INTERNALISASI NILAI-NILAI
DASAR PERJUANGAN (NDP) DALAM MEWUJUDKAN
MASYARAKAT LIBERATIF
A. ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
Menurut Syari’ati, para Nabi Ibrahimiyah
yang ia bedakakan dari nabi-nabi non-Ibrahimiyah seperti Confusius, Budha,
Zarathustra—adalah pelanjut-pelanjut perjuangan Habil. Nabi Ibrahim berdiri menghujah Nabi Namrud. Nabi Musa membela Bani Israil yang lemah melawan Fir’aun yang perkasa. Nabi
Isa datang menggembirakan kaum fuqara dan
melecehkan Kaisar.
Nabi Muhammad saw. Duduk di samping orang miskin dan budak belian, lalu
membimbing mereka ke arah kebebasan. Para nabi, menurut Syari’ati, adalah
orang-orang yang lahir dari tengah-tengah massa (ummi), lalu memperoleh tingkat
kesadaran (hikmah) yang sanggup “mengubah satu masyarakat yang korup dan beku
menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan
peradaban, kebudayaan dan pahlawan”. Para nabi datang bukan hanya sekedar
mengajarkan zikir dan doa. Mereka datang dengan satu ideologi pembebasan.[1]
Jika Musa menjadi pembebas bagi
bangsa Israel yang tertindas, maka Muhammad adalah pembebas bagi seluruh umat
manusia dengan cara membebaskan golongan masyarakat lemah.[2] Nabi
Muhammad adalah nabi yang membawa risalah dan mendapat pengajaran langsung dari
Tuhan untuk membimbing
umat pada kesempurnaan moral dan etika, menyatukan semua perbedaan dalam wadah
islam. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif
yang menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas di dalam maupun di
luar Arab. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal
brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (social justice).[3] Ditegaskan di dalam ayat
Al-Qur’an,” Hai manusia! Kami
ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia
diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah
maha mengetahui.”[4]
Islam membunuh perbedaan karena kasta
dan kelas begitu sempurna, sehinga orang-orang budak belian telah di jadikan
komandan dari bala tentara Islam dan memerintah diatas orang-orang dari
asal-turunan yang tinggi dan tinggi pula derajatnya. Hingga pada dewasa ini di
tanah Arab berlaku persamaan yang sempurna antara orang dengan orang, anatara
seorang penuntun onta dengan seorang saudagar kaya, makan, minum, dan hidup
bersama-sama dengan tidak ada perbedaannya.[5]
Al qur’an dengan jelas dan tegas tanpa
ragu-ragu berdiri di pihak golongan masyarakat lemah dalam menghadapi para
penindas. Al-Qur’an menyesalkan, bahkan menegur orang-orang yang tidak mau menolong mereka yang teraniaya.
Peringatan itu berbunyi, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan
membela orang-orang yang tertindas, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang
berkata, “Tuhan kami! Keluarkan kami dari kota ini yang penduduknya berbuat
zalim. Berilah kami perlindungan dan pertolongan dari-Mu!”[6]
Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an
yang secara keras mengecam penindasan dan ketidakadilan. Dalam sunnah di
katakan bahwa Nabi menempatkan kekafiran itu lebih rendah satu tingkat dibawah
penindasan dan ketidakadilan. Dalam hadits itu di sebutkan bahwa sebuah negara
dapat bertahan dengan kekafiran, namun tidak dengan penindasan (zulm). Al-
Qur’an juga dengan tegas mengecam penumpukan harta kekayaan dan sifat sombong.
Dikatakan, “Celakalah orang yang menyebarkan fitnah dan mengumpat, yang
mengumpulkan kekayaan dan menimbunnya,yang mengira kekayaannya akan
mengekalkannya. Sama sekali tidak! Ia akan di lemparkan ke dalam Huthamah.
Apakah Huthamah itu? Ialah api Allah yang dinyalakan, yang merasuk ke dalam
hati, menutupi mereka seperti Kubah
dengan tiang-tiang yang menjulang.”[7] Kemudian
Al-Qur’an menyebutkan ,”Dalam harta kekayaannya terdapat hak peminta-minta dan
orang yang hidup berkekurangan”.[8] Ayat
ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa kepemilikan tidak bersifat absolut,
namun harus di bagi-bagi kepada golongan masyarakat lemah. Kepemilikan tidak
bersifat mutlak, namun harus di bagi secara adil kepada orang-orang yang
membutuhkan dan menderita.
Dalam pandangan Islam, tujuan hidup
perorangan adalah mencari kebahagiaan dunia dan akhirat yang di capai melalui
kerangka peribadatan kepada Allah Swt. Terkenal dalam hal ini firman Allah
melalui kitab suci Al- Qur’an “ Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali
menyembah kepadaku.”[9]
Dengan adanya kontek ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan tuhan, dan
demikian ia tidak berbuat dengan sesuka hati. Karena itulah, akan ada kendali
atas perilakunya selama hidup, dalam hal ini adalah pencarian kebaikan akan
akhirat (pahala), dan mencegah sesuatu yang secara moral dinilai buruk atau
baik di dunia. Karena itulah doa seorang muslim yang paling tepat adalah “
Wahai Tuhan, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”.[10] Yang
digambarkan diatas adalah kerangka mikro bagi kehidupan seorang muslim di dunia
dan akhirat. Hal ini adalah sesuatu yang pokok dalam kehidupan seorang manusia,
yang disimpulkan dari keyakinan akan adanya Allah dan bahwa Nabi Muhammad Saw
adalah utusan-Nya. Tanpa kedua hal pokok itu sebagai keyakinan, secara teknis
dia bukanlah seorang muslim. Karena manusia adalah bagian dari sebuah
masyarakat, maka secara makro ia adalah makhluk sosial yang tidak berdiri
sendiri. Terkenal dalam hal ini ungkapan: “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada
kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan”.[11]
B. ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS
Mungkin modernitas memang suatu
keharusan sejarah. Tetapi suatu “keharusan” tidak dengan sendirinya bernilai
positif. Problema yang secara mendalam diprihatinkan oleh Michael Harirington,
tokoh yang disebut-sebut sebagai salah seorang “aktor intelektualis” di
belakang pemerintahan mendiang Presiden John F. Kennedy di Amerika Serikat,
adalah problema yang sampai sejauh ini nampak selalu menyertai modernitas.
Yaitu problema kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Seperti yang
tersirat dalam buku Harrington, The Other
America, setiap wajah cerah masyarakat modern menyembunyikan di balik
dirinya wajah yang suram,yaitu kemiskinan yang menyayat hati. [12] Kaum
modernis sesungguhnya memilki pendekatan dan analisis yang sama dengan penganut
paham modernisasi sekuler yang menjadi aliran mainstream dalam ilmu sosial dan yang dianut oleh aparatur devolepmentalism. Bagi mereka,
kemiskinan terjadi pada bangsa Indonesia karena mereka tidak mampu
berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan dan globalisasi.[13]
Gejala modernisasi yang lain ialah
dehumanisasi. Dalam kesenian, gejala ini tampak sejak abad ke- 19 dengan seni
abstrak yang tidak lagi peduli dengan anatomi, perspektif, dan cahaya. Demikian
pula, secara sosiologis gejalanya dapat kita lihat dalam industrialisasi abad
ke-19. Manusia hanya bagian dari mesin.[14] Seperti yang tertulis
dalam buku Kuntowijoyo, Paradigma Islam
Interpretasi Untuk Aksi, Di dalam masyarakat yang kapitalistik, manusia
hanya menjadi elemen pasar. Dalam masyarakat
seperti itu, kulitas kerja manusia dan bahkan kualitas kemanusiaan sendiri di
tentukan oleh pasar. Dalam masyarakat kapitalis, dengan demikian, manusia hanya
menjadi bulan-bulanan kekuatan pasar. Malapetaka kemanusiaan dalam sistem
kapitalistik ini ternyata tak lebih ringan dari malapetaka yang di hadapi
manusia dalam sistem komunis. Dalam masyarakat komunis, manusia tidak menjadi
elemen pasar, tapi menjadi elemen birokrasi. Demikianlah, di dalam kedua sistem
sosial masyarakat modern itu, fungsi manusia turun sekedar menjadi elemen.[15] Lantas dari pemaparan
singkat diatas, bagaimana Islam dalam menjawab tantangan modernitas ?
Sesungguhnya misi Islam yang paling
besar adalah pembebasan. Dalam konteks dunia modern, ini brarti Islam harus
membebaskan manusia dari kungkungan aliran pkiran dan filsafat yang menganggap
manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan hidup dalam absurditas. Tapi karena
dunia modern juga telah menciptakan sistem-sistem yang membelenggu manusia,
baik itu berupa sisem-sistem produksi teknologi modern, sistem-sistem sosial
dan ekonomi, maupun sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak dapat
mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia, maka Islam
sekali lagi harus melakukan revolusi untuk merombak semua itu, suatu revolusi
untuk pembebasan.[16] Setidaknya ada beberapa
agenda Islam kedepan agar relevan dengan kondisi umat Islam hari ini seperti
yang dituliskan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya, Muslim Tanpa Masjid, Kita harus tahu dengan pekerjaan rumah kita.
Setidaknya ada tiga hal yang harus kita kerjakan, perubahan sistem pengetahuan, supaya Islam jadi Rahmatan lil ‘alamin, mobilitas sosial, supaya umat Islam
menjadi pelopor, dan mobilitas budaya,
supaya umat dapat menampilkan Islam sebagai masa depan.[17]
C. SEJARAH SINGKAT NDP
Saya
ingin bercerita sedikit. Mungkin ada gynanya walaupun cerita ringan saja.yaitu
bagaimana NDP itu lahir. Ahmad
Wahib dalam bukunya
pergolakan pemikiran islam yang sangat kontroversi al itu dalam bukunya itu
menuias bahwa saya dalam tahun1968 diundang
untuk mengunjungi Universitas-universitas di Amerika yang waktu itu merupakan
pusat kegiatan mahasiswa . Dan kepergian saya ke Amerika itu mengubah banyak
sekali pendirian saya ,begitu kata Ahmad Wahib
dalam buku itu ,maaf saja,tidak benar. Jadi Ahmad Wahib disini
salah. Memang
perlewatan ke Amerika itu banyak mempengaruhi saya ,melainkan justru di Timur
Tengah.
Begini ceritannya,waktu itu terus terang saja sebetulnya
Pemerintah sudah lama melihat potensi HMI disini.(tentu saja pemerintah
Amerika seperti yang diwakili oleh
kedaulatan Amerika disini. Mereka
sudah tahu situasi politik indonsia pada zaman orde lama,ketika Bung Karno mempermainkan
ataupun betulnya boleh saja dikatakan
melakukan devide et impera ,antara komunis dan ABRI terutama AD. Bagaimana AD itu sangat banyak bekerja .ini banyak
dibaca oleh Pemerintah seperti Amerika. Dan Karena itu sekali pendekatan-pendekatan
dari orang-orang kedutaan Amerika itu ke PB HMI sebetulnya sudah lama mereka
menginginkan mereka menginginkan supaya
ada tokoh-tokoh HMI yang melihat ke Amerika,tetapi memang waktu itu
belum banyak yang bias Berbahasa inggris,Sehingga saya menjadi orang kesempatan
pertama.
Kunjungan
saya ke Amerika,sesuai dengan undangan,hanya berlangsung 1 bulan seminggu atau
1 bulan 2 minggu.sistemnya semua dijamin ;ada uang harian,uang perdien. waktu
itu dolar belum inflasi;sehingga uang yang saya peroleh cukup besar ,dan saya tentu bisa menghemat . Uang inilah
yang saya gunakan untuk keliling Timur Tengah saya lakukan itu,secara sederhana
. Kita di Indonesia selama ini selalu mengaku muslim dan mengklaim diri sebagai
pejuang-pejuang islam.untuk terlaksananya ajaran islam,sekarang perlu melihat
sendiri bagaimana wujud islam dalam praktik. Begitulah motif saya pergi ke
Timur Tengah.meski kita tahu, Indonesia memang negara muslim yang terbesar di
Bumi,secra geografis paling jauh dari pusat-pusat islam,yaitu Timur
Tengah,sehingga menghasilkan beberapa hal,misalnya muslaim Indonesia itu adalah
termasuk yang paling sedikit.terarabkan”Arab” kan.
Barangkali
kita tidak menyadari banyak keunikan kita ,sebagai bangsa Indonesia. Boleh
dikatakan inilah bangsa Asia satu-satunya yang menuliskan yang Bahasa
nasionalnya dengan huruf latin.semua bangsa Asia menggunaan huruf nasional masing-masing.Hanya kita yang
menggunakan huruf latin Filipina memang,tetepi Filipina belum biasa mengklaim
mempunyai Bahasa nasional.Bahasa tagalog masih merupakan Bahasa Manila saja.
, Kemudian
bangsa Indonesia bangsa muslim juga menggunakan huruf latin untuk bangsa
nasionalnya.semua bangsa muslim itu menggunakan huruf arab,kecuali 3:Turki
disebabkan revolusi Kemal,Bangladesh Karena seperti bangsa lain mempunyai huruf
sendiri yaitu huruf pengali dan Indonesia di karenakan penjajahan.Jadi kita itu
unik.Dri sudat pandangan dunia islam indonsia unik.Inilah bangsa muslim yang
kurang tahu huruf arab kira-kira begitu jangankan orang islam Pakistan,Afganistan
dan sebagainnya,sedangkan orang India yang islamnya minoritas ,Disanapun mereka
menggunakan huruf arab untuk menuliskan Bahasa urdu, Bahasa mereka. Semuanya
begitu Darisitu saja boleh ambil satu kesimpulan bahwa keislaman di Indonesia
itu masih demikaian dangkal sehingga masih ada persoalan yaitu bagaimana
menghayati nilai-nilai islam itu . Itulah yang mendorong saya pergi ke Timur
Tengah .
Waktu
saya hendak ke Amerika ,saya merasa ogah-ogahan.akan tetapi biarlah barangkali
dari Amerika saya bisa ke Timur Tengah. Oleh Karena itu di Amerika sudah kontak
dengan orang-orang dari Timur
Tengah,yang kelak ketika saya ke Timur tengah memang banyak sekkali menolong
saya.kunjungan saya ke Timur Tengah saya mulai dari Istanbul , kemudian ke
Lebanon.wakt itu tentu saja libanon masih aman.lalu ke syiria ,kemudian Irak
sehingga baru pertama kalinya saya bertemu
Abdurahman Wahid.Diayang menyambut. Kerena terus terang ,walaupun
sama-sama dari jombang, Saya belum pernah kenal. kaerena keluarga saya masyumi,keluarga dia NU bertemu
di Bagdad .Dia baik sekali mengorganisir teman-teman indonsia untuk mengambil
dan menemani saya ke Stasiun bus dari Damaskus. Lalu saya ke Kwait,dari Kwait
ke Saudi Arabia melalui Timur banyak sekali kenangan di situ ketika dilihat
saya bertemu seorang ynang pernah saya kenal di Amerika,dr.Frid mustofa seorang
tokoh doctor enjenering itulah satu-satunya menjadi tamu keluarga arab disini
kaluar makan siang dan malam semua warga ikut termasuk istri. Biasanya orang
arab tidak demikian saya tinggal 1 minggu disitu dan berkenalan dengan banyak
pelarian iwanul muslimin.kita mengetahui ihwanul muslimin umumnya beranggotakan
orang-orang Mesir dan orang Syiria. Mereka dikejar-kejar oleh rezim yang ada di
negara masing-masing dan kebanyakan larinya ke Saudi Arabia bukan untuk
mendapatkan kebebasan politik Karena di Saudi Arabia sendiri mereka tidak
mendapatkan kebabasan politik. Karena orang-orang Saudi juga tidak suka
terhadap sikap politik mereka akan tetapi dari segi ilmu pengetahuan mereka
banyak sekali dihargai. Mereka kemudian menjadi staf pengajar di Universitas.
Sejak dari istanbu saya banyak sekali mengadakan diskusi kritis tentu saya
tidak mau hanya mendengarkan saja tapi juga membantah,menanyakan dan menantang,
termasuk menentang dari segi Literatur.Di Turki sampai berkenalan dengan satu
gerakan yang betul di bawah tanah,yang di Istanbul mereka untuk membangkitkan
islam ,tetapai dengan cara-cara yang menurut sebagian kita agak kedengaran
sedikit kolot.Yaitu mealui jalan Sufisme atau gerakan-gerakan tarekat.
Suatu malam
dr.Lustafa mengajak saya ke Universitas Riyad ;ke Fakultas farmasi dan akan
mengadakan wisuda tamatan fakultas farmasi.,dimana mentri Pendidikan
hadir,yaitu Syekh Hasan bin Abdulllah keturunan Muhammad bin Abdul Wahab
seorang pelopor di arabia yang anak
turunnya selalu menjadi mentri bidang
pengetahuan seperti Menteri pendidkan,mentri pengetahuan dan sebagainya di
Arabia.tidak tahu yang terjadi ,
Saya
tidak tahu apa yang terjadi ,pokoknya dr.Mustofa mengenalkan saya secara
berbisik-bisik kepada mentri kepada mentri itu,lalu Menteri itu meminta supaya
saya menceritakan gerakan mahasiswa
islam di Indonesia.Setelah saya ceritakan ,tentu saja dengan Bahasa arab
.Alhamdulillah saya sedikit tahu Bahasa arab Karena belajar di Gontor,sebuah proyek gabungan antara system Pendidikan
Sumatera . Barat (Kmi nya) an jawa pesantrennya yang saya kira menjadi proyek
yang suksees sampai sekarang berkembang dimana-mana. Menteri itu demikian
senangnya dengan keterangan kita .lalu mengundang 10 orang kita ,HMI.
Untuk melakuakan haji itu juga
,selanjutnya dari Riyad saya ke Madinah dan ke Mekah ,kemudian ke khurtum untuk
bertemu dengan Dr,Hasan Turabi dari Umin darma turabi Universitas ,Tokoh
yang menjadi pusat parhatian ke Sudan oleh Karena itu kondep dan islamisasi nya
numeiry yang sekarang jatuh sekarang digulingkan . Dari situ saya pergi ke
Mesir ,kemudian kembali ke Libanon dan .dari situ ke Pakistan.
Pokoknya
dari semua itu saya akan mengadakan diskusi macam-macam. Dan konklusinya begini
: saya kecewa dengan tingkat intelektualitas kalangan di timur tengah saat itu. Sehingga saya ingat Buya Hamka
,ketika suatu saat minta izin kepada K.H
Agus Salim untuk pergi ke Timur tengah ,belajar. Jawab K.H Agus Salim yang
dimuat dalam gema islam dahulu dan sebagainya ,”Malik,kalua kamu mau pergi ke
Mekah dan timur tengah ,barangkali kamu fasih dalam berbahasa arab,yang pasti
kamu akan jadi lebai ,kalua pulang. Tetapi sebaliknya kalua ingin mengetahui islam secara
intelek,lebih baik disini. Belajar sama saya dan saya sepakat dengan K.H Agus
salim.
Padahal
saat ini,kita sudah ergumul dengan Marxisme ,dengan macam-macam
disini.Indonesia adala tempat pergumulan ideologi yang paling seru dalam orde
lamadan kita survive.,kita sudah berdialog orang-orang komunis di forum
mereka.bukan forum kta .oleh Karena itu
lebih banyak berlatih dengan orang-orang yang saya temuidi negara-negara Timur
tengah berkenaan dengan cara melihat apa yang relevan dalami islam yang harus
kita pelajari.Sampai-sampai waktu dengan Dr.Mahmud Syahwi namanya salah satu
nama ihwanul muslim,ketika saya merasa jengkel
dengan kekecewaaan saya.Saya hilang begitu saja dari pada anda kuliahi
macam-macam yang tidak masuk akal saya.lebih baik anda kasih saya bacaan yang
Menur ut anda penting dan kalua saya membacanya saya mendapat jawaban “lalau
saya di beri judul majmu rasail hasan al bana”,kumpulam risalah-risalah
al bana ,yang waktu itu adalah buku terlarang di Saudi arabia . Buku itu
diberikan kepada saya ,sambal mewanti-wanti “jangan sampai ketahuan orang
Saudi.,Karena kalua ketahuan ,saudara akan menglami kesulitan ,ditahan dan
sebagainya.”akan tetapi saya senang sekali menerima dan membaca buku itu.
Waktu di Mekah saya menggunakan waktu paling banyak
dua minggu,saya baca semuanya . Akan tetapi maaf saja ,saya mendapatkan
kelebihan dari orang arab itu. Ya ,dengan kekaguman saya kepada Hasan al bana
,tetapi saya harus tidak setuju dengan isinya. Slogan-slogan loyalistik
kebanyakan .jadi isinya slogan-slogan loyalistik bukan permasalahan,oleh Karena
itu saya tidak merasa sesuai dengan buku itu. Kemudian saya di Mekah
mengatamkanL Quran dalam terjemahan bahsa inggris untuk pengecekan . kemudian
setelah melakukan berbagai diskusi tadi ,saya melihat beberapa hal yang releven
bagi kita .sampai sekarang Al Quran itu coreti
dengan komentar saya.
Kemudian saya ke Sudan dan pulang.dan ketika mendengar janji mentri
Pendidikan Saudi arabia untuk naik hajji itu saya diingatkan oleh Dr.Mustafa,orang di ibu kota riyad itu “ini
janji arab”katanya:oleh Karena itu”anda harus rajin menagih “.jadi,ketika
sampai di mekah saya mengirimkan surat
.saya sampai di Mdinah ,juga begitu.dan Alhamdulilah terealisasi.Akhir janiari
1969 saya ke Indonesia untuk sibuk memenemalisir janji dari Menteri Pendidikan
Saudi itu untuk naik haji yang waktu itu
jatuh bulanmaret .Berarti ada waktu satu bilan , Jadi habislah wktu saya
untuk menyiapakan teman-teman naik haji.Sampai disana teman-teman ikyt sakit
kerena tidak cocok an dengan makanan kecuali saya .Kebetulan saya sudah
terbiasa dengan makanan disana .Sampai zaitun yang di bilang Al Quran saya makan ,Karena perlu diketahui walaupun
buah itu tidak enak da nagak pahit yang belum terbiasa ,tetapi
gizinya tinggi sekali dan dapat
menghilangkan rasa mual dan sebagainya .dan saya mendapat service di kedutaan
San Francisco,sang seorang novelis terkenal di Amerika ,bernama john
ball,yang salah satu bukunya di filmkan
dan mendapat hadiah besar.dia
mengatakan begin”saudara harus tahu ,berkat zaitun inilah yunaniitu berfilsafat
Karena zaitun itu di tanamka tahan lamasekali dan tetap berbuah “.Pohon itu
bias ribuan tahun bertahan ,dengan gizi yang sangat tniggi ,sehingga orang
Yunani itu boleh dikatakan tidak lagi
memeikirkan maalah sumber gizi yang tinggi cukuop menanam zaitun saja dan
zampaii sekarang merupakan komoditi yang sangat penting negara-negara timur tengah.
Setelah pulang dari
haji ,saya ingin menulis tentang sesuatu nilai-nilai dasar islam.seluruh saya
ingin untuk bikin NDP saya curahkan bulan april,jadi NDP itu merupakan
kesimpulan perjalanan dari timur tengah selama tiga bulan .jadi sama sekali
salah kalua Ahmad Wahib mengatakan itu pengaruh kunjungan saya di , Amerika
,begitulah singkatnya cerita .Namun sama saja NDP .Tentu saja bahannya
macam-macam,saya ingin mengatakan kenapa namanya NDP akan tetapi setelah saya
piker kalau dinamakan nilai-nilai dasar
islam ,maka klaim kita akan selalu membesar,kita terlalu mengklaim. Oleh Karena
Itu disesuaikan aktivitas kita sebagai mahasiswa Lalu saya mendapat ilham dari
berbagai sumber ,pertama willy iecer,seorang ideologi partai democrat dari
jerman ,,the fundamental values and demand democratic sosia, , lisme .Nilai-nilai
dasar dan tuntutan-tuntutan asasi sosialisme nah”ini ada nili-nilai dasar”
dan”perjuangan dari mana?dari syahrir
karya ideologi sosialisme Indonesia termuat dalam perjuangan bangsa kita.Dan
syarir juga tidak orisinal ,dia terlalu menirudari hitler mein kemf jadilah NDP(nilai-nilai dasar perjuangan .
Kemudian saya bawa ke malang ke kongres 9 mei 1969,tetapi disana agak
sulit dibicarakan persoalannya demikian
luas tidak mungkin suatu kongres membicarakannya lalu diserahkan kepada kami bertiga:saudara
Endang saifudin, anshari,sakib mahmud dan saya ,nah,itulah lahir dari NDP yang namanya diubah oleh kongres 16 HMI menjadi NIK
(nilai identitas kader). Dan inti dari NDP adalah iman,ilmu dana mal.[18]
Dari seluruh uraian yang telah lalu dapatlah diambil kesimpulan
secara garis besar sbb:
1.
Hidup yang benar dimulai dengan percaya atau iman kepada Tuhan.
Tuhan YME dan keinginan mendekat serta kecintaan kepada-Nya, yaitu takwa. Iman
dan takwa bukanlah nilai yang statis dan abstrak. Nilai-nilai itu mamancar
dengan sendirinya dalam bentuk kerja nyata bagi kemanusiaan dan amal saleh.
Iman tidak memberi arti apa-apa bagi manusia jika tidak disertai dengan
usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan yang sungguh-sungguh untuk menegakkan
perikehidupan yang benar dalam peradaban dan berbudaya.
2.
Iman dan takwa dipelihara dan diperkuat dengan melakukan ibadah
atau pengabdian formil kepada Tuhan. Ibadah mendidik individu agar tetap ingat
dan taat kepada Tuhan dan berpegang tuguh kepada kebenaran sebagai mana
dikehendaki oleh hati nurani yang hanif. Segala sesuatu yang menyangkut bentuk
dan cara beribadah menjadi wewenang penuh dari pada agama tanpa adanya hak
manusia untuk mencampurinya. Ibadat yang terus menerus kepada Tuhan menyadarkan
manusia akan kedudukannya di tengah alam dan masyarakat dan sesamanya. Ia tidak
melebihkan diri sehingga mengarah kepada kedudukan Tuhan dengan merugikan
kemanusiaan orang lain, dan tidak mengurangi kehormatan dirinya sebagai mahluk
tertinggi dengan akibat perbudakan diri kepada alam maupun orang lain Dengan
ibadah manusia dididik untuk memilki kemerdekaannya, kemanusiaannya dan dirinya
sendiri, sebab ia telah berbuat ikhlas, yaitu pemurniaan pengabdian kepada
Kebenaran semata.
3.
Kerja kemanusiaan atau amal saleh mengambil bentuknya yang utama
dalam usaha yanag sungguh - sungguh secara essensial menyangkut kepentingan
manusia secara keseluruhan, baik dalam ukuran ruang maupun waktu. Yaitu
menegakkan keadilan dalam masyarakat sehingga setiap orang memperoleh harga
diri dan martabatnya sebagai manusia. Hal itu berarti usaha - usaha yang terus
menerus harus dilakukan guna mengarahkan masyarakat kepada nilai - nilai yang
baik, lebih maju dan lebih insani usaha itu ialah "amar ma'ruf”, disamping
usaha lain untuk mencegah segala bentuk kejahatan dan kemerosotan nilai - nilai
kemanusiaan atau nahi mungkar. Selanjutnya bentuk kerja kemanusiaan yang lebih
nyata ialah pembelaan kaum lemah, kaum tertindas dan kaum miskin pada umumnya
serta usaha - usaha kearah penungkatan nasib dan taraf hidup mereka yang wajar dan
layak sebagai manusia
4.
Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang besar kepada kemanusiaan
melahirkan jihad, yaitu sikap berjuang. Berjuang itu dilakukan dan ditanggung
bersama oleh manusia dalam bentuk gotong royong atas dasar kemanusiaan dan
kecintaan kepada Tuhan. Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan menuntut
ketabahan, kesabaran, dan pengorbanan. Dan dengan jalan itulah kebahagiaan
dapat diwujudkan dalam masyarakat manusia. Oleh sebab itu persyaratan bagi
berhasilnya perjuangan adalah adanya barisan yang merupakan bangunan yang kokoh
kuat. Mereka terikat satu sama lain oleh persaudaraan dan solidaritas yang
tinggi dan oleh sikap yang tegas kepada musuh - musuh dari kemanusiaan. Tetapi
justru demi kemanusiaan mereka adalah manusia yang toleran. Sekalipun mengikuti
jalan yang benar, mereka tidak memaksakan kepada orang lain atau golongan lain.
5.
Kerja kemanusiaan atau amal saleh itu merupakan proses perkembangan
yang permanen. Perjuang kemanusiaan berusaha mengarah kepada yang lebih baik,
lebih benar. Oleh sebab itu, manusia harus mengetahui arah yang benar dari pada
perkembangan peradaban disegala bidang. Dengan perkataan lain, manusia harus
mendalami dan selalu mempergunakan ilmu pengetahuan. Kerja manusia dan kerja
kemanusiaan tanpa ilmu tidak akan mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu tanpa
rasa kemanusiaan tidak akan membawa kebahagiaan bahkan mengahancurkan
peradaban. Ilmu pengetahuan adalah karunia Tuhan yang besar artinya bagi
manusia. Mendalami ilmu pengetahun harus didasari oleh sikap terbuka. Mampu
mengungkapkan perkembangan pemikiran tentang kehidupan berperadaban dan
berbudaya. Kemudian mengambil dan mengamalkan diantaranya yang terbaik.[19]
D. NDP DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT LIBERATIF
Pemikiran liberal (liberalisme)
adalah satu nama di antara nama-nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang
berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya
Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti
“bebas dari batasan” (free from restraint), karena liberalisme menawarkan
konsep kehidupan yang bebas dari pengawasan gereja dan raja.[20]
NDP HMI itu mengandung muatan-muatan yang sangat substansial,
tentang keTuhanan dan kemanusiaan. Sebagaimana yang telah dirumuskan Cak Nur
dan kawan-kawan. Islam itu universal, jadi sangat luas pemaknaannya, sehingga
membutuhkan alat untuk menjelaskannya. Islam yang sangat universal tersebut,
dalam konteks organisasi mencoba untuk diterjemahkan melalui NDP. Dalam bahasa
yang agak berbeda, NDP HMI menginginkan kader-kader HMI jangan sampai menganut
metode berpikir hitam putih (eksklusif) tetapi (inklusif) . Inklusif itu
maknanya adalah terbuka dan memahami bahwa kebenaran itu bisa datang dari mana
saja. Ali pernah berkata, khuz al-Hikmat min ayyi wi’ain kharajat”
(ambillah hikmah itu dari mana saja ia keluar). Dengan kata lain, kader
HMI sesungguhnya adalah kader yang memiliki pemikiran yang terbuka dan siap
menerima informasi dari manapun asalnya.
Di samping itu, dalam pandangan NDP, setiap manusia sebenarnya
sedang berproses dalam mencari kebenaran. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa
ia telah menemukan kebenaran itu sendiri. Sebagai kelanjutannya adalah setiap
kita tidak boleh memonopoli kebenaran dan merasa diri paling benar. Kita pula
yang memiliki otoritas untuk memutuskan apakah satu paham benar atau sesat.
Tegaslah bahwa, yang sangat ditolak oleh NDP HMI adalah sikap yang merasa benar
sendiri. Benar sendiri adalah perwujudan dari subjektiftas tinggi, yang pada
gilirannya dapat membuat pelakunya menjadi orang yang memperturutkan hawa
nafsunya. Cak Nur sering mengingatkan bahaya taghut. Taghut adalah simbolisasi
orang yang memutlakkan kebenaran yang ada pada dirinya. Merasa benar sendiri
dan merasa memiliki hak untuk menyesatkan orang lain
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka
di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula
di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya]. Maka berjalanlah
kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul)
Menurut Cak Nur, inti dari firman Allah
ini adalah seruan untuk beriman kepada Tuhan semata dengan sikap pasrah
sepenuhnya kepada-Nya, dan menjauhi atau menetang sistem tiranik. Sistem-sistem
tiranik ini dalam kitab suci dilambangkan dalam sistem kefir’aunan, dan Fir’aun
itu sendiri menjadi lambang seorang tiran atau despot. Namun Al-Qur’an juga
mengingatkan bahwa sistem tiranik itu juga ada dalam setiap orang, berakar
dalam titik-titik kelemahan manusia. Kecenderungan tiranik itu muncul setiap
kali seseorang kehilangan wawasan yang lebih luas, yang menjerumuskannya kepada
tujuan-tujuan hidup jangka pendek berupa kepentingan-kepentingan tertanam
(vested interest), yaitu kepentingan kehidupan duniawi yang kurang luhur
seperti penguasaan kepada penguasaan harta benda.[21]
Di dalam surah Al-Baqarah ayat 143, Allah SWT berfirman
“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam),
umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia
dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Kata washata disebut
lima kali dalam Al-Qur’an. Semua kata washata bermakna tengah atau moderat.
Berkenaan dengan makna washata ini, Al-Raghib Al-Isfahani menyatakan, sebagai
sesuatu yang berada dipertengahan yang kedua ujungnya pada posisi sama.Dengan
demikian ketika disebut ummatan washatan itu artinya umat yang moderat atau
umat yang berada dipertengahan. Posisi pertengahan mengandung makna tidak
memihak ke kiri dan ke kanan. Tentu saja makna kiri dan kanan bukan sekedar
arah, tetapi bisa idiologi, pemikiran atau sistem lainnya.[22]
Agaknya yang paling menarik dicermati pesan Allah SWT berkaitan
dengan posisi tengah ini. Posisi tengah akan membuat setiap orang dapat
berlaku adil. Keadilan sering tidak dapat ditegakkan, karena orang yang
dipercaya untuk membuat keputusan tidak berada di posisi tengah. Jauh-jauh hari
ia telah mengambil posisi kanan atau kiri. Namun lebih penting dari itu,
mengambil posisi tengah membuat kita dapat melihat sesuatu dari berbagai sisi.
Posisi tengah membuat kita dapat melihat dari jarak yang sama. Dalam posisi
inilah kesaksian kita terhadap manusia menjadi penting karena cara pandang kita
yang menyeluruh dan integral.
Ketika memahami ayat di atas,
Cak Nur mengatakan, “menjadi saksi atas umat manusia, artinya kita harus mampu
menempatkan diri begitu rupa dalam menilai umat manusia, sehingga kita bisa
melihatnya secara adil. Oleh sebab itu dalam melihat sesuatu kita tidak boleh
dikuasai oleh apriori atau sikap suka-tidak suka. Dominasi sikap suka-tidak
suka membuat kita akan mengabaikan substansi. Kita lebih mementingkan bejananya
ketimbang isinya. Oleh sebab itu sikap adil, moderat dan adil menjadi niscaya.
Sebab, keadilan bagian dari takwa.
Untuk memberi gambaran yang lebih utuh ada baiknya beberapa
pandangan mufassir layak dikutip di sini. Berkenaan dengan ummatan washatan,
Abdullah Yusuf Ali mengatakan esensi ajaran Islam adalah menghilangkan segala
bentuk ekstrimitas dalam berbagai hal. Selanjutnya Muhammad Iqbal menafsirkan
makna washatan itu dalam konteks etika Yahudi yang terlalu legal-formal
sehingga cenderung keras, dan etika Nasrani yang terlalu spritual dan lemah
lembut. Etika Islam itu berada di tengah-tengah sebagai posisi yang terbaik.
Tidak kalah menariknya penafsiran yang diberikan oleh Sayyid Quthub yang
meninjaunya dari sudut pandang ekonomi. Menurutnya, Islam berada di tengah
antara sistem kapitalisme dan komunisme- sosialisme. Jika kapitalisme tertalu
mengagungkan hak milik pribadi –untuk menyebut contoh- dan sosialisme lebih
menekankan kolektifitas (komunalisme) maka Islam berada ditengahnya. Islam
mengakui hak milik pribadi dan pada saat yang sama Islam juga sangat
memperhatikan tanggungjawab sosial[23]
Dari penjelasan
di atas, masyarakat ideal yang diungkap Al-Qur’an dengan kata ummatan washatan
adalah masyarakat harmonis atau masyarakat yang berkeseimbanan, masyarakat yang
moderat.
Ummatan Washatan dan Jalan Ketiga Pemikiran
Islam
Judul di atas menggunakan kata “Reposisi Kader sebagai Ummatan
Washatan dalam perjuangan ummat. Ada kesan, kader HMI saat ini tidak lagi
menjadi bagian dari ummatan washatan. Kader HMI tidak lagi moderat. Jika kader
HMI tidak lagi moderat, di manakah posisi kader HMI saat ini. Apakah berada “di
kanan” atau “ di kiri.”
Saya juga sulit menjawab pertanyaan ini. Setuju atau tidak, kader
HMI sekarang ini telah kehilangan perannya dalam konstalasi pemikiran Islam
Indonesia. Secara sederhana, wacana pemikiran Islam saat ini didominasi oleh
beberapa kelompok. Pertama, apa yang disebut dengan Jaringan Islam Liberal.
Mereka mensosialisasikan pemikirannya lewat berbagai media baik massa atau
elektronik. Mereka menyelenggarakan talk show di Radio. Dan tidak kalah
menariknya mereka juga menerbitkan buku-buku yang memuat isu-isu Islam liberal,
seperti pluralisme, HAM, gender dan sebagainya.
Kedua,
adalah kelompok anak Muda NU. Berbeda dengan pendahulunya, mereka lebih dinamis
dalam mengembangkan pemikirannya. Isu-isu postra (post tradisionalis) dan isu
kiri lainnya dikembangkan oleh anak muda NU. Menariknya mereka juga memiliki
jurnal Tashwirul Afkar, sebuah jurnal yang dari sisi bobot intelektualitasnya
tidak kalah bersaing dengan jurnal ilmiah keagamaannya lainnya. Ketiga,
kelompok anak Muda Muhammadiyah yang bergabung dalam berbagai lembaga. Mereka
juga mengusung isu-isu pembaharuan sebagaimana dua kelompok yang pertama. Hanya
saja dari metode sosialisasi, dua kelompok yang pertama lebih unggul. Keempat,
anak-anak muda yang sedang menuntut ilmu di Malaysia (ISTAQ). Mereka juga cukup
produktif melahirkan karya-karya tulis. Jurnal “Islamia” adalah media yang
cukup mewakili untuk melihat main stream pemikiran mereka. Di samping itu
mereka juga telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah dalam bentuk buku.
Sebagaimana pertanyaan saya di
awal, di mana posisi anak-anak HMI dalam konteks pemikiran Islam Indonesia ?
mudah-mudahan saya salah, namun saya tidak menemukan pemikir-pemikir muda HMI
saat ini. Dahulu, saya pernah berharap kepada Anas urbaningrum. Saya banyak
membaca buku-bukunya. Berpikirnya jernih dan cukup kritis. Sayang, sepertinya
dunia pemikiran tidak begitu menarik minatnya sehingga ia memilih dunia
politik.
Saya
juga tidak menemukan –sepanjang yang saya tahu- jurnal pemikiran Islam yang
diterbitkan HMI, terutama PB. Akibatnya kita tidak tahu sama sekali apa
sesungguhnya dipikirkan HMI sekarang ini. Saya khawatir, jangan-jangan etos
intelektual yang menjadikan HMI ini disegani sudah sirna. Fenomena kelesuan
intelektual sebenarnya sudah berada pada tingkat yang paling mengkhawatirkan.
Di HMI cabang Medan saja, dengan jumlah komisariat yang cukup banyak (30
komisariat) dari berbagai perguruan tinggi umum dan agama, tradisi ilmiah tidak
tumbuh dengan subur. Bayangkan, untuk cabang besar saja kondisinya sudah
mengkhawatirkan, apa lagi cabang-cabang yang ada diplosok.
Dalam
konteks Islam Tengah (Islam washatan) ada yang menarik untuk kita cermati. Di
atas saya sudah mejelaskan secara sederhana simpul-simpul pemikiran Islam
Indonesia yang berkembang dikalangan mudanya. Kelompok pemikiran di atas
sebenarnya dapat diklasifikasikan menjadi dua arus utama. Yang pertama adalah
kelompok JIL, anak-anak muda NU dan anak muda Muhammadiyah yang mengusung
pembaharuan dengan berbagai bentuk. Kelompok kedua, adalah alumni-alumni atau
mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di ISTAQ. Penting di catat, kelompok kedua
ini sebenarnya adalah anti tesis dari kelompok pertama. Jika kelompok pertama
begitu sangat agresif memasarkan ide-ide pluralisme, HAM, gender, kebebasan
beragama, kelompok kedua mengambil posisi yang berseberangan. Mereka menolak
isu-isu Barat yang dibungkus dengan sampul Islam. Menariknya, penolakan mereka
tidak seperti aliran radikal. Mereka menolaknya dengan argumentasi ilmiah yang
cukup tangguh. Melihat fenomena di atas, HMI sebenarnya bisa tampil sebagai
ummatan washata. HMI bisa menjadi jalan ketiga dalam konteks pemikiran Islam.
HMI sejatinya harus mampu memberikan sintesa terhadap dua kutub pemikiran yang
saling bertentangan.
Tentu
saja untuk menjadi alternatif pemikiran Islam Indonesia masa depan, HMI harus
kembali menumbuhkan tradisi intelektualnya. Dan ini harus dimuali dari basis,
yaitu komisariat-komisariat. Di tingkat basis ini tradisi ilmiah, diskusi,
seminar, bedah buku, debat harus terus menerus digelorakan. Pada saat yang
sama, pemikiran yang berkembang dalam forum ilmiah dan hasilnya harus
dikomunikasikan lewat media massa, bisa koran, majalah bahkan buletin
sekalipun. Selanjutnya forum-forum training, di samping digunakan untuk
membentuk afeksi dan psikomotorik, harus pula digunakan sebagai forum
pertukaran ide-ide. Kekuatan HMI sebenarnya adalah adanya forum yang permanent
mempertukarkan ide-ide progresfi tersebut.
Salah satu balai Pendidikan islam
yang liberal yaitu balai Pendidikan ‘Darussalam’ di Gontor, Ponorogo Jawa
Timur, mencantumkan sebgai motonya ‘Berfikir Bebas’ setelah ‘Berbudi Tinggi’,
‘Berbadan sehat dan berpengetahuan luas’.diantara kebebasan perseorangan,
kebebasan berfkir dan menatakan pendaptlah yang paling berharga. Seharusnya
kita mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk piiran atau ide,
betapa aneh kedengaranya ditelinga harus lah mendapatkan jalan untuk
dinyatakan. Tidak jarang dari pikiran pikiran dan ide ide yang umunya semula
dikira salah dan palsu itu, ternyata kemudian
benar. Kenyataan itu merupakan pengalaman setiap gerakan pembaharun setiap
perorangan dan organisasi diamana saja di muka bumi ini. Agaknya tidaklah sama
sekali omong kosong bila nabi kita menyatakan bahwa perbedaan pendapat
dikalangan umatnya merupakan rahmat. Kebebasan berfikir ini baik sekali
diterangkan baik sekali O.W Holmes ketika dia mengatakan kebaikan terakhir yag
dikehendaki adalah lebih baik dicapai melalui perdagangan dalam ide ide, bahwa
sebaik baik pujian bagi suatu kebenaran
ialah kekuatan fikiran untuk membuat dirinya dapat diterima dalam persaingan.
Saya hanya ingin mengingatkan kita
semua, ummatan washatan, hanya dapat terbentuk jika kita memiliki wawasan yang
luas. Keilmuan yang terbatas, akan membuat kita sulit untuk bersikap moderat.
Jika ada orang yang menjadi fanatik, berpikir hitam putih pada satu aliran dan
mazhab, penyebabnya adalah karena wawasan yang sempit itu. Setiap kader HMI
harus menguasai simpul-simpul pemikiran yang berkembang di dunia ini.
Dalam konteks Indonesia yang sering melihat sesuatu secara
dikotomis, jalan ketiga pemikiran menjadi sebuah keharusan. Islam yang washat
atau Islam yang moderat itulah yang menjadi main stream pemikiran Islam HMI.
Bagaimana bentuk konkritnya ? Apa isu-isu Islam washat yang ingin dikembangkan
? menjadi tugas kita bersama untuk merumuskannya.
Yang jelas,
Islam Washat (Islam Moderat) sebagai jalan ketiga pemikiran Islam HMI, bukan
sekedar sintesa, bukan sekedar wacana, tetapi pemikiran yang dapat
diaplikasikan dan berguna bagi masyarakat. Oleh sebab itu saya menyebutnya
dengan Islam Washat Plus. Islam washat plus adalah Islam yang di langit dan
pada saat yang sama juga Islam yang di bumi. Intinya, bagaimanapun tingginya
filosofis pemikiran tetap harus dapat diterjemahkan dalam bentuk-bentuk aksi
dan program yang konkrit.
Di akhir makalah sederhana ini saya ingin mengutip apa yang dirintihkan oleh
Buya Syafi’i Ma’arif :
Bagaimana
Indonesia? Sejak beberapa tahun ini telah digempur oleh kemarahan alam,
sementara korupsi dan kelakuan sebagian politisinya juga makin gelap mata.
Karena itu kita perlu menyiapkan stamina spiritual yang tahan banting untuk
survive (melangsungkan hidup) di sebuah planet bumi yang tidak ramah sambil
bekerja keras untuk berbuat baik kepada sesama. Bagaimanapun juga perjalanan
kita, semuanya berada dalam rahasia Allah.
Akhirnya, karena malapetaka
tersebut sering dikaitkan orang dengan kehadiran Islam, maka saya perlu
menambahkan fakta ini; semua peristiwa di atas terjadi di dunia nyata,
sementara di dunia maya lain pula petanya. Apa yang disebut Islamlib (Islam
Liberal) dan ISlamlit (Islam Literal) atau nama lain Islam moderat dan Islam
puritan juga sedang asyik bergelut di dunia maya, adu wacana, sementara
keduanya sama-sama terkapar di buritan peradaban. Bukankah ini juga panorama
lain yang perlu dicermati oleh mereka yang berpikir ?
Perubahan yang diahadapi
manusia dalam memasuki abad 20 merupakan proses kelanjutan proses modernisasi
seluruh dunia. Proses itu yang berlangsung dan berkaitan dengan konteks dramatis
kehidupan manusiadiatas, melibatkan pandangan pandangan yang relative otonom,
dengan kemampuan besar utnutk senantiasa untuk menyuesuaikan diri dengan
situasi baru dan inovasi. Pribadi seperti itu mempunyai tingkat kesadaran yang
tinggi, dan menuntut struktur kekeluargaan dimana kebebasan dan arkat
pribadinya akan diakui dan dimana iadapat menemukan keterkaitan dengan orang
lain tidak dalamjangka kemanaan dan ketaatan semata, melainkan dalam rangka
perkawanan dan partisipasi yang hangat. Pribadi serupa itu juga menuntut
masyarakt agar berpartisipasi penuh yang tujuan tujuan masyarakat itu dapat
mendukungnya, pribadi itu memerlukan suatu pandangan dunia yang terbukan untuk
maa depan, yangmemberi penilaian kepada suatu usaha untuk memperbaiki kondisi
hidup dan biasa menolong dan menerangkan makna setiap gejolak dan gangguan
dalam proses.
Usaha mengatasi ketimpangan dalam
kehidupan manusia bermasyarakat itu merupaakan tanggung jawab manusia, usaha
itu menjadi inti program kemanusiaan yang harus dilakukan manusia atas nama
tuhan dengan penuh rasa tanggung jawab kepada-Nya karena manusia ini bertindak
dibumi sebagai khalifah Tuhan, oleh karena tanggung jawab itu yang harus
dilakukan oleh manusia dalam berpijak adalah dengan prinsip persamaan, manusia
diseru untuk senantiasa menggalang kerjasama atas dasar kebaikan. Seorang muslim yang ideal harus melaksanakan nilai
nilai Pancasila, artinya dia berketuhanan yang maha Esa. Kemanusiaan yang adil
dan beradab yang demokratis dan memiliki pandangan egaliter. Itu semua
merupakan ajaran islam itu sendiri
Bagaimana
caranya untuk menumbukan ini di kalangan umat islam. Dalam setiap organisasi
itu psati tumbuh tokoh intelektual. Intelektual ini lebih banyak memiliki
kesamaan dengan kolompok luar. Dari pada satu organisasi yang tidak
intelektual. Jadi ada yang tidak bisa dibatasi oleh lingkungan formal, akan
tetapi terjadi suatu pergaulan intelektual yang lebih inklusivistik, lebih
diikuti beberapa orang dari beberapa sector. Karena itu baik sekali adanya
pertemuan pertemuan antar intelektual itu sudah sering terjadi tenyata dari
pertemuan itu mendukung nilai nilai yang sama
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Umat yang banyak
itu tidak selalu menentukan,yang lebih memntukan itu adalah kreatifias terutama
kreatifias intelektual kalau melihat ini kita boleh berharap karena banyak
orang islam yang menerima Pendidikan, semakin banyak yang intelektual, dampak mobilitas ini adalah vertical dan horizaontal orang
berpendidikan bergerak lebih cepat secara horizontal dan vertical ini berarti
bahwa kelompok kelompok ini semakin lebih banyak mengalami perubahan sehingga
tidak ada kekhawatiran terlalu banyak
Jadi
sifatnya mnjadi proaktid dan tidak reaktif, salah satu sebab dari tindakan
reaktif adalah deprivasi, perasaan tidak di ikutsertakan terabaikan dan
terhargai karena orang tidak merasa di ikuts ertakaan maka mengalami deprivasi,
permulaan masalahini ada 2, hal yang pertama individual, kedua orang yang
sangat ideal.
DAFTAR PUSTAKA
Akmal,
Azari, 2007. Islammadzab. Jakarta : Gp pressgroup
Ali
engineer, Asghar, 2009. Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Fakih,
Mansour, 2011. Jalan Lain. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Kuntowijoyo,
2001. Muslim Tanpa Masjid . Bandung : Mizan
Kuntowijoyo,
2008. Paradigma Islam Interpretasi Untuk aksi . Bandung : Mizan
Madjid,
Nurcholish, 1992. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta : Paramadina
Madjid,
Nurcholish, 2000. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta : Paramadina
Nurdin,
Ali 2007. Quran Society . Jakarta : Eralangga
Syari’ati,
Ali, 1994. Ideologi Kaum Intelektual. Bandung : mizan
Tjokroaminoto,
2010. Islam dan sosialisme. Bandung : Sega Arsy
Wahid,
Abdurrahman, 2006. Islamku Islam anda Islam kita. Jakarta : wahid
institute
Raharjo M Dawan, 1998. Islam
kemodernan dan keindonesiaan. Bandung : mizan
Madjid, Nurcholish, 1998. Keterbukaan artikulasi nilai islam dalam
wacana social politik kontemporer Jakarta
Selatan : Para Madina
Adams,
Ian. 2004. Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today),
Penerjemah Ali Noerzaman.
Yogyakarta : Penerbit Qalam
http://hisbulah.blogspot.co.id/2011/04/uraian-materi-nilai-nilai-dasar.html diakses tanggal 29 Agustus 2017 sumber : BPL HMI Cabang Yogyakarta
[1] Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual, Bandung: Mizan, 1994, hlm 13
[2] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, yogyakarta: Pustaka
pelajar, 2009, hlm34
[3] Ibid,.hlm. 33
[4] Q.S 49:13
[6] Q.S 4: 75
[7] Q.S 104: 1-4
[8] Q.S 51: 19
[9] Q.S 51: 56
[10] Q.S 2: 201
[12] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina,
2000 hlm, 457
[13] Mansour Fakih, Jalan Lain, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011, hlm
252-253
[14] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Bandung: Mizan, 2001, hlm 97
[15] Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan,
2008, hlm 266
[16] Ibid,. Hlm 271
[19] http://hisbulah.blogspot.co.id/2011/04/uraian-materi-nilai-nilai-dasar.html. diakses tanggal 29 Agustus 2017 sumber : BPL HMI Cabang Yogyakarta
[20] Ian Adams. . Ideologi Politik Mutakhir
(Political Ideology Today)( Penerbit Qalam: Yogyakarta 2004), Penerjemah Ali Noerzaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar