1.
a. Pengertian
Istilah pemberdayaan (empowerment),
menurut Ginanjar Kartasasmita pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya
(masyarakat) dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan
akan potensi serta berupaya untuk mengembangkan.[1]Sedangkan
menurut Wuraji yang dikutip oleh Azis pemberdayaan adalah sebuah proses
penyadaranmasyarakat yang dilakukan secara transformative, partisipatif dan
berkesinambungan melalui peningkatan kemampuan dalam menangani berbagai
persoalan dasar yang dihadapi dan meningkatkan kondisi hidup sesuai dengan
harapan.[2]
Dengan kata lainpemeberdayaan merupakan
sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah srangkaian
kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam
masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami kemiskinan. Sedangkan
sebagai tujuan, maka pemberdayaan menujuk pada keadaan atau hasil yang ingin
dicapai oleh sebuah perubahan sosial.[3]
Dari beberapa pengertian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa pengertian pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan
melalui serangkaian kegiatan, untuk memperkuat keberdayaan kelompok lemah yang
terdapat di masyarakat agar dapat mencapai kehidupan yang lebih baik.
b. Ekonomi Masyarakat
Dalam konteks permasalahan sederhana,
ekonomi rakyat merupakan strategi” bertahan hidup” yang dikembangkan oleh
penduduk masyarakat miskin, baik di kota maupun di desa.[4]
Meningkatkan kesejahteraan, ekonomi dapat diartikan sebagai upaya dalam
mengelola rumah tangga. Tujuannya adalah untuk memnuhi kebutuhan hidup melalui
tiga kegiatan utama yaitu: produksi, distribusi, dan konsumsi. Pemenuhan hidup
dengan kendala terbatasnya sumber daya, erat kaitannya dengan upaya
meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan.[5]
Produksi, distribusi dan konsumsi,
merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus dan sering
disebut sebagai proses yang berkesinambungan, proses ini berjalan secara
alamiah sejalan dengan perkembangan masyarakat dibidang sosial, ekonomi, budaya
dan politik. Secara ekonomi, proses alamiah yaitu bahwa yang menghasilakan
(produksi) harus menikmati (konsumsi), dan sebaliknya yang menikmati harus yang
menghasilkan.
Dengan demikian pemberdayaan ekonomi
masyarakat adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat yang dengan
secara swadaya mengelola sumber daya apapun yang dapat dikuasainya, dan
ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan keluarganya.[6]
Upaya pembangunan ekonomi masyarakat mengarah pada perubahan struktur yaitu
memperkuat kedudukan dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional.
2.
Tujuan
pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan adalah sebuah proses dan
tujuan. Sebagai tujuan maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang
ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berdaya,
memiliki kekuasaaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial seperti
memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata
pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam
melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan
seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebuah proses.[7]
3.
Proses
Pemberdayaan Masyarakat
Sebagai suatu proses, pemberdayaan
merupakan proses yang berkesinamabungan sepanjang hidup seseorang (on going)
dan sepanjang komunitas itu masih ingin melakukan perubahan dan perbaikan, dan
tidak hanya terpaku pada suatu program
saja. Sebaga suatu program, pemberdayaan dilihat dari tahapan-tahapan kegiatan
guna mencapai suatu tujuan, yang biasanya sudah ditentukan jangka waktunya.[8]
Tahapan pemberdayaan merupakan salah satu
langkah dimana lembaga melakukan kegiatan pemberdayaan terhadap komunitas atau
masyarakat disekitarnya. Tahapan pemberdayaan masyarakat seperti yang
diungkapkan oleh Nana Mintarti yaitu:
a. Penyadaran
b. Pengorganisasian
c. Kaderisasi
d. Dukungan Teknis
e. Pengelolaan sistem
Tahapan pemberdayaan ini akan berjalan
dengan baik bila adanya dukungan dari pihak-pihak internal dan eksternal
seperti dukungan dari para anggota bang sampah, masyarakat disekitar desa
Kemplong, pihak RT/RW, pihak kelurahan hingga pemerinta kabupaten pekalongan,
karena untuk menciptakan masyarakat yang terberdaya membutuhkan dukungan dari
semua pihak.
4.
Strategi
Pemberdayaan Masyarakat
Upaya pemberdayaan masyarakat merupakan
tuntutan utama pembangunan, ini terkait dengan teori sumber daya manusi yang
memandang mutu penduduk sebagai kunci utama pembangunan.[9]
Dalam konteks pekerjaan sosial,
pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan
(empowerment setting): mikro, mezzo dan makro.
a. Aras Mikro
Pemberdayaan dilakukan terhadap klien
secara individu melalui bimbingan, konseling, strees management crisis
intervension. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam
menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai
pendekatan yang berpusat pada tugas.
Pemberdayaan pada aras mikro ini lebih
kepada membimbing dan melatih masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas
kehidupan. Dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan daur ulang sampah
plastik di bank sampah ini bertujuan untuk membimbing dan melatih masyarakat
agar dapat melakukan tugas-tugas daur ulang secara mandiri.
b. Aras Mezzo
Pemberdayaan dilakukan terhadap kelompok
klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunkan kelompok sebagai media
intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok biasanya digunakan
sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan
sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang
dihadapinya.
c. Aras Makro
Pendekatan ini disebut
juga sebagai strategi sistem besar, karena sasaran perubahan diarahkan pada
sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial,
kampanye
[1] Ginanjar Kartasasmita, Pembangunan untuk rakyat: Memadukan pertumbuhan
dan pemerataan, (Jakarta: PT. Pustaka Cidesindo, 1996), hlm. 145.
[2] Azis Muslim, Metodologi pengembangan masyarakat, (Yogyakarta: Teras,
2009), hlm. 3
[3] Ibid, hlm 59-60
[4] Mubyarto, Ekonomi rakyat dan program IDT, (Yogyakarta: Aditya Media,
1996), hlm. 4
[5] Gunawan Sumodiningrat, “Membangun perekonomian rakyat, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 24
[6] Op Cit. Hlm. 1
[7] Salam syamsir dan Fadhilah amir, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta: Lembaga
penelitian UIN Syarif Hidayatullah), hlm.233
[8] Isbandi Rukmito Adi, Pemikiran-pemikiran dalam pembangunan
kesejahteraan sosial, (Jakarta: Lembaga Penernit FE-UI, 2002), HLM. 171-172
[9] Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan rakyat, (Bandung: PT
Refika Aditama), hlm. 66
Tidak ada komentar:
Posting Komentar