahan hidup” yang dikembangkan oleh penduduk masyarakat miskin, baik di kota maupun di desa.[4] Meningkatkan kesejahteraan, ekonomi dapat diartikan sebagai upaya dalam mengelola rumah tangga. Tujuannya adalah untuk memnuhi kebutuhan hidup melalui tiga kegiatan utama yaitu: produksi, distribusi, dan konsumsi. Pemenuhan hidup dengan kendala terbatasnya sumber daya, erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan.[5]
Produksi, distribusi dan konsumsi, merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus dan sering disebut sebagai proses yang berkesinambungan, proses ini berjalan secara alamiah sejalan dengan perkembangan masyarakat dibidang sosial, ekonomi, budaya dan politik. Secara ekonomi, proses alamiah yaitu bahwa yang menghasilakan (produksi) harus menikmati (konsumsi), dan sebaliknya yang menikmati harus yang menghasilkan.
Dengan demikian pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat yang dengan secara swadaya mengelola sumber daya apapun yang dapat dikuasainya, dan ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan keluarganya.[6] Upaya pembangunan ekonomi masyarakat mengarah pada perubahan struktur yaitu memperkuat kedudukan dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional.
2.      Tujuan pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai tujuan maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebuah proses.[7]  
3.      Proses Pemberdayaan Masyarakat
Sebagai suatu proses, pemberdayaan merupakan proses yang berkesinamabungan sepanjang hidup seseorang (on going) dan sepanjang komunitas itu masih ingin melakukan perubahan dan perbaikan, dan tidak  hanya terpaku pada suatu program saja. Sebaga suatu program, pemberdayaan dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya.[8]
Tahapan pemberdayaan merupakan salah satu langkah dimana lembaga melakukan kegiatan pemberdayaan terhadap komunitas atau masyarakat disekitarnya. Tahapan pemberdayaan masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Nana Mintarti yaitu:
a.       Penyadaran
b.      Pengorganisasian
c.       Kaderisasi
d.      Dukungan Teknis
e.       Pengelolaan sistem
Tahapan pemberdayaan ini akan berjalan dengan baik bila adanya dukungan dari pihak-pihak internal dan eksternal seperti dukungan dari para anggota bang sampah, masyarakat disekitar desa Kemplong, pihak RT/RW, pihak kelurahan hingga pemerinta kabupaten pekalongan, karena untuk menciptakan masyarakat yang terberdaya membutuhkan dukungan dari semua pihak.
4.      Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Upaya pemberdayaan masyarakat merupakan tuntutan utama pembangunan, ini terkait dengan teori sumber daya manusi yang memandang mutu penduduk sebagai kunci utama pembangunan.[9]
Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan (empowerment setting): mikro, mezzo dan makro.
a.       Aras Mikro
Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan, konseling, strees management crisis intervension. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada tugas.
Pemberdayaan pada aras mikro ini lebih kepada membimbing dan melatih masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas kehidupan. Dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan daur ulang sampah plastik di bank sampah ini bertujuan untuk membimbing dan melatih masyarakat agar dapat melakukan tugas-tugas daur ulang secara mandiri.
b.      Aras Mezzo
Pemberdayaan dilakukan terhadap kelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunkan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.  
c.       Aras Makro
Pendekatan ini disebut juga sebagai strategi sistem besar, karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye
           




[1] Ginanjar Kartasasmita, Pembangunan untuk rakyat: Memadukan pertumbuhan dan pemerataan, (Jakarta: PT. Pustaka Cidesindo, 1996), hlm. 145.
[2] Azis Muslim, Metodologi pengembangan masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 3
[3] Ibid, hlm 59-60
[4] Mubyarto, Ekonomi rakyat dan program IDT, (Yogyakarta: Aditya Media, 1996), hlm. 4
[5] Gunawan Sumodiningrat, “Membangun perekonomian rakyat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 24
[6] Op Cit. Hlm. 1
[7] Salam syamsir dan Fadhilah amir, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta: Lembaga penelitian UIN Syarif Hidayatullah), hlm.233
[8] Isbandi Rukmito Adi, Pemikiran-pemikiran dalam pembangunan kesejahteraan sosial, (Jakarta: Lembaga Penernit FE-UI, 2002), HLM. 171-172
[9] Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan rakyat, (Bandung: PT Refika Aditama), hlm. 66