Senin, 01 April 2019

INTERNALISASI NILAI-NILAI DASAR PERJUANGAN (NDP) DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT LIBERATIF


INTERNALISASI NILAI-NILAI DASAR PERJUANGAN (NDP)  DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT LIBERATIF



 

A.    ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN


Menurut Syari’ati, para Nabi Ibrahimiyah yang ia bedakakan dari nabi-nabi non-Ibrahimiyah seperti Confusius, Budha, Zarathustra—adalah pelanjut-pelanjut perjuangan Habil. Nabi Ibrahim berdiri menghujah Nabi Namrud. Nabi Musa membela Bani Israil yang lemah melawan Fir’aun yang perkasa. Nabi Isa datang menggembirakan kaum fuqara dan melecehkan Kaisar. Nabi Muhammad saw. Duduk di samping orang miskin dan budak belian, lalu membimbing mereka ke arah kebebasan. Para nabi, menurut Syari’ati, adalah orang-orang yang lahir dari tengah-tengah massa (ummi), lalu memperoleh tingkat kesadaran (hikmah) yang sanggup “mengubah satu masyarakat yang korup dan beku menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan dan pahlawan”. Para nabi datang bukan hanya sekedar mengajarkan zikir dan doa. Mereka datang dengan satu ideologi pembebasan.[1]
           Jika Musa menjadi pembebas bagi bangsa Israel yang tertindas, maka Muhammad adalah pembebas bagi seluruh umat manusia dengan cara membebaskan golongan masyarakat lemah.[2] Nabi Muhammad adalah nabi yang membawa risalah dan mendapat pengajaran langsung dari Tuhan untuk membimbing umat pada kesempurnaan moral dan etika, menyatukan semua perbedaan dalam wadah islam. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas di dalam maupun di luar Arab. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (social justice).[3] Ditegaskan di dalam ayat Al-Qur’an,” Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah maha mengetahui.”[4]
           Islam membunuh perbedaan karena kasta dan kelas begitu sempurna, sehinga orang-orang budak belian telah di jadikan komandan dari bala tentara Islam dan memerintah diatas orang-orang dari asal-turunan yang tinggi dan tinggi pula derajatnya. Hingga pada dewasa ini di tanah Arab berlaku persamaan yang sempurna antara orang dengan orang, anatara seorang penuntun onta dengan seorang saudagar kaya, makan, minum, dan hidup bersama-sama dengan tidak ada perbedaannya.[5]
 Al qur’an dengan jelas dan tegas tanpa ragu-ragu berdiri di pihak golongan masyarakat lemah dalam menghadapi para penindas. Al-Qur’an menyesalkan, bahkan menegur orang-orang yang  tidak mau menolong mereka yang teraniaya. Peringatan itu berbunyi, “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berkata, “Tuhan kami! Keluarkan kami dari kota ini yang penduduknya berbuat zalim. Berilah kami perlindungan dan pertolongan dari-Mu!”[6]
           Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang secara keras mengecam penindasan dan ketidakadilan. Dalam sunnah di katakan bahwa Nabi menempatkan kekafiran itu lebih rendah satu tingkat dibawah penindasan dan ketidakadilan. Dalam hadits itu di sebutkan bahwa sebuah negara dapat bertahan dengan kekafiran, namun tidak dengan penindasan (zulm). Al- Qur’an juga dengan tegas mengecam penumpukan harta kekayaan dan sifat sombong. Dikatakan, “Celakalah orang yang menyebarkan fitnah dan mengumpat, yang mengumpulkan kekayaan dan menimbunnya,yang mengira kekayaannya akan mengekalkannya. Sama sekali tidak! Ia akan di lemparkan ke dalam Huthamah. Apakah Huthamah itu? Ialah api Allah yang dinyalakan, yang merasuk ke dalam hati, menutupi mereka seperti Kubah dengan tiang-tiang yang menjulang.”[7]  Kemudian Al-Qur’an menyebutkan ,”Dalam harta kekayaannya terdapat hak peminta-minta dan orang yang hidup berkekurangan”.[8] Ayat ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa kepemilikan tidak bersifat absolut, namun harus di bagi-bagi kepada golongan masyarakat lemah. Kepemilikan tidak bersifat mutlak, namun harus di bagi secara adil kepada orang-orang yang membutuhkan dan menderita.
           Dalam pandangan Islam, tujuan hidup perorangan adalah mencari kebahagiaan dunia dan akhirat yang di capai melalui kerangka peribadatan kepada Allah Swt. Terkenal dalam hal ini firman Allah melalui kitab suci Al- Qur’an “ Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali menyembah kepadaku.”[9] Dengan adanya kontek ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan tuhan, dan demikian ia tidak berbuat dengan sesuka hati. Karena itulah, akan ada kendali atas perilakunya selama hidup, dalam hal ini adalah pencarian kebaikan akan akhirat (pahala), dan mencegah sesuatu yang secara moral dinilai buruk atau baik di dunia. Karena itulah doa seorang muslim yang paling tepat adalah “ Wahai Tuhan, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”.[10] Yang digambarkan diatas adalah kerangka mikro bagi kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat. Hal ini adalah sesuatu yang pokok dalam kehidupan seorang manusia, yang disimpulkan dari keyakinan akan adanya Allah dan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan-Nya. Tanpa kedua hal pokok itu sebagai keyakinan, secara teknis dia bukanlah seorang muslim. Karena manusia adalah bagian dari sebuah masyarakat, maka secara makro ia adalah makhluk sosial yang tidak berdiri sendiri. Terkenal dalam hal ini ungkapan: “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan”.[11]

B.     ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS


Mungkin modernitas memang suatu keharusan sejarah. Tetapi suatu “keharusan” tidak dengan sendirinya bernilai positif. Problema yang secara mendalam diprihatinkan oleh Michael Harirington, tokoh yang disebut-sebut sebagai salah seorang “aktor intelektualis” di belakang pemerintahan mendiang Presiden John F. Kennedy di Amerika Serikat, adalah problema yang sampai sejauh ini nampak selalu menyertai modernitas. Yaitu problema kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Seperti yang tersirat dalam buku Harrington, The Other America, setiap wajah cerah masyarakat modern menyembunyikan di balik dirinya wajah yang suram,yaitu kemiskinan yang menyayat hati. [12] Kaum modernis sesungguhnya memilki pendekatan dan analisis yang sama dengan penganut paham modernisasi sekuler yang menjadi aliran mainstream dalam ilmu sosial dan yang dianut oleh aparatur devolepmentalism. Bagi mereka, kemiskinan terjadi pada bangsa Indonesia karena mereka tidak mampu berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan dan globalisasi.[13]
Gejala modernisasi yang lain ialah dehumanisasi. Dalam kesenian, gejala ini tampak sejak abad ke- 19 dengan seni abstrak yang tidak lagi peduli dengan anatomi, perspektif, dan cahaya. Demikian pula, secara sosiologis gejalanya dapat kita lihat dalam industrialisasi abad ke-19. Manusia hanya bagian dari mesin.[14] Seperti yang tertulis dalam buku Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Di dalam masyarakat yang kapitalistik, manusia hanya menjadi elemen pasar. Dalam masyarakat seperti itu, kulitas kerja manusia dan bahkan kualitas kemanusiaan sendiri di tentukan oleh pasar. Dalam masyarakat kapitalis, dengan demikian, manusia hanya menjadi bulan-bulanan kekuatan pasar. Malapetaka kemanusiaan dalam sistem kapitalistik ini ternyata tak lebih ringan dari malapetaka yang di hadapi manusia dalam sistem komunis. Dalam masyarakat komunis, manusia tidak menjadi elemen pasar, tapi menjadi elemen birokrasi. Demikianlah, di dalam kedua sistem sosial masyarakat modern itu, fungsi manusia turun sekedar menjadi elemen.[15] Lantas dari pemaparan singkat diatas, bagaimana Islam dalam menjawab tantangan modernitas ?
Sesungguhnya misi Islam yang paling besar adalah pembebasan. Dalam konteks dunia modern, ini brarti Islam harus membebaskan manusia dari kungkungan aliran pkiran dan filsafat yang menganggap manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan hidup dalam absurditas. Tapi karena dunia modern juga telah menciptakan sistem-sistem yang membelenggu manusia, baik itu berupa sisem-sistem produksi teknologi modern, sistem-sistem sosial dan ekonomi, maupun sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia, maka Islam sekali lagi harus melakukan revolusi untuk merombak semua itu, suatu revolusi untuk pembebasan.[16] Setidaknya ada beberapa agenda Islam kedepan agar relevan dengan kondisi umat Islam hari ini seperti yang dituliskan oleh Kuntowijoyo dalam bukunya, Muslim Tanpa Masjid, Kita harus tahu dengan pekerjaan rumah kita. Setidaknya ada tiga hal yang harus kita kerjakan, perubahan sistem pengetahuan, supaya Islam jadi Rahmatan lil ‘alamin, mobilitas sosial, supaya umat Islam menjadi pelopor, dan mobilitas budaya, supaya umat dapat menampilkan Islam sebagai masa depan.[17]

C.    SEJARAH SINGKAT NDP

 

Saya ingin bercerita sedikit. Mungkin ada gynanya walaupun cerita ringan saja.yaitu bagaimana NDP itu lahir. Ahmad Wahib dalam bukunya pergolakan pemikiran islam yang sangat kontroversi al itu dalam bukunya itu menuias bahwa saya dalam tahun1968 diundang untuk mengunjungi Universitas-universitas di Amerika yang waktu itu merupakan pusat kegiatan mahasiswa . Dan kepergian saya ke Amerika itu mengubah banyak sekali pendirian saya ,begitu kata Ahmad Wahib  dalam buku itu ,maaf saja,tidak benar. Jadi Ahmad Wahib disini salah. Memang perlewatan ke Amerika itu banyak mempengaruhi saya ,melainkan justru di Timur Tengah.
            Begini ceritannya,waktu itu terus terang saja sebetulnya Pemerintah sudah lama melihat potensi HMI disini.(tentu saja pemerintah Amerika  seperti yang diwakili oleh kedaulatan Amerika disini. Mereka sudah tahu situasi politik indonsia pada zaman orde lama,ketika Bung Karno mempermainkan ataupun betulnya boleh saja  dikatakan melakukan devide et impera ,antara komunis dan ABRI terutama AD. Bagaimana AD itu sangat banyak bekerja .ini banyak dibaca oleh Pemerintah seperti Amerika. Dan Karena itu sekali pendekatan-pendekatan dari orang-orang kedutaan Amerika itu ke PB HMI sebetulnya sudah lama mereka menginginkan mereka menginginkan supaya  ada tokoh-tokoh HMI yang melihat ke Amerika,tetapi memang waktu itu belum banyak yang bias Berbahasa inggris,Sehingga saya menjadi orang kesempatan pertama.
            Kunjungan saya ke Amerika,sesuai dengan undangan,hanya berlangsung 1 bulan seminggu atau 1 bulan 2 minggu.sistemnya semua dijamin ;ada uang harian,uang perdien. waktu itu dolar belum inflasi;sehingga uang yang saya peroleh cukup besar  ,dan saya tentu bisa menghemat . Uang inilah yang saya gunakan untuk keliling Timur Tengah saya lakukan itu,secara sederhana . Kita di Indonesia selama ini selalu mengaku muslim dan mengklaim diri sebagai pejuang-pejuang islam.untuk terlaksananya ajaran islam,sekarang perlu melihat sendiri bagaimana wujud islam dalam praktik. Begitulah motif saya pergi ke Timur Tengah.meski kita tahu, Indonesia memang negara muslim yang terbesar di Bumi,secra geografis paling jauh dari pusat-pusat islam,yaitu Timur Tengah,sehingga menghasilkan beberapa hal,misalnya muslaim Indonesia itu adalah termasuk yang paling sedikit.terarabkan”Arab” kan.
            Barangkali kita tidak menyadari banyak keunikan kita ,sebagai bangsa Indonesia. Boleh dikatakan inilah bangsa Asia satu-satunya yang menuliskan yang Bahasa nasionalnya dengan huruf latin.semua bangsa Asia menggunaan huruf  nasional masing-masing.Hanya kita yang menggunakan huruf latin Filipina memang,tetepi Filipina belum biasa mengklaim mempunyai Bahasa nasional.Bahasa tagalog masih merupakan Bahasa Manila saja.
,           Kemudian bangsa Indonesia bangsa muslim juga menggunakan huruf latin untuk bangsa nasionalnya.semua bangsa muslim itu menggunakan huruf arab,kecuali 3:Turki disebabkan revolusi Kemal,Bangladesh Karena seperti bangsa lain mempunyai huruf sendiri yaitu huruf pengali dan Indonesia di karenakan penjajahan.Jadi kita itu unik.Dri sudat pandangan dunia islam indonsia unik.Inilah bangsa muslim yang kurang tahu huruf arab kira-kira begitu jangankan orang islam Pakistan,Afganistan dan sebagainnya,sedangkan orang India yang islamnya minoritas ,Disanapun mereka menggunakan huruf arab untuk menuliskan Bahasa urdu, Bahasa mereka. Semuanya begitu Darisitu saja boleh ambil satu kesimpulan bahwa keislaman di Indonesia itu masih demikaian dangkal sehingga masih ada persoalan yaitu bagaimana menghayati nilai-nilai islam itu . Itulah yang mendorong saya pergi ke Timur Tengah  .
            Waktu saya hendak ke Amerika ,saya merasa ogah-ogahan.akan tetapi biarlah barangkali dari Amerika saya bisa ke Timur Tengah. Oleh Karena itu di Amerika sudah kontak dengan orang-orang  dari Timur Tengah,yang kelak ketika saya ke Timur tengah memang banyak sekkali menolong saya.kunjungan saya ke Timur Tengah saya mulai dari Istanbul , kemudian ke Lebanon.wakt itu tentu saja libanon masih aman.lalu ke syiria ,kemudian Irak sehingga baru pertama kalinya saya bertemu  Abdurahman Wahid.Diayang menyambut. Kerena terus terang ,walaupun sama-sama dari jombang, Saya belum pernah kenal. kaerena  keluarga saya masyumi,keluarga dia NU bertemu di Bagdad .Dia baik sekali mengorganisir teman-teman indonsia untuk mengambil dan menemani saya ke Stasiun bus dari Damaskus. Lalu saya ke Kwait,dari Kwait ke Saudi Arabia melalui Timur banyak sekali kenangan di situ ketika dilihat saya bertemu seorang ynang pernah saya kenal di Amerika,dr.Frid mustofa seorang tokoh doctor enjenering itulah satu-satunya menjadi tamu keluarga arab disini kaluar makan siang dan malam semua warga ikut termasuk istri. Biasanya orang arab tidak demikian saya tinggal 1 minggu disitu dan berkenalan dengan banyak pelarian iwanul muslimin.kita mengetahui ihwanul muslimin umumnya beranggotakan orang-orang Mesir dan orang Syiria. Mereka dikejar-kejar oleh rezim yang ada di negara masing-masing dan kebanyakan larinya ke Saudi Arabia bukan untuk mendapatkan kebebasan politik Karena di Saudi Arabia sendiri mereka tidak mendapatkan kebabasan politik. Karena orang-orang Saudi juga tidak suka terhadap sikap politik mereka akan tetapi dari segi ilmu pengetahuan mereka banyak sekali dihargai. Mereka kemudian menjadi staf pengajar di Universitas. Sejak dari istanbu saya banyak sekali mengadakan diskusi kritis tentu saya tidak mau hanya mendengarkan saja tapi juga membantah,menanyakan dan menantang, termasuk menentang dari segi Literatur.Di Turki sampai berkenalan dengan satu gerakan yang betul di bawah tanah,yang di Istanbul mereka untuk membangkitkan islam ,tetapai dengan cara-cara yang menurut sebagian kita agak kedengaran sedikit kolot.Yaitu mealui jalan Sufisme atau gerakan-gerakan  tarekat.   
   Suatu malam dr.Lustafa mengajak saya ke Universitas Riyad ;ke Fakultas farmasi dan akan mengadakan wisuda tamatan fakultas farmasi.,dimana mentri Pendidikan hadir,yaitu Syekh Hasan bin Abdulllah keturunan Muhammad bin Abdul Wahab seorang  pelopor di arabia yang anak turunnya  selalu menjadi mentri bidang pengetahuan seperti Menteri pendidkan,mentri pengetahuan dan sebagainya di Arabia.tidak tahu  yang terjadi ,
            Saya tidak tahu apa yang terjadi ,pokoknya dr.Mustofa mengenalkan saya secara berbisik-bisik kepada mentri kepada mentri itu,lalu Menteri itu meminta supaya saya  menceritakan gerakan mahasiswa islam di Indonesia.Setelah saya ceritakan ,tentu saja dengan Bahasa arab .Alhamdulillah saya sedikit tahu Bahasa arab Karena belajar di Gontor,sebuah  proyek gabungan antara system Pendidikan Sumatera . Barat (Kmi nya) an jawa pesantrennya yang saya kira menjadi proyek yang suksees sampai sekarang berkembang dimana-mana. Menteri itu demikian senangnya dengan keterangan kita .lalu mengundang 10 orang kita ,HMI. Untuk  melakuakan haji itu juga ,selanjutnya dari Riyad saya ke Madinah dan ke Mekah ,kemudian ke khurtum untuk bertemu  dengan Dr,Hasan Turabi  dari Umin darma turabi Universitas ,Tokoh yang menjadi pusat parhatian ke Sudan oleh Karena itu kondep dan islamisasi nya numeiry yang sekarang jatuh sekarang digulingkan . Dari situ saya pergi ke Mesir ,kemudian kembali ke Libanon dan .dari situ ke Pakistan.
            Pokoknya dari semua itu saya akan mengadakan diskusi macam-macam. Dan konklusinya begini : saya kecewa dengan tingkat intelektualitas kalangan di timur tengah  saat itu. Sehingga saya ingat Buya Hamka ,ketika suatu saat minta izin kepada  K.H Agus Salim untuk pergi ke Timur tengah ,belajar. Jawab K.H Agus Salim yang dimuat dalam gema islam dahulu dan sebagainya ,”Malik,kalua kamu mau pergi ke Mekah dan timur tengah ,barangkali kamu fasih dalam berbahasa arab,yang pasti kamu akan jadi lebai ,kalua pulang. Tetapi sebaliknya  kalua ingin mengetahui islam secara intelek,lebih baik disini. Belajar sama saya dan saya sepakat dengan K.H Agus salim.
            Padahal saat ini,kita sudah ergumul dengan Marxisme ,dengan macam-macam disini.Indonesia adala tempat pergumulan ideologi yang paling seru dalam orde lamadan kita survive.,kita sudah berdialog orang-orang komunis di forum mereka.bukan forum kta .oleh  Karena itu lebih banyak berlatih dengan orang-orang yang saya temuidi negara-negara Timur tengah berkenaan dengan cara melihat apa yang relevan dalami islam yang harus kita pelajari.Sampai-sampai waktu dengan Dr.Mahmud Syahwi namanya salah satu nama ihwanul muslim,ketika saya merasa jengkel  dengan kekecewaaan saya.Saya hilang begitu saja dari pada anda kuliahi macam-macam yang tidak masuk akal saya.lebih baik anda kasih saya bacaan yang Menur ut anda penting dan kalua saya membacanya saya mendapat jawaban “lalau saya di beri judul majmu rasail hasan al bana”,kumpulam risalah-risalah al bana ,yang waktu itu adalah buku terlarang di Saudi arabia . Buku itu diberikan kepada saya ,sambal mewanti-wanti “jangan sampai ketahuan orang Saudi.,Karena kalua ketahuan ,saudara akan menglami kesulitan ,ditahan dan sebagainya.”akan tetapi saya senang sekali menerima dan membaca  buku itu.
Waktu di Mekah saya menggunakan waktu paling banyak dua minggu,saya baca semuanya . Akan tetapi maaf saja ,saya mendapatkan kelebihan dari orang arab itu. Ya ,dengan kekaguman saya kepada Hasan al bana ,tetapi saya harus tidak setuju dengan isinya. Slogan-slogan loyalistik kebanyakan .jadi isinya slogan-slogan loyalistik bukan permasalahan,oleh Karena itu saya tidak merasa sesuai dengan buku itu. Kemudian saya di Mekah mengatamkanL Quran dalam terjemahan bahsa inggris untuk pengecekan . kemudian setelah melakukan berbagai diskusi tadi ,saya melihat beberapa hal yang releven bagi kita .sampai sekarang Al Quran itu coreti  dengan komentar saya.
           Kemudian saya ke Sudan dan pulang.dan ketika mendengar janji mentri Pendidikan Saudi arabia untuk naik hajji itu saya diingatkan oleh  Dr.Mustafa,orang di ibu kota riyad itu “ini janji arab”katanya:oleh Karena itu”anda harus rajin menagih “.jadi,ketika sampai  di mekah saya mengirimkan surat .saya sampai di Mdinah ,juga begitu.dan Alhamdulilah terealisasi.Akhir janiari 1969 saya ke Indonesia untuk sibuk memenemalisir janji dari Menteri Pendidikan Saudi itu untuk naik haji yang waktu itu  jatuh bulanmaret .Berarti ada waktu satu bilan , Jadi habislah wktu saya untuk menyiapakan teman-teman naik haji.Sampai disana teman-teman ikyt sakit kerena tidak cocok an dengan makanan kecuali saya .Kebetulan saya sudah terbiasa dengan makanan disana .Sampai zaitun yang di bilang Al Quran  saya makan ,Karena perlu diketahui walaupun buah itu  tidak enak  da nagak pahit yang belum terbiasa ,tetapi gizinya tinggi sekali  dan dapat menghilangkan rasa mual dan sebagainya .dan saya  mendapat service  di kedutaan  San Francisco,sang seorang novelis terkenal di Amerika ,bernama john ball,yang salah satu bukunya di filmkan  dan mendapat hadiah  besar.dia mengatakan begin”saudara harus tahu ,berkat zaitun inilah yunaniitu berfilsafat Karena zaitun itu di tanamka tahan lamasekali dan tetap berbuah “.Pohon itu bias ribuan tahun bertahan ,dengan gizi yang sangat tniggi ,sehingga orang Yunani itu boleh dikatakan tidak  lagi memeikirkan maalah sumber gizi yang tinggi cukuop menanam zaitun saja dan zampaii sekarang merupakan komoditi yang sangat penting  negara-negara timur tengah.
              Setelah pulang dari haji ,saya ingin menulis tentang sesuatu nilai-nilai dasar islam.seluruh saya ingin untuk bikin NDP saya curahkan bulan april,jadi NDP itu merupakan kesimpulan perjalanan dari timur tengah selama tiga bulan .jadi sama sekali salah kalua Ahmad Wahib mengatakan itu pengaruh kunjungan saya di , Amerika ,begitulah singkatnya cerita .Namun sama saja NDP .Tentu saja bahannya macam-macam,saya ingin mengatakan kenapa namanya NDP akan tetapi setelah saya piker  kalau dinamakan nilai-nilai dasar islam ,maka klaim kita akan selalu membesar,kita terlalu mengklaim. Oleh Karena Itu disesuaikan aktivitas kita sebagai mahasiswa Lalu saya mendapat ilham dari berbagai sumber ,pertama willy iecer,seorang ideologi partai democrat dari jerman ,,the fundamental values and demand  democratic sosia, , lisme .Nilai-nilai dasar dan tuntutan-tuntutan asasi sosialisme nah”ini ada nili-nilai dasar” dan”perjuangan  dari mana?dari syahrir karya ideologi sosialisme Indonesia termuat dalam perjuangan bangsa kita.Dan syarir juga tidak orisinal ,dia terlalu menirudari hitler mein kemf  jadilah NDP(nilai-nilai dasar perjuangan . Kemudian saya bawa ke malang ke kongres 9 mei 1969,tetapi disana agak sulit  dibicarakan persoalannya demikian luas tidak mungkin suatu kongres membicarakannya  lalu diserahkan kepada kami bertiga:saudara Endang saifudin, anshari,sakib mahmud dan saya ,nah,itulah lahir dari NDP yang  namanya diubah oleh kongres 16 HMI menjadi NIK (nilai identitas kader). Dan inti dari NDP adalah iman,ilmu dana mal.[18]
Dari seluruh uraian yang telah lalu dapatlah diambil kesimpulan secara garis besar sbb:
1.      Hidup yang benar dimulai dengan percaya atau iman kepada Tuhan. Tuhan YME dan keinginan mendekat serta kecintaan kepada-Nya, yaitu takwa. Iman dan takwa bukanlah nilai yang statis dan abstrak. Nilai-nilai itu mamancar dengan sendirinya dalam bentuk kerja nyata bagi kemanusiaan dan amal saleh. Iman tidak memberi arti apa-apa bagi manusia jika tidak disertai dengan usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan yang sungguh-sungguh untuk menegakkan perikehidupan yang benar dalam peradaban dan berbudaya.

2.      Iman dan takwa dipelihara dan diperkuat dengan melakukan ibadah atau pengabdian formil kepada Tuhan. Ibadah mendidik individu agar tetap ingat dan taat kepada Tuhan dan berpegang tuguh kepada kebenaran sebagai mana dikehendaki oleh hati nurani yang hanif. Segala sesuatu yang menyangkut bentuk dan cara beribadah menjadi wewenang penuh dari pada agama tanpa adanya hak manusia untuk mencampurinya. Ibadat yang terus menerus kepada Tuhan menyadarkan manusia akan kedudukannya di tengah alam dan masyarakat dan sesamanya. Ia tidak melebihkan diri sehingga mengarah kepada kedudukan Tuhan dengan merugikan kemanusiaan orang lain, dan tidak mengurangi kehormatan dirinya sebagai mahluk tertinggi dengan akibat perbudakan diri kepada alam maupun orang lain Dengan ibadah manusia dididik untuk memilki kemerdekaannya, kemanusiaannya dan dirinya sendiri, sebab ia telah berbuat ikhlas, yaitu pemurniaan pengabdian kepada Kebenaran semata.

3.      Kerja kemanusiaan atau amal saleh mengambil bentuknya yang utama dalam usaha yanag sungguh - sungguh secara essensial menyangkut kepentingan manusia secara keseluruhan, baik dalam ukuran ruang maupun waktu. Yaitu menegakkan keadilan dalam masyarakat sehingga setiap orang memperoleh harga diri dan martabatnya sebagai manusia. Hal itu berarti usaha - usaha yang terus menerus harus dilakukan guna mengarahkan masyarakat kepada nilai - nilai yang baik, lebih maju dan lebih insani usaha itu ialah "amar ma'ruf”, disamping usaha lain untuk mencegah segala bentuk kejahatan dan kemerosotan nilai - nilai kemanusiaan atau nahi mungkar. Selanjutnya bentuk kerja kemanusiaan yang lebih nyata ialah pembelaan kaum lemah, kaum tertindas dan kaum miskin pada umumnya serta usaha - usaha kearah penungkatan nasib dan taraf hidup mereka yang wajar dan layak sebagai manusia

4.      Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang besar kepada kemanusiaan melahirkan jihad, yaitu sikap berjuang. Berjuang itu dilakukan dan ditanggung bersama oleh manusia dalam bentuk gotong royong atas dasar kemanusiaan dan kecintaan kepada Tuhan. Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan menuntut ketabahan, kesabaran, dan pengorbanan. Dan dengan jalan itulah kebahagiaan dapat diwujudkan dalam masyarakat manusia. Oleh sebab itu persyaratan bagi berhasilnya perjuangan adalah adanya barisan yang merupakan bangunan yang kokoh kuat. Mereka terikat satu sama lain oleh persaudaraan dan solidaritas yang tinggi dan oleh sikap yang tegas kepada musuh - musuh dari kemanusiaan. Tetapi justru demi kemanusiaan mereka adalah manusia yang toleran. Sekalipun mengikuti jalan yang benar, mereka tidak memaksakan kepada orang lain atau golongan lain.

5.      Kerja kemanusiaan atau amal saleh itu merupakan proses perkembangan yang permanen. Perjuang kemanusiaan berusaha mengarah kepada yang lebih baik, lebih benar. Oleh sebab itu, manusia harus mengetahui arah yang benar dari pada perkembangan peradaban disegala bidang. Dengan perkataan lain, manusia harus mendalami dan selalu mempergunakan ilmu pengetahuan. Kerja manusia dan kerja kemanusiaan tanpa ilmu tidak akan mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu tanpa rasa kemanusiaan tidak akan membawa kebahagiaan bahkan mengahancurkan peradaban. Ilmu pengetahuan adalah karunia Tuhan yang besar artinya bagi manusia. Mendalami ilmu pengetahun harus didasari oleh sikap terbuka. Mampu mengungkapkan perkembangan pemikiran tentang kehidupan berperadaban dan berbudaya. Kemudian mengambil dan mengamalkan diantaranya yang terbaik.[19]


D.    NDP DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT LIBERATIF


           Pemikiran liberal (liberalisme) adalah satu nama di antara nama-nama untuk menyebut ideologi Dunia Barat yang berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti “bebas dari batasan” (free from restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari pengawasan gereja dan raja.[20]         
            NDP HMI itu mengandung muatan-muatan yang sangat substansial, tentang keTuhanan dan kemanusiaan. Sebagaimana yang telah dirumuskan Cak Nur dan kawan-kawan. Islam itu universal, jadi sangat luas pemaknaannya, sehingga membutuhkan alat untuk menjelaskannya. Islam yang sangat universal tersebut, dalam konteks organisasi mencoba untuk diterjemahkan melalui NDP. Dalam bahasa yang agak berbeda, NDP HMI menginginkan kader-kader HMI jangan sampai menganut metode berpikir hitam putih (eksklusif) tetapi (inklusif) . Inklusif itu maknanya adalah terbuka dan memahami bahwa kebenaran itu bisa datang dari mana saja. Ali pernah berkata, khuz al-Hikmat min ayyi wi’ain kharajat”  (ambillah hikmah itu dari mana saja ia keluar). Dengan kata lain, kader HMI sesungguhnya adalah kader yang memiliki pemikiran yang terbuka dan siap menerima informasi dari manapun asalnya.
          Di samping itu, dalam pandangan NDP, setiap manusia sebenarnya sedang berproses dalam mencari kebenaran. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa ia telah menemukan kebenaran itu sendiri. Sebagai kelanjutannya adalah setiap kita tidak boleh memonopoli kebenaran dan merasa diri paling benar. Kita pula yang memiliki otoritas untuk memutuskan apakah satu paham benar atau sesat. Tegaslah bahwa, yang sangat ditolak oleh NDP HMI adalah sikap yang merasa benar sendiri. Benar sendiri adalah perwujudan dari subjektiftas tinggi, yang pada gilirannya dapat membuat pelakunya menjadi orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Cak Nur sering mengingatkan bahaya taghut. Taghut adalah simbolisasi orang yang memutlakkan kebenaran yang ada pada dirinya. Merasa benar sendiri dan merasa memiliki hak untuk menyesatkan orang lain
          Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)
 Menurut  Cak Nur, inti dari firman Allah ini adalah seruan untuk beriman kepada Tuhan semata dengan sikap pasrah sepenuhnya kepada-Nya, dan menjauhi atau menetang sistem tiranik. Sistem-sistem tiranik ini dalam kitab suci dilambangkan dalam sistem kefir’aunan, dan Fir’aun itu sendiri menjadi lambang seorang tiran atau despot. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sistem tiranik itu juga ada dalam setiap orang, berakar dalam titik-titik kelemahan manusia. Kecenderungan tiranik itu muncul setiap kali seseorang kehilangan wawasan yang lebih luas, yang menjerumuskannya kepada tujuan-tujuan hidup jangka pendek berupa kepentingan-kepentingan tertanam (vested interest), yaitu kepentingan kehidupan duniawi yang kurang luhur seperti penguasaan kepada penguasaan harta benda.[21] Di dalam surah Al-Baqarah ayat 143, Allah SWT berfirman                          
            “Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
           
            Kata washata disebut lima kali dalam Al-Qur’an. Semua kata washata bermakna tengah atau moderat. Berkenaan dengan makna washata ini, Al-Raghib Al-Isfahani menyatakan, sebagai sesuatu yang berada dipertengahan yang kedua ujungnya pada posisi sama.Dengan demikian ketika disebut ummatan washatan itu artinya umat yang moderat atau umat yang berada dipertengahan. Posisi pertengahan mengandung makna tidak memihak ke kiri dan ke kanan. Tentu saja makna kiri dan kanan bukan sekedar arah, tetapi bisa idiologi, pemikiran atau sistem lainnya.[22]
                      Agaknya yang paling menarik dicermati pesan Allah SWT berkaitan dengan posisi tengah ini.  Posisi tengah akan membuat setiap orang dapat berlaku adil. Keadilan sering tidak dapat ditegakkan, karena orang yang dipercaya untuk membuat keputusan tidak berada di posisi tengah. Jauh-jauh hari ia telah mengambil posisi kanan atau kiri. Namun lebih penting dari itu, mengambil posisi tengah membuat kita dapat melihat sesuatu dari berbagai sisi. Posisi tengah membuat kita dapat melihat dari jarak yang sama. Dalam posisi inilah kesaksian kita terhadap manusia menjadi penting karena cara pandang kita yang menyeluruh dan integral.
                      Ketika memahami ayat di atas, Cak Nur mengatakan, “menjadi saksi atas umat manusia, artinya kita harus mampu menempatkan diri begitu rupa dalam menilai umat manusia, sehingga kita bisa melihatnya secara adil. Oleh sebab itu dalam melihat sesuatu kita tidak boleh dikuasai oleh apriori atau sikap suka-tidak suka. Dominasi sikap suka-tidak suka membuat kita akan mengabaikan substansi. Kita lebih mementingkan bejananya ketimbang isinya. Oleh sebab itu sikap adil, moderat dan adil menjadi niscaya. Sebab, keadilan bagian dari takwa.
                      Untuk memberi gambaran yang lebih utuh ada baiknya beberapa pandangan mufassir layak dikutip di sini. Berkenaan dengan ummatan washatan, Abdullah Yusuf Ali mengatakan esensi ajaran Islam adalah menghilangkan segala bentuk ekstrimitas dalam berbagai hal. Selanjutnya Muhammad Iqbal menafsirkan makna washatan itu dalam konteks etika Yahudi yang terlalu legal-formal sehingga cenderung keras, dan etika Nasrani yang terlalu spritual dan lemah lembut. Etika Islam itu berada di tengah-tengah sebagai posisi yang terbaik.
            Tidak kalah menariknya penafsiran yang diberikan oleh Sayyid Quthub yang meninjaunya dari sudut pandang ekonomi. Menurutnya, Islam berada di tengah antara sistem kapitalisme dan komunisme- sosialisme. Jika kapitalisme tertalu mengagungkan hak milik pribadi –untuk menyebut contoh- dan sosialisme lebih menekankan kolektifitas (komunalisme) maka Islam berada ditengahnya. Islam mengakui hak milik pribadi dan pada saat yang sama Islam juga sangat memperhatikan tanggungjawab sosial[23]
                      Dari penjelasan di atas, masyarakat ideal yang diungkap Al-Qur’an dengan kata ummatan washatan adalah masyarakat harmonis atau masyarakat yang berkeseimbanan, masyarakat yang moderat.
             
            Ummatan Washatan dan Jalan Ketiga Pemikiran Islam           
                      Judul di atas menggunakan kata “Reposisi Kader sebagai Ummatan Washatan dalam perjuangan ummat. Ada kesan, kader HMI saat ini tidak lagi menjadi bagian dari ummatan washatan. Kader HMI tidak lagi moderat. Jika kader HMI tidak lagi moderat, di manakah posisi kader HMI saat ini. Apakah berada “di kanan” atau “ di kiri.”
                      Saya juga sulit menjawab pertanyaan ini. Setuju atau tidak, kader HMI sekarang ini telah kehilangan perannya dalam konstalasi pemikiran Islam Indonesia. Secara sederhana, wacana pemikiran Islam saat ini didominasi oleh beberapa kelompok. Pertama, apa yang disebut dengan Jaringan Islam Liberal. Mereka mensosialisasikan pemikirannya lewat berbagai media baik massa atau elektronik. Mereka menyelenggarakan talk show di Radio. Dan tidak kalah menariknya mereka juga menerbitkan buku-buku yang memuat isu-isu Islam liberal, seperti pluralisme, HAM, gender dan sebagainya.
                      Kedua, adalah kelompok anak Muda NU. Berbeda dengan pendahulunya, mereka lebih dinamis dalam mengembangkan pemikirannya. Isu-isu postra (post tradisionalis) dan isu kiri lainnya dikembangkan oleh anak muda NU. Menariknya mereka juga memiliki jurnal Tashwirul Afkar, sebuah jurnal yang dari sisi bobot intelektualitasnya tidak kalah bersaing dengan jurnal ilmiah keagamaannya lainnya.  Ketiga, kelompok anak Muda Muhammadiyah yang bergabung dalam berbagai lembaga. Mereka juga mengusung isu-isu pembaharuan sebagaimana dua kelompok yang pertama. Hanya saja dari metode sosialisasi, dua kelompok yang pertama lebih unggul. Keempat, anak-anak muda yang sedang menuntut ilmu di Malaysia (ISTAQ). Mereka juga cukup produktif melahirkan karya-karya tulis. Jurnal “Islamia” adalah media yang cukup mewakili untuk melihat main stream pemikiran mereka. Di samping itu mereka juga telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah dalam bentuk buku.
                     Sebagaimana pertanyaan saya di awal, di mana posisi anak-anak HMI dalam konteks pemikiran Islam Indonesia ? mudah-mudahan saya salah, namun saya tidak menemukan pemikir-pemikir muda HMI saat ini. Dahulu, saya pernah berharap kepada Anas urbaningrum. Saya banyak membaca buku-bukunya. Berpikirnya jernih dan cukup kritis. Sayang, sepertinya dunia pemikiran tidak begitu menarik minatnya sehingga ia memilih dunia politik.
                     Saya juga tidak menemukan –sepanjang yang saya tahu- jurnal pemikiran Islam yang diterbitkan HMI, terutama PB. Akibatnya kita tidak tahu sama sekali apa sesungguhnya dipikirkan HMI sekarang ini. Saya khawatir, jangan-jangan etos intelektual yang menjadikan HMI ini disegani sudah sirna. Fenomena kelesuan intelektual sebenarnya sudah berada pada tingkat yang paling mengkhawatirkan. Di HMI cabang Medan saja, dengan jumlah komisariat yang cukup banyak (30 komisariat) dari berbagai perguruan tinggi umum dan agama, tradisi ilmiah tidak tumbuh dengan subur. Bayangkan, untuk cabang besar saja kondisinya sudah mengkhawatirkan, apa lagi cabang-cabang yang ada diplosok.
                     Dalam konteks Islam Tengah (Islam washatan) ada yang menarik untuk kita cermati. Di atas saya sudah mejelaskan secara sederhana simpul-simpul pemikiran Islam Indonesia yang berkembang dikalangan mudanya. Kelompok pemikiran di atas sebenarnya dapat diklasifikasikan menjadi dua arus utama. Yang pertama adalah kelompok JIL, anak-anak muda NU dan anak muda Muhammadiyah yang mengusung pembaharuan dengan berbagai bentuk. Kelompok kedua, adalah alumni-alumni atau mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di ISTAQ. Penting di catat, kelompok kedua ini sebenarnya adalah anti tesis dari kelompok pertama. Jika kelompok pertama begitu sangat agresif memasarkan ide-ide pluralisme, HAM, gender, kebebasan beragama, kelompok kedua mengambil posisi yang berseberangan. Mereka menolak isu-isu Barat yang dibungkus dengan sampul Islam. Menariknya, penolakan mereka tidak seperti aliran radikal. Mereka menolaknya dengan argumentasi ilmiah yang cukup tangguh. Melihat fenomena di atas, HMI sebenarnya bisa tampil sebagai ummatan washata. HMI bisa menjadi jalan ketiga dalam konteks pemikiran Islam. HMI sejatinya harus mampu memberikan sintesa terhadap dua kutub pemikiran yang saling bertentangan.
                     Tentu saja untuk menjadi alternatif pemikiran Islam Indonesia masa depan, HMI harus kembali menumbuhkan tradisi intelektualnya. Dan ini harus dimuali dari basis, yaitu komisariat-komisariat. Di tingkat basis ini tradisi ilmiah, diskusi, seminar, bedah buku, debat harus terus menerus digelorakan. Pada saat yang sama, pemikiran yang berkembang dalam forum ilmiah dan hasilnya harus dikomunikasikan lewat media massa, bisa koran, majalah bahkan buletin sekalipun. Selanjutnya forum-forum training, di samping digunakan untuk membentuk afeksi dan psikomotorik, harus pula digunakan sebagai forum pertukaran ide-ide. Kekuatan HMI sebenarnya adalah adanya forum yang permanent mempertukarkan ide-ide progresfi tersebut.
            Salah satu balai Pendidikan islam yang liberal yaitu balai Pendidikan ‘Darussalam’ di Gontor, Ponorogo Jawa Timur, mencantumkan sebgai motonya ‘Berfikir Bebas’ setelah ‘Berbudi Tinggi’, ‘Berbadan sehat dan berpengetahuan luas’.diantara kebebasan perseorangan, kebebasan berfkir dan menatakan pendaptlah yang paling berharga. Seharusnya kita mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk piiran atau ide, betapa aneh kedengaranya ditelinga harus lah mendapatkan jalan untuk dinyatakan. Tidak jarang dari pikiran pikiran dan ide ide yang umunya semula dikira salah dan palsu itu, ternyata kemudian benar. Kenyataan itu merupakan pengalaman setiap gerakan pembaharun setiap perorangan dan organisasi diamana saja di muka bumi ini. Agaknya tidaklah sama sekali omong kosong bila nabi kita menyatakan bahwa perbedaan pendapat dikalangan umatnya merupakan rahmat. Kebebasan berfikir ini baik sekali diterangkan baik sekali O.W Holmes ketika dia mengatakan kebaikan terakhir yag dikehendaki adalah lebih baik dicapai melalui perdagangan dalam ide ide, bahwa sebaik baik pujian bagi suatu  kebenaran ialah kekuatan fikiran untuk membuat dirinya dapat diterima dalam persaingan.
                     Saya hanya ingin mengingatkan kita semua, ummatan washatan, hanya dapat terbentuk jika kita memiliki wawasan yang luas. Keilmuan yang terbatas, akan membuat kita sulit untuk bersikap moderat. Jika ada orang yang menjadi fanatik, berpikir hitam putih pada satu aliran dan mazhab, penyebabnya adalah karena wawasan yang sempit itu. Setiap kader HMI harus menguasai simpul-simpul pemikiran yang berkembang di dunia ini.
                      Dalam konteks Indonesia yang sering melihat sesuatu secara dikotomis, jalan ketiga pemikiran menjadi sebuah keharusan. Islam yang washat atau Islam yang moderat itulah yang menjadi main stream pemikiran Islam HMI. Bagaimana bentuk konkritnya ? Apa isu-isu Islam washat yang ingin dikembangkan ? menjadi tugas kita bersama untuk merumuskannya.
                     Yang jelas, Islam Washat (Islam Moderat) sebagai jalan ketiga pemikiran Islam HMI, bukan sekedar sintesa, bukan sekedar wacana, tetapi pemikiran yang dapat diaplikasikan dan berguna bagi masyarakat. Oleh sebab itu saya menyebutnya dengan Islam Washat Plus. Islam washat plus adalah Islam yang di langit dan pada saat yang sama juga Islam yang di bumi. Intinya, bagaimanapun tingginya filosofis pemikiran tetap harus dapat diterjemahkan dalam bentuk-bentuk aksi dan program yang konkrit.
            Di akhir makalah sederhana ini saya ingin mengutip apa yang dirintihkan oleh Buya Syafi’i Ma’arif :
                     Bagaimana Indonesia? Sejak beberapa tahun ini telah digempur oleh kemarahan alam, sementara korupsi dan kelakuan sebagian politisinya juga makin gelap mata. Karena itu kita perlu menyiapkan stamina spiritual yang tahan banting untuk survive (melangsungkan hidup) di sebuah planet bumi yang tidak ramah sambil bekerja keras untuk berbuat baik kepada sesama. Bagaimanapun juga perjalanan kita, semuanya berada dalam rahasia Allah.
                     Akhirnya, karena malapetaka tersebut sering dikaitkan orang dengan kehadiran Islam, maka saya perlu menambahkan fakta ini; semua peristiwa di atas terjadi di dunia nyata, sementara di dunia maya lain pula petanya. Apa yang disebut Islamlib (Islam Liberal) dan ISlamlit (Islam Literal) atau nama lain Islam moderat dan Islam puritan juga sedang asyik bergelut di dunia maya, adu wacana, sementara keduanya sama-sama terkapar di buritan peradaban. Bukankah ini juga panorama lain yang perlu dicermati oleh mereka yang berpikir ?
                      Perubahan yang diahadapi manusia dalam memasuki abad 20 merupakan proses kelanjutan proses modernisasi seluruh dunia. Proses itu yang berlangsung dan berkaitan dengan konteks dramatis kehidupan manusiadiatas, melibatkan pandangan pandangan yang relative otonom, dengan kemampuan besar utnutk senantiasa untuk menyuesuaikan diri dengan situasi baru dan inovasi. Pribadi seperti itu mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi, dan menuntut struktur kekeluargaan dimana kebebasan dan arkat pribadinya akan diakui dan dimana iadapat menemukan keterkaitan dengan orang lain tidak dalamjangka kemanaan dan ketaatan semata, melainkan dalam rangka perkawanan dan partisipasi yang hangat. Pribadi serupa itu juga menuntut masyarakt agar berpartisipasi penuh yang tujuan tujuan masyarakat itu dapat mendukungnya, pribadi itu memerlukan suatu pandangan dunia yang terbukan untuk maa depan, yangmemberi penilaian kepada suatu usaha untuk memperbaiki kondisi hidup dan biasa menolong dan menerangkan makna setiap gejolak dan gangguan dalam proses.
            Usaha mengatasi ketimpangan dalam kehidupan manusia bermasyarakat itu merupaakan tanggung jawab manusia, usaha itu menjadi inti program kemanusiaan yang harus dilakukan manusia atas nama tuhan dengan penuh rasa tanggung jawab kepada-Nya karena manusia ini bertindak dibumi sebagai khalifah Tuhan, oleh karena tanggung jawab itu yang harus dilakukan oleh manusia dalam berpijak adalah dengan prinsip persamaan, manusia diseru untuk senantiasa menggalang kerjasama atas dasar kebaikan. Seorang muslim yang ideal harus melaksanakan nilai nilai Pancasila, artinya dia berketuhanan yang maha Esa. Kemanusiaan yang adil dan beradab yang demokratis dan memiliki pandangan egaliter. Itu semua merupakan ajaran islam itu sendiri
            Bagaimana caranya untuk menumbukan ini di kalangan umat islam. Dalam setiap organisasi itu psati tumbuh tokoh intelektual. Intelektual ini lebih banyak memiliki kesamaan dengan kolompok luar. Dari pada satu organisasi yang tidak intelektual. Jadi ada yang tidak bisa dibatasi oleh lingkungan formal, akan tetapi terjadi suatu pergaulan intelektual yang lebih inklusivistik, lebih diikuti beberapa orang dari beberapa sector. Karena itu baik sekali adanya pertemuan pertemuan antar intelektual itu sudah sering terjadi tenyata dari pertemuan itu mendukung nilai nilai yang sama

           





 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

PENUTUP



Kesimpulan
Umat yang banyak itu tidak selalu menentukan,yang lebih memntukan itu adalah kreatifias terutama kreatifias intelektual kalau melihat ini kita boleh berharap karena banyak orang islam yang menerima Pendidikan, semakin banyak yang intelektual, dampak mobilitas ini adalah vertical dan horizaontal orang berpendidikan bergerak lebih cepat secara horizontal dan vertical ini berarti bahwa kelompok kelompok ini semakin lebih banyak mengalami perubahan sehingga tidak ada kekhawatiran terlalu banyak
Jadi sifatnya mnjadi proaktid dan tidak reaktif, salah satu sebab dari tindakan reaktif adalah deprivasi, perasaan tidak di ikutsertakan terabaikan dan terhargai karena orang tidak merasa di ikuts ertakaan maka mengalami deprivasi, permulaan masalahini ada 2, hal yang pertama individual, kedua orang yang sangat ideal.











DAFTAR PUSTAKA

Akmal, Azari, 2007. Islammadzab. Jakarta : Gp pressgroup
Ali engineer, Asghar, 2009. Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Fakih, Mansour, 2011. Jalan Lain. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Kuntowijoyo, 2001. Muslim Tanpa Masjid . Bandung : Mizan
Kuntowijoyo, 2008. Paradigma Islam Interpretasi Untuk aksi . Bandung : Mizan
Madjid, Nurcholish, 1992. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta : Paramadina
Madjid, Nurcholish, 2000. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta : Paramadina
Nurdin, Ali 2007. Quran Society . Jakarta : Eralangga
Syari’ati, Ali, 1994. Ideologi Kaum Intelektual. Bandung : mizan
Tjokroaminoto, 2010. Islam dan sosialisme. Bandung : Sega Arsy
Wahid, Abdurrahman, 2006. Islamku Islam anda Islam kita. Jakarta : wahid institute
Raharjo M  Dawan, 1998. Islam kemodernan dan keindonesiaan. Bandung : mizan
Madjid, Nurcholish, 1998. Keterbukaan artikulasi nilai islam dalam wacana social politik kontemporer        Jakarta Selatan : Para Madina
Adams, Ian. 2004. Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today), Penerjemah Ali            Noerzaman. Yogyakarta : Penerbit Qalam
http://hisbulah.blogspot.co.id/2011/04/uraian-materi-nilai-nilai-dasar.html diakses tanggal 29 Agustus 2017 sumber : BPL HMI Cabang Yogyakarta





[1] Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual, Bandung: Mizan, 1994, hlm 13
[2] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, yogyakarta: Pustaka pelajar, 2009, hlm34
[3] Ibid,.hlm. 33
[4] Q.S 49:13
[6] Q.S 4: 75
[7] Q.S 104: 1-4
[8] Q.S 51: 19
[9] Q.S 51: 56
[10] Q.S 2: 201
[12] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 2000 hlm, 457
[13] Mansour Fakih, Jalan Lain, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011, hlm 252-253
[14] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Bandung: Mizan, 2001, hlm 97
[15] Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, 2008, hlm 266
[16] Ibid,. Hlm 271

                   [17] Kuntowijoyo, Op Cit., hlm 137
[19] http://hisbulah.blogspot.co.id/2011/04/uraian-materi-nilai-nilai-dasar.html. diakses tanggal 29 Agustus 2017 sumber : BPL HMI Cabang Yogyakarta
[20] Ian Adams. . Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today)( Penerbit Qalam: Yogyakarta 2004),  Penerjemah Ali Noerzaman.          


[23] Ali Nurdin, ibid., hlm 104-108

Tidak ada komentar:

Posting Komentar