Senin, 01 April 2019

HADIS MAUQUF



A.       Pengertian Hadis Mauquf
     Mauquf  menurut bahasa waqaf yang berarti berhenti atau stop. Mauquf adalah barang yang dihentikan atau barang yang diwaqafkan.
Menurut pengertian istilah ulama hadis, hadis mauquf ialah:
مَاأُضِيْفُ اِلَى الصَّحَابِيْ مِنْ قَوْلِ اَوْفِعْلِ اَوْنَحْوِ ذَلِكَ مُتَّصِلًا كَانَ اَوْمُنْقَطِعًا
“Sesuatu yang disandarkan kepada sahabat, baik dari perbuatan, perkataan, dan persetujuan, baik bersambung sanadnya maupun terputus.”

Kata Ibnu Al Atsir dalam Al jami’ :
الْحَدِيْثُ الَّذِيْ وَقَفَ عَلَى الصَّحَابِيْ لَايَخْفَى عَلَى الْعَالِمِ بِالْحَدِيْثِ وَهُوَمَااُسْنِدَاِلَى الصَّحَابِيْ فَإِذَابَلَغَ الصَّحَابِيْ قَاَلَ: اِنَّهُ يَقُوْلُ كَذَا أَوْيَفْعَلُ كَذَا أَوِ أْمُرُبِكَذ
“Hadis yang dihentikan (sandarannya) pada seseorang sahabat tidak tersembunyi bagi seorang ahli hadis, yaitu suatu hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat, ia (seorang perawi) berkata: bahwasanya sahabat berkata begini, atau berbuat begini, atau menyuruh begini.”

Sebagian ulama mendefinisikan hadis mauquf adalah:
الْحَدِيْثُ الَّذِيْ اُسْنِدُ اِلَى الصَّحَابِيْ دُوْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat, tidak sampai kepada Nabi SAW.”

       Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa hadis mauquf adalah sesuatu yang disandarkan kepada seorang sahabat atau segolongan sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan, baik bersambung sanadnya atau terputus. Jadi sandaran hadis ini hanya sampai kepada sahabat tidak sampai kepada Nabi SAW. Jelasnya, hadis ini perkataan seorang sahabat atau perbuatan dan persetujuannya.[1]
       Fuquha khurrasan menyebut mauquf dengan atsar, sedang hadis marfu’ mereka diberi nama dengan khabar. Dalam syarah an Nukhbah diterangkan, bahwa hadis mauquf dan marfu’ dinamakan atsar. Sedangkan An Nawawi menjelaskan bahwa muhadditsin menamakan hadis marfu, mauquf dan maqthu’ dengan atsar.

       Skema Hadis Mauquf
موقوف
البخاري
الراوي
تابعي
تبع التابعي
صحابي
 










Gambar Skema Hadis Mauquf.[2]

B.        Kehujjahan Hadis Mauquf
       Para ulama berpendapat bahwa hadis mauquf terkadang dapat disifati hadis shahih,  hasan, dan dhaif tetapi kita tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, tetapi boleh dijadikan sebagai penguat dalam beramal karena sahabat dalam hal ini hanya berkata atau berbuat yang dibenarkan oleh Rasulullah.[3] Oleh karena itu hadis mauquf tidak dapat dijadikan hujjah kecuali ada qarinah yang menunjukkan (menjadikan) marfu’ yaitu mauquf dihukumi marfu’ yang disebut dengan marfu’ hukmi. Maksudnya, dilihat dari lafalnya mauquf, tetapi dilihat dari maknanya adalah marfu’.[4]

C.       Contoh-Contoh Hadis Mauquf
       Dari definisi tentang hadis yang telah disebutkan,  klasifikasi hadis mauquf dapat berupa perkataan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Untuk lebih dapat membantu pemahaman kita tentang hadis mauquf, berikut contoh-contohnya.
a.       Contoh Mauquf Qauli (perkataan)
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: لَايُقَلِّدَنَّ اَحَدُكُمْ دِيْنَهُ رَجُلًا, فَاِنْ اَمَنَ اَمَنَ, وَاِنْ كَفَرَكَفَرَ.. رواه ابونعيم
“Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: “janganlah hendaknya seseorang dari kamu taqlid agamnya dari orang, karena kalau orang ini beriman, ia juga turut beriman, tetapi kalau orang itu kufur, iapun ikut kufur.” (HR. Abu Nu’aim)

       Abdullah bin Mas’ud adalah seorang sahabat Nabi SAW. Riwayat diatas jelas menunjukkan perkataan Abdullah bin Mas’ud, karenanya hadis yang seperti ini dinamakan hadis mauquf.

b.      Contoh mauquf fi’li (perbuatan)
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: خَيَّرَ عُمَرُغُلَامًابَيْنَ اَبِيْهِ وَاُمِّهِ فَا فَخْتَارَا اُمَّهُ فَانْطَلَقَتْ بِهِ. المحلى
“Dari Abdillah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: Umar menyuruh kepada seeorang anak laki-laki memilih antara ayah dan ibunya. Maka anak itu memilih ibunya, lalu ibunya membawa dia.”(Al Muhalla)

       Yang dimaksud umar dalam hadis tersebut adalah Umar bin Khattab, sahabat Nabi SAW. Perbuatan yang disandarkan kepada sahabat sebagaimana hadis tersebut dinamakan hadis mauquf.
c.      Contoh mauquf Taqrir (Persetujuan)
عَنِ الزُّهْرِيِّ اَنَّ عَاتِكَةَ بِنْتِ زَيْدِبْنِ عَمْرِوبْنِ نُفَيْلٍ كَانَتْ تَحْتَ عُمَرَابْنِ الْخَطَّابِ وَكَانَتْ تَشْهَدُالصَّلَاةَ فِى الْمَسْجِدِ فَكَانَ عُمَرُيَقُوْلُ لَهَا: وَاللهِ اِنَّكِ لَتَعْلَمِيْنَ مَا اُحِبُّ هَذَا. فَقَالَتْ: وَاللهِ لَااَنْتَهِي حَتَّى تَنْهَانِي. فَقَالَ عُمَرُ: فَاِنِّي لَااَنْهَاكِ .المحلى
“dari Zuhri bahwa Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail menjadi hamba Umar bin Khattab. Adalah Atikah pernah turut shalat dalam masjid. Maka Umar berkata kepadanya, “Demi Allah engakau sudah tahu bahwa aku tidak suka perbuatan ini.” Atikah berkata “Demi Allah aku tidak mau berhnetisebelum engkau melarang aku.” Akhirnya umar berkata, “aku tidak mau melarangmu.” (Al-Muhalla)
     Umar bin Khattab adalah seorang sahabat Nabi SAW. Dalam riwayat tersebut menunjukkan Umar membenarkan perbuatan Atikah, yakni shalat di masjid.[5]

D.       Hadis Mauquf dinilai Marfu’
       Sebagaimana yang telah diterangkan, bahwa hadis mauquf tidak dapat dijadikan hujjah kecuali jika hadis tersebut dipandang marfu’ secara hukum. Ada beberapa hadis mauquf yang dihukumi marfu’  pada beberapa tempat yaitu sebagai berikut:
1)      Jika seorang perawi menegaskan beberapa kata ketika menyebut nama sahabat yaitu;
a.       يَرْفَعُهُ                = ia marfu’kan hadis ini kepada Nabi
Misalnya, perkataan Al Bukhari, dari Ibnu Abbas (ia marfu’kan):
اَلشِّفَاءُفِى ثَلَاثَةٍ: شُرْبَةِعَسَلٍ, وَشُرْطَةِ مِحْجَمٍ, وَكِيَّةٍ نَارٍ
Kesembuhan itu terdapat pada tiga perkara: Minum madu, membekam dan menggosok badan dengan besi panas.
b.      يَنْمِيْهِ              = ia bangsakan kepada Nabi
Misalnya, perkataan Malik dari Abu Hazim dari Sahal ibn Sa’ad As Said r.a katanya :
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُوْنَ اَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ الْيُمْنَ عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِى الصَّلَاةِ
Adalah manusia disuruh meletakkan tangan kanannya atas hasta tangan kiri dalam sembahyang.
Abu Hasim berkata:
لَااَعْلَمُ اِلَّااَنَّهُ يُنْمِى ذَالِكَ
Menurut pengetahuanku, bahwa Sahal itu membangsakan kepada Nabi
Diceritakan dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata:
كُلُّ حَدِ يْتٍ عَنْ اَبِى هُوَيْرَةَ فَهُوَمَرْفُوْعٌ
Segala hadis yang kuceritakan dari Abi Hurairah marfu’ semuanya
c.       يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيُّ     = ia sampaikan kepada Nabi dengan riwayat itu
Misalnya, perkataan Al A’raj dari Abi Hurairah r.a (ia sampai kepada Nabi dengan riwayat itu):
الَنَّاسُ تَبْعٌ لِقُرَيْشٍ
Manusia itu mengikut orang Quraisy (HR. Bukhari dan Muslim) 
d.      رِوَايَةٌ             = ia beritakan secara  riwayat dari Nabi
Misalnya, perkataan Al A’raj dari Abi Hurairah r.a (ia beritakan secara riwayat):
تُقَاتِلُوْنَ قَوْمًاصِغَارَالْاَعْيُنِ
Kamu akan memerangi kaum yang kecil-kecil matanya (HR. Bukhari)[6]
2)      Jika seorang sahabat mengatakan, seperti :
a.       أُمِرْنَابِكَذَا         = kami diperintah begini
Misalnya, seperti perkataan sebagai sahabat:
اُمِرَبِلَالٌ اَنْ يَشْفَعُ الْاَذَانَ وَيُوْترُالْاِقَامَةَ
Bilal diperintah menggenapkan (kalimat) adzan dan mengganjilkan (kalimat) iqamat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b.      نُهِيْنَاعَنْ كَذَا     = kami dilarang begini    
Misalnya, kata Ummi Athiyah:
نَهِيْنَاعَنِ اتبَاعِ الْجَنَاءِزِوَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا
Kami dilarang mengantarkan jenazah (ke kubur) dan tidak diwajibkan atas kami. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
c.       مِنَ السُّنَةِ كَذَا    = diantara sunnah begini
Misalnya, kata Abu Qilabah dari Anas:
مِنَ السُّنَةِ اِذَاتَرَوْجَ البكْرَعَلَى الثَيِّبِ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا
Diantara sunnah, jika seseorang mengawini gadis atas janda tinggal padanya tujuh hari. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3)      Sahabat memberitakan, bahwa mereka berkata demikian atau melakukan begini atau mereka tidak melihat bahaya apa-apa. Maka hukumnya ada dua kemungkinan:
a.    Jika disandarkan pada masa Nabi SAW. Menurut pendapat yang shahih dihukumi marfu’.
Seperti perkataan Jabir:
كُنَّانَعْزِلُ عَلَى عَهْدِالنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَالْقُرْانُ يَنْزِلُ وَلَوْكَانَ شَيْءًايَنْهَى عَنْهُ لَنَهَا نَاعَنْهُ الْقُرْانُ
Kami pernah ‘azl pada masa Rasulullah sedang masih turun. Jikalau hal itu sesuatu yang dilarang tentu Al-Qur’an melarang kami. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
b.    Jika tidak disandarkan kepada masa Nabi SAW. Jumhur berpendapat mauquf.
Seperti perkataan Jabir:
كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا
Kami ketika naik dan membaca takbir dan ketika turun membaca tasbih. ( HR. Al-Bukhari)
4)      Penafsiran sahabat yang berkaitan dengan sebab nuzulnya suatu ayat.
Seperti perkataan Jabir:
كَانَتِ الْيَهُوْدُ تَقُوْلُ: مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِيْ قُبُلِهَاجَاءَالْوَلَدُ أَحْوَلَ"فَأَنْزَلَ الله تعَلَى: نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ...
Orng yahudi berkata: barang siapa mendatangi istrinya dari belakang pada jalan depan, maka anaknya jereng matanya. Kemudian turun ayat: wanita-wanita (istri-istri) kamu bagaikan ladang bagimu...(HR. Muslim)[7]

E.   Urgensi Mempelajari Hadis Mauquf.
Hadis adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW. Hadis bukan hanya disandarkan pada Rasulullah saja tetapi juga dapat disandarkan oleh sahabat, yang biasa disebut hadi mauquf. Mempelajari hadis mauquf tidak kalah pentingnya dengan mempelajari hadis-hadis lainnya. Dengan mempelajari Hadis mauquf, kita dapat mengetahui mana hadis mauquf yang shahih, hasan, dan dhaif. Pentingnya mempelajari hadis mauquf dalam ilmu hadis juga dapat mengetahui mana Hadis Marfu’ dapat dijadikan sumber hukum dan mana yang tidak bisa dijadikan sumber hukum, juga kita dapat mengetahui macam-macam hadis mauquf serta perbedaannya satu dengan lainnya.
BAB III
PENUTUP

       Hadis mauquf adalah perkataan, perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada sahabat Nabi SAW. Baik sanadnya bersambung maupun terputus. Hadis mauquf terbagi menjadi tiga yakni, hadis mauquf qauli, hadis mauquf fi’li, dan hadis mauquf taqrir. Hadis mauquf tidak dapat dijadikkan hujjah  kecuali apabila hadis mauquf dihukumi marfu’ yang disebut dengan marfu’ hukmi. Ada beberapa macam hadis mauquf yang dinilai sebagai hadis marfu pada beberapa tempat seperti,  jika seorang perawi menegaskan beberapa kata ketika menyebut nama sahabat,  perkataan sahabat  yang berisi perintah, larangan dan antara sunnah, apabila sahabat memberitakan dengan disandarkan kepada Nabi ,apabila yang diriwayatkan sahabat itu sebab-sebab turunnya Al-Qur’an.












DAFTAR PUSTAKA

     Khon, Abdul Majid. 2009. ULUMUL HADIS. Jakarta: Amzah.
     Ash Shiddieqy, Hasbi. 1975. Pokok – Pokok ILMU DIRAYAH  HADIS.
Jakarta:Bulan Bintang

Gufron, Mohammad dan Rahmawati. 2013. ULUMUL HADITS: PRAKTIS
DAN  MUDAH. Yogyakarta: Teras

Rosidin, Mukarom Faisal dan Sugiono. 2010. Buku Ajar Hadis MA Progam
    KeagamaanKelas XI. Sragen.



[1] Abdul Majid Khon, ULUMUL HADIS Cet 3, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 226-227
[2] Mohammad Gufron dan Rahmawati, ULUMUL HADIS: PRAKTIS DAN MUDAH, (Yogyakarta: Teras, 2013) hlm. 99
[3] Mukarom Faisal Rosidin dan Sugiono, Hadis, (Sragen: 2010), hlm.34
[4] Abdul Majid Khon, ULUMUL HADIS Cet 3, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 228
[5] Mukarom Faisal Rosidin dan Sugiono, Buku Ajar Hadis MA Progam Keagamaan Kelas XI, (Sragen: 2010), hlm. 33-34
[6] Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok- Pokok ILMU DIRAYAH HADITS, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 313-314
[7] Abdul Majid Khon, ULUMUL HADIS Cet 3, (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 229-230

Tidak ada komentar:

Posting Komentar