A. Pengertian
Hadis Mauquf
Mauquf
menurut bahasa waqaf yang berarti
berhenti atau stop. Mauquf adalah barang yang dihentikan atau barang yang diwaqafkan.
Menurut pengertian istilah
ulama hadis, hadis mauquf ialah:
مَاأُضِيْفُ اِلَى الصَّحَابِيْ
مِنْ قَوْلِ اَوْفِعْلِ اَوْنَحْوِ ذَلِكَ مُتَّصِلًا كَانَ اَوْمُنْقَطِعًا
“Sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, baik dari perbuatan, perkataan,
dan persetujuan, baik bersambung sanadnya maupun terputus.”
Kata Ibnu Al Atsir dalam Al jami’ :
الْحَدِيْثُ الَّذِيْ وَقَفَ
عَلَى الصَّحَابِيْ لَايَخْفَى عَلَى الْعَالِمِ بِالْحَدِيْثِ وَهُوَمَااُسْنِدَاِلَى
الصَّحَابِيْ فَإِذَابَلَغَ الصَّحَابِيْ قَاَلَ: اِنَّهُ يَقُوْلُ كَذَا أَوْيَفْعَلُ
كَذَا أَوِ أْمُرُبِكَذ
“Hadis
yang dihentikan (sandarannya) pada seseorang sahabat tidak tersembunyi bagi seorang
ahli hadis, yaitu suatu hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat, ia
(seorang perawi) berkata: bahwasanya sahabat berkata begini, atau berbuat
begini, atau menyuruh begini.”
Sebagian ulama mendefinisikan hadis mauquf adalah:
الْحَدِيْثُ الَّذِيْ اُسْنِدُ اِلَى
الصَّحَابِيْ دُوْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Hadis
yang disandarkan kepada seorang sahabat, tidak sampai kepada Nabi SAW.”
Dari berbagai
definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa hadis mauquf adalah sesuatu yang
disandarkan kepada seorang sahabat atau segolongan sahabat, baik berupa
perkataan, perbuatan, dan persetujuan, baik bersambung sanadnya atau terputus.
Jadi sandaran hadis ini hanya sampai kepada sahabat tidak sampai kepada Nabi
SAW. Jelasnya, hadis ini perkataan seorang sahabat atau perbuatan dan
persetujuannya.[1]
Fuquha khurrasan menyebut mauquf dengan
atsar, sedang hadis marfu’ mereka diberi nama dengan khabar. Dalam syarah an
Nukhbah diterangkan, bahwa hadis mauquf dan marfu’ dinamakan atsar. Sedangkan
An Nawawi menjelaskan bahwa muhadditsin menamakan hadis marfu, mauquf dan
maqthu’ dengan atsar.
Skema Hadis Mauquf
|
موقوف
|
|
البخاري
|
|
الراوي
|
|
تابعي
|
|
تبع التابعي
|
|
صحابي
|
Gambar Skema
Hadis Mauquf.[2]
B.
Kehujjahan Hadis Mauquf
Para ulama
berpendapat bahwa hadis mauquf terkadang dapat disifati hadis shahih, hasan, dan dhaif tetapi kita tidak ada
kewajiban untuk menjalankannya, tetapi boleh dijadikan sebagai penguat dalam
beramal karena sahabat dalam hal ini hanya berkata atau berbuat yang dibenarkan
oleh Rasulullah.[3]
Oleh karena itu hadis mauquf tidak dapat dijadikan hujjah kecuali ada qarinah
yang menunjukkan (menjadikan) marfu’ yaitu mauquf dihukumi marfu’ yang disebut
dengan marfu’ hukmi. Maksudnya, dilihat dari lafalnya mauquf, tetapi dilihat
dari maknanya adalah marfu’.[4]
C. Contoh-Contoh Hadis
Mauquf
Dari definisi
tentang hadis yang telah disebutkan, klasifikasi hadis mauquf dapat berupa
perkataan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Untuk lebih dapat membantu
pemahaman kita tentang hadis mauquf, berikut contoh-contohnya.
a. Contoh Mauquf
Qauli (perkataan)
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ
مَسْعُوْدٍ قَالَ: لَايُقَلِّدَنَّ اَحَدُكُمْ دِيْنَهُ رَجُلًا, فَاِنْ اَمَنَ اَمَنَ,
وَاِنْ كَفَرَكَفَرَ.. رواه ابونعيم
“Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: “janganlah hendaknya seseorang dari
kamu taqlid agamnya dari orang, karena kalau orang ini beriman, ia juga turut
beriman, tetapi kalau orang itu kufur, iapun ikut kufur.” (HR. Abu Nu’aim)
Abdullah bin Mas’ud adalah
seorang sahabat Nabi SAW. Riwayat diatas jelas menunjukkan perkataan Abdullah
bin Mas’ud, karenanya hadis yang seperti ini dinamakan hadis mauquf.
b. Contoh mauquf
fi’li (perbuatan)
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ:
خَيَّرَ عُمَرُغُلَامًابَيْنَ اَبِيْهِ وَاُمِّهِ فَا فَخْتَارَا اُمَّهُ فَانْطَلَقَتْ
بِهِ. المحلى
“Dari Abdillah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: Umar menyuruh kepada
seeorang anak laki-laki memilih antara ayah dan ibunya. Maka anak itu memilih
ibunya, lalu ibunya membawa dia.”(Al Muhalla)
Yang dimaksud umar dalam hadis
tersebut adalah Umar bin Khattab, sahabat Nabi SAW. Perbuatan yang disandarkan
kepada sahabat sebagaimana hadis tersebut dinamakan hadis mauquf.
c. Contoh mauquf
Taqrir (Persetujuan)
عَنِ الزُّهْرِيِّ اَنَّ
عَاتِكَةَ بِنْتِ زَيْدِبْنِ عَمْرِوبْنِ نُفَيْلٍ كَانَتْ تَحْتَ عُمَرَابْنِ الْخَطَّابِ
وَكَانَتْ تَشْهَدُالصَّلَاةَ فِى الْمَسْجِدِ فَكَانَ عُمَرُيَقُوْلُ لَهَا: وَاللهِ
اِنَّكِ لَتَعْلَمِيْنَ مَا اُحِبُّ هَذَا. فَقَالَتْ: وَاللهِ لَااَنْتَهِي حَتَّى
تَنْهَانِي. فَقَالَ عُمَرُ: فَاِنِّي لَااَنْهَاكِ .المحلى
“dari
Zuhri bahwa Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail menjadi hamba Umar bin
Khattab. Adalah Atikah pernah turut shalat dalam masjid. Maka Umar berkata
kepadanya, “Demi Allah engakau sudah tahu bahwa aku tidak suka perbuatan ini.”
Atikah berkata “Demi Allah aku tidak mau berhnetisebelum engkau melarang aku.”
Akhirnya umar berkata, “aku tidak mau melarangmu.” (Al-Muhalla)
Umar bin Khattab adalah seorang
sahabat Nabi SAW. Dalam riwayat tersebut menunjukkan Umar membenarkan perbuatan
Atikah, yakni shalat di masjid.[5]
D. Hadis Mauquf
dinilai Marfu’
Sebagaimana yang telah diterangkan, bahwa
hadis mauquf tidak dapat dijadikan hujjah kecuali jika hadis tersebut dipandang
marfu’ secara hukum. Ada beberapa hadis mauquf yang dihukumi marfu’ pada beberapa tempat yaitu sebagai berikut:
1)
Jika seorang perawi menegaskan beberapa kata
ketika menyebut nama sahabat yaitu;
a.
يَرْفَعُهُ =
ia marfu’kan hadis ini kepada Nabi
Misalnya, perkataan Al Bukhari, dari Ibnu
Abbas (ia marfu’kan):
اَلشِّفَاءُفِى ثَلَاثَةٍ:
شُرْبَةِعَسَلٍ, وَشُرْطَةِ مِحْجَمٍ, وَكِيَّةٍ نَارٍ
Kesembuhan itu terdapat pada tiga perkara:
Minum madu, membekam dan menggosok badan dengan besi panas.
b.
يَنْمِيْهِ = ia bangsakan kepada Nabi
Misalnya, perkataan
Malik dari Abu Hazim dari Sahal ibn Sa’ad As Said r.a katanya :
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُوْنَ اَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ
يَدَهُ الْيُمْنَ عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِى الصَّلَاةِ
Adalah manusia disuruh meletakkan tangan
kanannya atas hasta tangan kiri dalam sembahyang.
Abu Hasim berkata:
لَااَعْلَمُ اِلَّااَنَّهُ
يُنْمِى ذَالِكَ
Menurut pengetahuanku, bahwa Sahal itu
membangsakan kepada Nabi
Diceritakan dari Ibnu Sirin, bahwa beliau
berkata:
كُلُّ حَدِ يْتٍ عَنْ اَبِى
هُوَيْرَةَ فَهُوَمَرْفُوْعٌ
Segala hadis yang kuceritakan dari Abi
Hurairah marfu’ semuanya
c.
يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيُّ = ia sampaikan kepada Nabi dengan riwayat itu
Misalnya, perkataan Al
A’raj dari Abi Hurairah r.a (ia sampai kepada Nabi dengan riwayat itu):
الَنَّاسُ تَبْعٌ لِقُرَيْشٍ
Manusia itu mengikut orang Quraisy (HR.
Bukhari dan Muslim)
d.
رِوَايَةٌ = ia beritakan
secara riwayat dari Nabi
Misalnya, perkataan Al
A’raj dari Abi Hurairah r.a (ia beritakan secara riwayat):
تُقَاتِلُوْنَ قَوْمًاصِغَارَالْاَعْيُنِ
Kamu akan memerangi
kaum yang kecil-kecil matanya (HR. Bukhari)[6]
2)
Jika seorang sahabat mengatakan, seperti :
a. أُمِرْنَابِكَذَا = kami diperintah begini
Misalnya, seperti
perkataan sebagai sahabat:
اُمِرَبِلَالٌ اَنْ يَشْفَعُ
الْاَذَانَ وَيُوْترُالْاِقَامَةَ
Bilal diperintah
menggenapkan (kalimat) adzan dan mengganjilkan (kalimat) iqamat. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
b.
نُهِيْنَاعَنْ كَذَا = kami dilarang begini
Misalnya, kata Ummi
Athiyah:
نَهِيْنَاعَنِ اتبَاعِ
الْجَنَاءِزِوَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا
Kami dilarang
mengantarkan jenazah (ke kubur) dan tidak diwajibkan atas kami. (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
c. مِنَ السُّنَةِ كَذَا = diantara sunnah begini
Misalnya, kata Abu
Qilabah dari Anas:
مِنَ السُّنَةِ اِذَاتَرَوْجَ
البكْرَعَلَى الثَيِّبِ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا
Diantara sunnah, jika
seseorang mengawini gadis atas janda tinggal padanya tujuh hari. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
3)
Sahabat memberitakan,
bahwa mereka berkata demikian atau melakukan begini atau mereka tidak melihat
bahaya apa-apa. Maka hukumnya ada dua kemungkinan:
a.
Jika disandarkan pada masa Nabi SAW. Menurut
pendapat yang shahih dihukumi marfu’.
Seperti perkataan Jabir:
كُنَّانَعْزِلُ عَلَى عَهْدِالنَّبِيَّ صلى الله
عليه وسلم وَالْقُرْانُ يَنْزِلُ وَلَوْكَانَ شَيْءًايَنْهَى عَنْهُ لَنَهَا نَاعَنْهُ
الْقُرْانُ
Kami pernah ‘azl pada masa Rasulullah sedang masih turun. Jikalau hal itu
sesuatu yang dilarang tentu Al-Qur’an melarang kami. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b.
Jika tidak disandarkan kepada masa Nabi SAW.
Jumhur berpendapat mauquf.
Seperti perkataan Jabir:
كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا
كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا
Kami ketika naik dan membaca takbir dan ketika
turun membaca tasbih. ( HR. Al-Bukhari)
4)
Penafsiran sahabat yang berkaitan dengan sebab
nuzulnya suatu ayat.
Seperti perkataan Jabir:
كَانَتِ الْيَهُوْدُ تَقُوْلُ:
مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِيْ قُبُلِهَاجَاءَالْوَلَدُ أَحْوَلَ"فَأَنْزَلَ
الله تعَلَى: نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ...
Orng yahudi berkata: barang siapa mendatangi
istrinya dari belakang pada jalan depan, maka anaknya jereng matanya. Kemudian turun
ayat: wanita-wanita (istri-istri) kamu bagaikan ladang bagimu...(HR. Muslim)[7]
E. Urgensi Mempelajari Hadis Mauquf.
Hadis adalah segala perkataan, perbuatan,
ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW. Hadis bukan hanya disandarkan
pada Rasulullah saja tetapi juga dapat disandarkan oleh sahabat, yang biasa
disebut hadi mauquf. Mempelajari hadis mauquf tidak kalah pentingnya dengan
mempelajari hadis-hadis lainnya. Dengan mempelajari Hadis mauquf, kita dapat
mengetahui mana hadis mauquf yang shahih, hasan, dan dhaif. Pentingnya
mempelajari hadis mauquf dalam ilmu hadis juga dapat mengetahui mana Hadis
Marfu’ dapat dijadikan sumber hukum dan mana yang tidak bisa dijadikan sumber
hukum, juga kita dapat mengetahui macam-macam hadis mauquf serta perbedaannya
satu dengan lainnya.
BAB III
PENUTUP
Hadis mauquf adalah perkataan, perbuatan,
atau taqrir yang disandarkan kepada sahabat Nabi SAW. Baik sanadnya bersambung
maupun terputus. Hadis mauquf terbagi menjadi tiga yakni, hadis mauquf qauli,
hadis mauquf fi’li, dan hadis mauquf taqrir. Hadis mauquf tidak dapat
dijadikkan hujjah kecuali apabila hadis
mauquf dihukumi marfu’ yang disebut dengan marfu’ hukmi. Ada beberapa macam
hadis mauquf yang dinilai sebagai hadis marfu pada beberapa tempat
seperti, jika seorang perawi menegaskan
beberapa kata ketika menyebut nama sahabat,
perkataan sahabat yang berisi
perintah, larangan dan antara sunnah, apabila sahabat memberitakan dengan
disandarkan kepada Nabi ,apabila yang diriwayatkan sahabat itu sebab-sebab
turunnya Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
Khon,
Abdul Majid. 2009. ULUMUL HADIS. Jakarta: Amzah.
Ash Shiddieqy, Hasbi.
1975. Pokok – Pokok ILMU DIRAYAH
HADIS.
Jakarta:Bulan Bintang
Gufron, Mohammad dan Rahmawati. 2013. ULUMUL HADITS: PRAKTIS
DAN MUDAH. Yogyakarta: Teras
Rosidin, Mukarom
Faisal dan Sugiono. 2010. Buku Ajar Hadis MA Progam
KeagamaanKelas XI. Sragen.
[1] Abdul Majid Khon, ULUMUL HADIS Cet 3, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm.
226-227
[2] Mohammad Gufron dan Rahmawati, ULUMUL HADIS: PRAKTIS DAN MUDAH,
(Yogyakarta: Teras, 2013) hlm. 99
[5] Mukarom Faisal Rosidin dan Sugiono, Buku Ajar Hadis MA Progam Keagamaan
Kelas XI, (Sragen: 2010), hlm. 33-34
[6] Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok- Pokok ILMU DIRAYAH HADITS, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1975), hlm. 313-314
[7] Abdul Majid Khon, ULUMUL HADIS Cet 3, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm.
229-230
Tidak ada komentar:
Posting Komentar