Senin, 01 April 2019

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN



A.    MANUSIA
Manusia  berasal dari kata manu (sanskerta) mens ( latin )  yang berarti berfikir, berakal budi. secara istilah manusia apat diartikan sebuah konsep atau sebuah  fakta,sebuaah gagasan atau Realitas , sebuah kelompok  atau seorang individu.
menurut  NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhinka,tetapi tunggal. Bhineka karena ia jasmani rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
Jadi manusia merupakan paduan antara makhluk material dan sepiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivitaskan dirinya. Manusia dalam bahasa arab disebut insan , berasal dari kata nisiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar “al-uns” berati jinak. kata insan dipakai untuk menyebut manusia , karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak ( manusia selalu menysuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya).1
Ada yang mengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) an pendapat ini diyakini oleh para filosof. Ada juga yang menyebut manusia sbagaai Animal simbolik, peryataan tersebut didasarkan pada anggapan karenaa manusia menkomunikasaikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut.
Manusia juga sebagai homo faber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja dan menggunakan alat-alat serta menciptanya. Manusia memeang makhluk yang aneh, ia sebagai makhluk alami tetapi disisi lain manusia juga harus menyesuaikan alam sesuai kebutuhannya,Manusia dapat dikatakan  sebagai homo sapiens, manusia memiliki akal budi dan mengungguli  makhluk lain. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens ( makhluk yang senang bermain) manusia dalam bermain memiliki ciri khasnya dalam kebudayaan yang bersifat fun. Permainan dalam sejarahnya juga digunakan untuk memikat dewa-dewa dan bahkan ada sesuatu kebudayaan yang menganggap  permainan sebagai ritus suci.2
1 Musa Asy’arie, Filsafat Islam (Sunnah Nabi dalam Berpikir),LESFI,Yogyakarta: 2002,hlm.6
2 Muhammad Abdul Halim Sani,6 September 2007, Filsafat Manusia,Siapakah Manusia,makalah hlm.2, diakses 2 Mei 2010
Manusia menurut paulo Freire merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah,dan hidup dalam masa kini yang kekal, yang mempunyai  kontaak tidak kritis dengan dunia, yang hanya berada dalam dunia. Manusia dibedakan dengan hewan karena  kemampuanya untuk melakukan refleksi yang menjadikan manusia makhuk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk  menyampaikan hubungan dengan dunia. Tindakan dan kesadaran manusia  bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal, yang menunjukan disini berhubungan dengan yang disana, sekarang berhubunga dengan masa lalu dan berhubungan dengan masa yang akan datang. Manusia meenciptakan sejarah,  juga sebaliknya sejarah menciptakan manusia.3
B.Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata budaya, sedangkan budaya adalah bentuk jamak dari budi-daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta buddayah yaitu bentuk jamak dari kata buddhi berarti budi atau akal.
Berikut pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli :
1.      EB. Taylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.      R. Linton, kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
3.      Koentjaraningrat, mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar hasil karya, cipta dan rasa masyarakat.



3 Muhammad Abdul Halim Sani,6 September 2007, Filsafat Manusia, Siapakah Manusia, makalah hlm.3,diakses 2 Mei 2010
A.    Perwujudan Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai 3 wujud, yaitu :
1.      Wujud abstrak, berupa kompleks gagasan, ide, konsep, dan pikiran manusia, wujud ini disebut sistem budaya tidak bisa dilihat tapi dapat dirasakan, dan berpusat pada gagasan dan pikiran manusia-manusia penganutnya. Contoh : UUD 45, Pancasila, dst.
2.      Wujud kompleks aktivitas, berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat konkret, dapat diamati dan diobservasi. Ini disebut sistem sosial yang tidak dapat melepaskan diri dari sistem budaya.
3.      Wujud Fisik, wujud kebudayaan sebagai benda dalam bentuk fisik, konkret, mulai benda diam sampai yang bergerak, wujud fisik kebudayaan dapat dipkai sebagai indikator dari majunya atau canggihnya kebudayaan dari sebuah bangsa.
Contoh : Candi Borobudur atau Prambanan, Keraton Jogja / Surakarta, Pesawat Terbang dan seterusnya. Menunjukkan bangsa kita bangsa Indonesia telah memiliki kebudayaan maju dan peradaban tinggi.

Konsep kebudayaan yang berkembang di kalangan anti antropologi, telah berkembang pula ke berbagai bidang pemikiran, sekalipun sering kita jumpai belum ada konsistensi penggunaannya, terutama dalam pemakaiannya masih terdapat pemahaman yang kurang jelas. Sebagai contoh : Roger M. Keesing dan Goodenough (1957-1961) mengatakan bahwa dalam konteks definisi serta penggunaannya seringkali masih kabur. misalnya dalam membedakan antara “Pola untuk perilaku” dan “Pola dari perilaku”. Kebudayaan sebagai pola untuk perilaku adalah mengacu pada pola kehidupan suatu masyarakat, yaitu berupa berbagai kegiatan atau bentuk “Pengaturan Sosial dan Material”. Dalam pengertian kedua adalah berupa gagasan yang mengacu pada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang menjadi pedoman untuk mengatur tindakan mereka.4



                4  Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta:2000, hlm.56-57
Sementara itu kebudayaan yang merupakan fenomena yang selalu berubah sesuai dengan alam sekitar dan keperluan suatu komunitas berdasarkan pada kerangka pemikiran tersebut, jelaslah bahwa kebudayaan sebagai suatu sistem yang melingkupi kehidupan manusia dan pendukungnya, dan merupakan kaitannya dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya. Karenanya, bagaimanakah mutu suatu lingkungan fisik atau lingkungan sosial itu, pada dasarnya adalah pncerminan kualitas kehidupan sosial masyarakat para pendukung kebudayaan itu.5
B.     Sifat-sifat Kebudayaan
Ada beberapa sifat dari kebudayaan seperti sebagai berikut,
1.      Etnosentis
Kebudayaan ini beranggapan bahwa kebudayaannyalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki orang lain. Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri.
Contoh : kebiasaan memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggan.
2.      Universal
Kebudayaan universal adalah kebudayaan yang mencari jawab atas problematika masyarakat, bukan apologi terhadap kesenian, tidak pula apriori terhadap politisasi massa. Tetapi, lebih pada rasionalitas melihat dan menjangkau ke depan demi perkembangan masyarakat majemuk Indonesia.


5 Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta:2000, hlm.59
Contoh : Sigit dari Indonesia dan James dari Inggris sama-sama memiliki kebudayaan (bersifat universal). Namun, Sigit memiliki pola perilaku untuk menerima sesuatu selalu menggunakan dengan tangan kanan. Sementara James memiliki pola perilaku untuk menerima sesuatu bisa dengan menggunakan tangan kanan atau kiri (ciri khusus kebudayaannya).
3.      Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Contoh : Bangunan rumah di daerah Kota, Jakarta Utara dan Juga Museum Fatahillah Jakarta merupakan wujud akulturasi dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa ketika menjajah Indonesia. Bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam di Amsterdam, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
4.      Adaptif
Kebudayaan adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah keberhasila mekanisme bagi spesis manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah keuntungan selektif yang besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.
Contoh : Adaptasi terhadap budaya luar, karena terjadinya bencana alam masyarakat yang berara pada daerah terebut harus pindah ke daerah lain yang memiliki budaya berbeda.


5.      Dinamis (flexible)
Kebudayaan itu tidak bersifat statis, ia selalu berubah atau bersifat dinamis. Tanpa adanya “gangguan” dari kebudayaan lain atau asing pun dia akan berubah dengan berlalunya waktu. Bila tidak dari luar, akan ada individu-individu dalam kebudayaan itu sendiri yang akan memperkenalkan variasi -variasi baru dalam tingkah-laku yang akhirnya akan menjadi milik bersama dan dikemudian hari akan menjadi bagian dari kebudayaannya. Dapat juga terjadi karena beberapa aspek dalam lingkungan kebudayaan tersebut mengalami perubahan dan pada akhirnya akan membuat kebudayaan tersebut secara lambat laun menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi tersebut.
Contoh : Setiap kebudayaan pasti mengalami perubahan atau perkembangan, walaupun kecil dan sering kali tidak dirasakan oleh anggota-anggotanya. Coba perhatikan corak pakaian pada potret nenek anda ketika masih muda, lalu bandingkan dengan corak pakaian anda saat ini. Tentu keduanya berbeda. Itulah contoh kecil perubahan dalam masyarakat. Umumnya, unsur kebedaan seperti teknologi lebih terbuka terhadap proses perubahan, dibandingkan dengan unsur rohani seperti moral dan agama yang cenderung statis.
6.      Integratif (Integrasi)
Integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu : Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Contoh : Sekelompok yang pergi kesuatu daerah yang budayanya berbeda dengan daerah asalnya maka sekelompok masyarakat tersebut sebagai kebudayaan minoritas yang harus bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Terkait Peran Budaya Lokal Dalam Pembangunan Nasional
Pembangunan melalui kebudayaan menjadi salah satu faktor penting yang harus dilaksanakan untuk kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu ke depannya pemrintah perlu memperhatikan aspek kebudayaan lokal untuk dijadikan landasan kebijakan dalam melaksanakan programnya masing-masing. Di samping itu pula peranan masyarakat dituntut aktif dalam pembangunan kebudayaan karena tanpa partisipasi masyarakat untuk mengembangkan buday lokal, pelaksanaan pembangunan kebudayaan tidak dapat berhasil dengan sukses. Serta dapat menekan budaya asing yang semakin hari semakin menghantui bangsa ini.
C.     Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan
Sejak manusia turun ke muka bumi, mereka terus beradaptasi dengan lingkungan hidupnya dari zaman ke zaman hingga membentuk sebuah budaya masing-masing. Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berdampak pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri dari masyarakatnya yang nampak dari luar, artinya orang aing. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan maka seseorang dapat mengetahui mengapa suatu lingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan menghasilkan kebudayaan yang berlainan pula.
Cara untuk menjelaskan perilaku manusia sebagai perilaku budaya dalam kaidah dengan lingkungannya terlebih lagi perspektif lintas budaya akan mengandung variabel yang saling berkaitan dalam keseluruhan sistem terbuka.
Beberapa variabel yang berkaitan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan diuantaranya :
·         Physical Environment
Menunjuk pada lingkungan alamiah seperti : suhu, curah hujan, iklim wilayah, flora dan fauna.
·         Cultural Social Environment
Meliputi aspek kubudayaan beserta proses sosialisasi seperti norma, adatistiadat, dan nilai-nilai.
·         Environment Orientation and Representation
Mengacu pada persepsi dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat  mengenai lingkungan.
·         Enviromental Behavior and Process
Meliputi bagaimana masyarakat  menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial.
·         Out Carrier Product
Meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas, kota beserta usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik seperti budaya pertanian dan iklim.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berdampak pada pola tata laku, norma, nilai dan aspek kehidupan lainnya yang akan menjadi ciri khas masyarakat itu sendiri.

B.     Saran
Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan  ukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.
Maka dari itu, manusia yang berbudaya sebagaimana hakikat kita sebagai manusia.



DAFTAR PUSTAKA

·         Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Prespektif Antarapologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta            : 200. Hal.59
·         Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Prespektif Antarapologi, Pustaka Pelajar Yogyakarta            : 2000. Hal.56-57
·         Ismawati Esti, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Penerbit ombak, Yogyakarta : 2012. Hal 4-6
·         Musa Asy’ari, sunnah nabi dalam berfikir, Lembaga Studi Filsafat Islam,, Yogyakarta:2002.
·         Abul Halim Sani Muhammad, filsafat manusia,  Siapakah Manusia? 6September 2007, makalah
·         Abdul Halim Sani Muhammad, filsafat manusia Siapakah Manusia? 2Mei 2010, makalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar