A.
MANUSIA
Manusia berasal dari kata manu (sanskerta) mens
( latin ) yang berarti berfikir, berakal
budi. secara istilah manusia apat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta,sebuaah gagasan atau Realitas , sebuah
kelompok atau seorang individu.
menurut
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia
adalah bhinka,tetapi tunggal. Bhineka karena ia jasmani rohani akan tetapi
tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
Jadi
manusia merupakan paduan antara makhluk material dan sepiritual. Dinamika
manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu
mengaktivitaskan dirinya. Manusia dalam bahasa arab disebut insan ,
berasal dari kata nisiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar
“al-uns” berati jinak. kata insan dipakai untuk menyebut manusia , karena
manusia memiliki sifat lupa dan jinak ( manusia selalu menysuaikan diri dengan
keadaan yang baru disekitarnya).1
Ada
yang mengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) an pendapat ini
diyakini oleh para filosof. Ada juga yang menyebut manusia sbagaai Animal
simbolik, peryataan tersebut didasarkan pada anggapan karenaa manusia
menkomunikasaikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan
simbol-simbol tersebut.
Manusia
juga sebagai homo faber dimana manusia adalah hewan yang melakukan
pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja dan menggunakan alat-alat serta
menciptanya. Manusia memeang makhluk yang aneh, ia sebagai makhluk alami tetapi
disisi lain manusia juga harus menyesuaikan alam sesuai kebutuhannya,Manusia
dapat dikatakan sebagai homo sapiens,
manusia memiliki akal budi dan mengungguli
makhluk lain. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens ( makhluk yang senang bermain) manusia dalam bermain memiliki ciri
khasnya dalam kebudayaan yang bersifat fun. Permainan dalam sejarahnya juga digunakan
untuk memikat dewa-dewa dan bahkan ada sesuatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci.2
1 Musa
Asy’arie, Filsafat Islam (Sunnah Nabi dalam Berpikir),LESFI,Yogyakarta:
2002,hlm.6
2
Muhammad Abdul Halim Sani,6 September 2007, Filsafat
Manusia,Siapakah Manusia,makalah hlm.2, diakses 2 Mei 2010
Manusia menurut paulo Freire merupakan
satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Manusia berbeda dari
hewan yang tidak memiliki sejarah,dan hidup dalam masa kini yang kekal, yang
mempunyai kontaak tidak kritis dengan
dunia, yang hanya berada dalam dunia. Manusia dibedakan dengan hewan
karena kemampuanya untuk melakukan
refleksi yang menjadikan manusia makhuk berelasi dikarenakan kapasitasnya
untuk menyampaikan hubungan dengan
dunia. Tindakan dan kesadaran manusia bersifat
historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal, yang menunjukan disini berhubungan dengan yang
disana, sekarang berhubunga dengan masa lalu dan berhubungan dengan masa yang
akan datang. Manusia meenciptakan sejarah,
juga sebaliknya sejarah menciptakan manusia.3
B.Pengertian
Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata budaya,
sedangkan budaya adalah bentuk jamak dari budi-daya yang berarti cinta, karsa,
dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta buddayah yaitu
bentuk jamak dari kata buddhi berarti budi atau akal.
Berikut
pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli :
1. EB. Taylor, budaya adalah suatu
keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
keilmuan, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang
didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2. R. Linton, kebudayaan dapat dipandang
sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentukannya
didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
3. Koentjaraningrat, mengartikan bahwa
kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar
hasil karya, cipta dan rasa masyarakat.
3
Muhammad Abdul Halim Sani,6 September 2007, Filsafat
Manusia, Siapakah Manusia, makalah hlm.3,diakses 2 Mei 2010
A. Perwujudan Kebudayaan
Kebudayaan
mempunyai 3 wujud, yaitu :
1. Wujud abstrak, berupa kompleks gagasan,
ide, konsep, dan pikiran manusia, wujud ini disebut sistem budaya tidak bisa
dilihat tapi dapat dirasakan, dan berpusat pada gagasan dan pikiran
manusia-manusia penganutnya. Contoh : UUD 45, Pancasila, dst.
2. Wujud kompleks aktivitas, berupa aktivitas
manusia yang saling berinteraksi, bersifat konkret, dapat diamati dan
diobservasi. Ini disebut sistem sosial yang tidak dapat melepaskan diri dari
sistem budaya.
3. Wujud Fisik, wujud kebudayaan sebagai
benda dalam bentuk fisik, konkret, mulai benda diam sampai yang bergerak, wujud
fisik kebudayaan dapat dipkai sebagai indikator dari majunya atau canggihnya
kebudayaan dari sebuah bangsa.
Contoh : Candi Borobudur
atau Prambanan, Keraton Jogja / Surakarta, Pesawat Terbang dan seterusnya.
Menunjukkan bangsa kita bangsa Indonesia telah memiliki kebudayaan maju dan
peradaban tinggi.
Konsep
kebudayaan yang berkembang di kalangan anti antropologi, telah berkembang pula
ke berbagai bidang pemikiran, sekalipun sering kita jumpai belum ada
konsistensi penggunaannya, terutama dalam pemakaiannya masih terdapat pemahaman
yang kurang jelas. Sebagai contoh : Roger M. Keesing dan Goodenough (1957-1961)
mengatakan bahwa dalam konteks definisi serta penggunaannya seringkali masih
kabur. misalnya dalam membedakan antara “Pola untuk perilaku” dan “Pola dari
perilaku”. Kebudayaan sebagai pola untuk perilaku adalah mengacu pada pola
kehidupan suatu masyarakat, yaitu berupa berbagai kegiatan atau bentuk
“Pengaturan Sosial dan Material”. Dalam pengertian kedua adalah berupa gagasan
yang mengacu pada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang menjadi pedoman untuk
mengatur tindakan mereka.4
4 Hari Poerwanto,
Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar
Yogyakarta:2000, hlm.56-57
Sementara
itu kebudayaan yang merupakan fenomena yang selalu berubah sesuai dengan alam
sekitar dan keperluan suatu komunitas berdasarkan pada kerangka pemikiran
tersebut, jelaslah bahwa kebudayaan sebagai suatu sistem yang melingkupi
kehidupan manusia dan pendukungnya, dan merupakan kaitannya dengan lingkungan
fisik maupun sosial budaya. Karenanya, bagaimanakah mutu suatu lingkungan fisik
atau lingkungan sosial itu, pada dasarnya adalah pncerminan kualitas kehidupan
sosial masyarakat para pendukung kebudayaan itu.5
B. Sifat-sifat Kebudayaan
Ada
beberapa sifat dari kebudayaan seperti sebagai berikut,
1.
Etnosentis
Kebudayaan
ini beranggapan bahwa kebudayaannyalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang
dimiliki orang lain. Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang
dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan
budayanya sendiri.
Contoh : kebiasaan
memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut
masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal
yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap
sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggan.
2.
Universal
Kebudayaan
universal adalah kebudayaan yang mencari jawab atas problematika masyarakat,
bukan apologi terhadap kesenian, tidak pula apriori terhadap politisasi massa.
Tetapi, lebih pada rasionalitas melihat dan menjangkau ke depan demi
perkembangan masyarakat majemuk Indonesia.
5 Hari
Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka
Pelajar Yogyakarta:2000, hlm.59
Contoh : Sigit
dari Indonesia dan James dari Inggris sama-sama memiliki kebudayaan (bersifat
universal). Namun, Sigit memiliki pola perilaku untuk menerima sesuatu selalu
menggunakan dengan tangan kanan. Sementara James memiliki pola perilaku untuk
menerima sesuatu bisa dengan menggunakan tangan kanan atau kiri (ciri khusus
kebudayaannya).
3. Akulturasi
Akulturasi
adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan
kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.
Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya
sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Contoh : Bangunan
rumah di daerah Kota, Jakarta Utara dan Juga Museum Fatahillah Jakarta
merupakan wujud akulturasi dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa
ketika menjajah Indonesia. Bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam di
Amsterdam, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur
dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang
pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
4. Adaptif
Kebudayaan
adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah
keberhasila mekanisme bagi spesis manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah
keuntungan selektif yang besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk
kehidupan yang lain.
Contoh : Adaptasi
terhadap budaya luar, karena terjadinya bencana alam masyarakat yang berara
pada daerah terebut harus pindah ke daerah lain yang memiliki budaya berbeda.
5. Dinamis (flexible)
Kebudayaan
itu tidak bersifat statis, ia selalu berubah atau bersifat dinamis. Tanpa
adanya “gangguan” dari kebudayaan lain atau asing pun dia akan berubah dengan berlalunya
waktu. Bila tidak dari luar, akan ada individu-individu dalam kebudayaan itu
sendiri yang akan memperkenalkan variasi -variasi baru dalam tingkah-laku yang
akhirnya akan menjadi milik bersama dan dikemudian hari akan menjadi bagian
dari kebudayaannya. Dapat juga terjadi karena beberapa aspek dalam lingkungan
kebudayaan tersebut mengalami perubahan dan pada akhirnya akan membuat
kebudayaan tersebut secara lambat laun menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi tersebut.
Contoh : Setiap
kebudayaan pasti mengalami perubahan atau perkembangan, walaupun kecil dan
sering kali tidak dirasakan oleh anggota-anggotanya. Coba perhatikan corak
pakaian pada potret nenek anda ketika masih muda, lalu bandingkan dengan corak
pakaian anda saat ini. Tentu keduanya berbeda. Itulah contoh kecil perubahan
dalam masyarakat. Umumnya, unsur kebedaan seperti teknologi lebih terbuka
terhadap proses perubahan, dibandingkan dengan unsur rohani seperti moral dan
agama yang cenderung statis.
6. Integratif (Integrasi)
Integrasi
adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap
komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap
mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2
pengertian, yaitu : Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam
suatu sistem sosial tertentu membuat suatu keseluruhan dan menyatukan
unsur-unsur tertentu Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang
dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur
sosial atau kemasyarakatan.
Contoh :
Sekelompok yang pergi kesuatu daerah yang budayanya berbeda dengan daerah
asalnya maka sekelompok masyarakat tersebut sebagai kebudayaan minoritas yang
harus bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun
masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Terkait
Peran Budaya Lokal Dalam Pembangunan Nasional
Pembangunan
melalui kebudayaan menjadi salah satu faktor penting yang harus dilaksanakan
untuk kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu ke depannya
pemrintah perlu memperhatikan aspek kebudayaan lokal untuk dijadikan
landasan kebijakan dalam melaksanakan programnya masing-masing. Di samping itu
pula peranan masyarakat dituntut aktif dalam pembangunan kebudayaan karena
tanpa partisipasi masyarakat untuk mengembangkan buday lokal, pelaksanaan
pembangunan kebudayaan tidak dapat berhasil dengan sukses. Serta dapat menekan
budaya asing yang semakin hari semakin menghantui bangsa ini.
C. Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan
Sejak manusia turun ke muka bumi, mereka
terus beradaptasi dengan lingkungan hidupnya dari zaman ke zaman hingga
membentuk sebuah budaya masing-masing. Budaya yang dikembangkan oleh manusia
akan berdampak pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu
kebudayaan memancarkan suatu ciri dari masyarakatnya yang nampak dari luar,
artinya orang aing. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap
lingkungan maka seseorang dapat mengetahui mengapa suatu lingkungan tertentu
akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan menghasilkan kebudayaan yang
berlainan pula.
Cara untuk menjelaskan perilaku manusia
sebagai perilaku budaya dalam kaidah dengan lingkungannya terlebih lagi
perspektif lintas budaya akan mengandung variabel yang saling berkaitan dalam
keseluruhan sistem terbuka.
Beberapa variabel yang berkaitan dengan
masalah kebudayaan dan lingkungan diuantaranya :
·
Physical Environment
Menunjuk
pada lingkungan alamiah seperti : suhu, curah hujan, iklim wilayah, flora dan
fauna.
·
Cultural Social Environment
Meliputi
aspek kubudayaan beserta proses sosialisasi seperti norma, adatistiadat, dan
nilai-nilai.
·
Environment Orientation and Representation
Mengacu
pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungan.
·
Enviromental Behavior and Process
Meliputi
bagaimana masyarakat menggunakan
lingkungan dalam hubungan sosial.
·
Out Carrier Product
Meliputi
hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas, kota beserta
usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik seperti budaya
pertanian dan iklim.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam
lingkungan tertentu berdampak pada pola tata laku, norma, nilai dan aspek
kehidupan lainnya yang akan menjadi ciri khas masyarakat itu sendiri.
B. Saran
Manusia hidup karena
adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang
manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan ukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan
kebudayaan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya
tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, bahkan kadang kala
disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.
Maka dari itu, manusia
yang berbudaya sebagaimana hakikat kita sebagai manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Hari
Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Prespektif Antarapologi,
Pustaka Pelajar Yogyakarta :
200. Hal.59
·
Hari
Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Prespektif Antarapologi,
Pustaka Pelajar Yogyakarta :
2000. Hal.56-57
·
Ismawati
Esti, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Penerbit ombak, Yogyakarta : 2012.
Hal 4-6
·
Musa
Asy’ari, sunnah nabi dalam berfikir, Lembaga Studi Filsafat Islam,,
Yogyakarta:2002.
·
Abul
Halim Sani Muhammad, filsafat manusia,
Siapakah Manusia? 6September 2007, makalah
·
Abdul Halim Sani Muhammad, filsafat manusia Siapakah Manusia? 2Mei
2010, makalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar