Sabtu, 08 Agustus 2020

Bang Syamsudin : Sejarah Kiprah Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pekalongan

Sejarah Kiprah Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pekalongan

Oleh : Saiful Mujab 
PA Hmi Cabang Pekalongan 2020 

Persembahan Untuk Adik-adik hmi cabang Pekalongan

           Pada Tahun 1962 di Pekalongan atas dasar inisiatif dari bapak Bupati Pekalongan Yang Bernama Oesman. Sebuah nama yang perguruan tinggi yang bernama Sekolah Tinggi Ekonomi Pekalongan. Pada ahir tahun 1964 sudah terlihat dominasi kekuatan politik dilingkungan lokal maupun Nasional. Pada era ini banyak mahasiswa yang beraliran Komunis ada nasional, sehingga situasi ini dimungkinkan untuk membentuk sebuah organisasi CGMNI dari pihak komunis dan GMNI dari Pihak Aliran Nasionalis. Supaya tidak terdesak maka , Senat Mahasiswa berinisiatif membentuk Organisasi University yang bernama HMI.                     
            Keputusan ini ditindak lanjuti dengan pembentukan panitia persiapan HMI yang diketuai oleh sibik pramujibo yang dibantu oleh beberapa temannya, dalam selang waktu 3 bulan sibik pramujibo mengadakan konferensi Cabang ( Konfercab ) di bertempat di SD Muhammadiyah di sudut jalan Dr. Wahidin Kota Pekalongan. 
                  Dalam konfercab terpilihlah Syamsudin sebagai Ketua Umum Persiapan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pekalongan , dan yang pertama kali mengucapkan salam adalah M. Zaky Arfslan Djunaidi selaku ketua Umum PII Kota Pekalongan. Dalam waktu 1 minggu Syamsudin menyusun kepengurusan HMI dengan Sekretarisnya yang bernama Faruk Hasan. Syamsudin mengutus temannya untuk menemui Mas Chaeron Hasan, BA selaku badko HMI Jawa Tengah, tetepi usaha tidak menemui hasil. Kemudian Teman yang di utus tadi berinisiatif menemui Mas Yusuf Syakir selaku Ketua Umum Badko HMI Badko Jawa Tengah , setelah bertemu Mas Syakir mengatakan silahkan bergerak sebagai hmi cabang Pekalongan penuh dengan jaminan belia. Utusanpun kembali dan pengurus lain segera menyiapkan segala sesuatunya sebagai cabang penuh sambil menunggu surat pengesahan cabang. Kantor sementara hmi cabang Pekalongan berada di jalam Hayam Wuruk 1 Pekalongan, kurang lebih 1 tahun hmi mendapatkan kantor representatif di Gedung Yayasan Muslimin Jalan Gajah Mada No. 5 Pekalongan dengan restu H. A Djunaid Basyari Ahmad dan sebagainya. Dan tidak lama kemudian Kantor Hmi cabang Pekalongan dipindahkan di Jalan Singosari No. 5 sampai sekarang. 
               Dalam beberapa dekade kepemimpinan hmi cabang Pekalongan mengalami perkembangan di beberapa wilayah perguruan Tinggi di Pekalongan Yaitu Meliputi IAIN Pekalongan , Universitas Pekalongan , STIMIK Pekalongan , STIT Pemalang. Selanjutnya dari beberapa Lembaga HMI Yakni Badan Pengelola Latihan Himpunan ( BPL ) Himpunan Mahasiswa Islam ,Lembaga Jurnalistik Himpunan Mahasiswa Islam , Lembaga Dakwah Himpunan Mahasiswa Islam serta Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Himpunan Mahasiswa Islam sampai Sekarang.

Kamis, 02 April 2020

SAJAK KU MIMPI



Aku bermimpi
Merasakan Manisnya Waktu
Aku Bermimpi
Merasakan Dekat nya Waktu
Aku Bermimpi
Merasakan Getaran Waktu

Aku Bermimpi
Ada yang merasakan manis
Namun itu bukan gula
Melainkan.....
Senyuman bibir Manis Yang diberikan


Sajakku Mimpi...

Sabtu, 11 Januari 2020

NAHDLATUL ULAMA DAN DAN HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

NU adalah kekuatan politik satu-satunya yang ada di arus politik Nasakom sebagai reseprentatsi politik Islam, hubungan PB NU dan PB HMI berjalan baik. Apalagi tokoh HMI memiliki kedekatan dengan tokoh muda NU Subkhan ZE sangat dapat dipahami betapa pilihan politik NU dalam politik Nasakom demikian dilematis. satu sisi harus menurut politik Bung Karno yang akomodatif terhadap PKI. Tetapi disisi lain NU pada hakikatnya merupakan gerakan anti komunis dan solidaritas umat Islam demikian gagap gempita. Organ-organ Strategis NU terutama Gerakan Ansor turut membela HMI dengan membentuknya Generasi Muda Islam.
Terkait dengan hubungan antara ormas dan partai politik Islam dan non-islam termasuk juga NU , Mar'i Muhammad mengatakan bahwa para aktivis HMI sering melakukan anjangsana kepada para tokohnya. Misal dengan Nu misalnya selain memang dekat dengan Subkhan ,Z.E para aktivis HMI juga sering ketemu dengan K.H Ahmad Dahlan, Saifuddin Zuhri dan Sebagainya.
Terkait dengan hubungan NU dan HMI Ridwan Saidi juga menguraikan " Takkala PB NU menunjuk Mahbub Junaid untuk memangku jabatan Ketua Umum PB PMII mahbub adalah anggota PB HMI dibawah kepemimpinan Buya Ismail Hasan. Mahbub bicara dengan Junaid tentang amanat PB NU , dan buya hanya manggut-manggut belaka. Urusan Islam begitu luas dan besar , niscaya di panggul HMI saja , maka perlu teman begitu kata Buya Ismail."
Hubungan PB NU dan PB HMI pun bagus belaka karena sejak didirikannya HMI menyatakan Independen. Sehingga Pemilu 55 HMI menganjurkan agar umat Islam mencoblos tanda gambar Partai Islam , Terserah Islam yang mana yang disukai.
Tidak sedikit pula Tokoh HMI yang berkiprah diparpol NU , Misalnya Zaidan Zohari, Sutanto Martoprasono. PB PMII dan PB HMI serta GP Ansor meartoprasono melepori Gerakan Muda Islam tahun 1964. Hubungan HMI dengan Subkhan sendiri memang Istimewa , dimana tokoh HMI berkoordinasi kepada tokoh Muda NU untuk melawan PKI.
Bahkan Adik Subkhan,Z.E Anisa Rohlah tertarik masuk HMI dan Menjadi Ketua Korps HMI Wati atau kohati yang pertama kali tahun 1966 ketika kongres di Solo.

Kamis, 09 Januari 2020

WALISONGO DALAM STRATEGI DAKWAH KOMUNIKASI


Dalam perkembangan keberagamaan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan ini berbeda dengan keberagamaan zaman penyebaran agama Islam di Nusantara sebelum kedatangan Walisongo. Pada zaman sebelum kedatangan Walisongo, masih menggunakan sistem dakwah dengan pola mengajak komunitas masyarakat dari berbagai kepercayaan untuk menngikuti ajaran Islam. Pola dakwah seperti sebelum kedatangan Walisongo ini berlangsung kurang mendapatkan respon masyarakat. Kondisi masyarakat sebelum Walisongo masih kuat mengikuti tradisi ajaran agama nenek moyang, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh ajaran atau kepercayaan yang lain.
Berbeda dengan pola dakwah sebelum Walisongo, pada zaman Walisongo lebih menekankan pada pola mengenalkan budaya baru di tengah institusi kuasa kerajaan, yaitu budaya agama Islam yang berintegrasi dengan budaya lokal atau nilai-nilai kearifan lokal. Pola komunikasi dakwah Walisongo ini bukan dalam bentukkomunikasi mengajak, namun dalam bentuk mengkomunikasikan kebudayaan baru yang memerankan tradisi lama yang telah berlangsung di Nusantara. Pola membangun dialog budaya baru dengan budaya lama inilah yang mempengaruhi pengertian dakwah dalam konteks keindonesiaan. Pengertian dakwah di Nusantara berbeda dengan makna dakwah yang berkembang di kawasan Timur Tengah, yang bermakna mengajak dan menekankan simbol-simbol yang bersifat konfrontatif, agar pihak yang menjadi objek dakwah mengikutinya, baik berlangsung secara paksa maupun berlangsung secara simbolik keagamaan. Pengertian istilah dakwah di Nusantara telah dipengaruhi pola dakwah yang telah dikenalkan Walisongo. Secara spesifik, pola dakwah Walisongo didasarkan pada pola pengelolaan dan pengembangan budaya masyarakat. Dalam pengembangan kebudayaan ini, bisa dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai universal, kearifan lokal, dan ajaran Islam rahmatan lil’alamiin. Berbagai pola kegiatan dakwah mewarnai kehidupan umat sebagai upaya untuk mengiringi perkembangan kehidupan masyarakat. Mengingat kegiatan dakwah bertujuan untuk membentuk dan meningkatkan karakter kepribadian yang baik, yang berakhlakul karimah dan dapat membentuk keseimbangan unsur jiwa sebagai manusia yang berdimensi fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Dalam upaya mengaktualisasikan kembali pola dakwah Walisongo ini diperlukan kajian ilmiah. Kajian ilmiah tentang pola dakwah Walisongo ini, akan bermanfaat untuk mengenalkan pola dakwah yang ramah lingkungan dan pola dakwah yang lebih menekankan pada pola pribumisasi Islam. Dalam beberapa kajian, pola dakwah Walisongo ini dikenal dengan pola dakwah
Berdasarkan teks kewalian. Dalam penelitian ini, telah dipetakan, bahwa salah satu kajian dakwah yang akan memberi referensi pemikiran dalam pengembangan dakwah adalah melalui kajian terhadap awal perkembangan dakwah Islam yang telah terbukti mampu menanamkan ajaran Islam secara kuat di Nusantara. Walisongo yang sebenarnya sebagai sebutan untuk para wali yang dikenal jumlahnya sembilan (wali songo= wali sembilan), telah menjadi kesepakatan bahwa ketika menyebut Walisongo berarti yang dimaksud adalah kesembilan wali tersebut (nama-nama wali dimaksud akan disebutkan dalam sub bab nanti).Penulis menyadari telah banyak kajian, penelitian, dan berbagai diskursus membahas Walisongo terutama terkait dengan historisitas dan aktivitas dakwahnya. Bahkan penulis sendiri telah melakukan penelitian terhadap para peziarah Walisongo untuk mempelajari pola modeling (peneladanan) terhadap pola keberagamaan Walisongo sebagai muslim sekaligus da’I yang Kharismatik mampu memimpin umat pada zamannya hingga membentuk masyarakat muslim yang hingga sekarang masih begitu besar pengaruhnya (penelitian Thesis tahun 2007 dan dipublikasikan dalam artikel Jurnal Empirik P3M STAIN Kudus, 2009). Termasuk juga dalam penelitian tahun 2014 dengan judul “Komunikasi Dakwah Psikosufistik (Studi terhadap Pola Komunikasi Dakwah Walisongo)”, yang kemudian hasil penelitiannya penulis kembangkan lagi dalam tulisan ini dengan menambah beberapa teori dan data.
B. Pengembangan Dakwah
Dari berbagai kajian tentang Walisongo penulis melihat masih dalam bentuk kajian historis terkait dengan pola dan metode dakwah Walisongo secara umum, misalnya yang ditulis Widji Saksono: Mengislamkan Tanah Jawa, Telaah atas Metode Dakwah Walisongo (2005); Ridin Sofwan, dkk. (2000): Islamisasi di Jawa, Walisongo, Penyebar Islam di Jawa, menurut Penuturan Babad; dan Tarwilah (2006): ”Peranan Walisongo dalam Pengembangan
Dakwah Islam”. Dalam tulisan ini—sebagai pengembangan hasil penelitian penulis sendiri tahun 2014—akan penulis tekankan pada sisi pola komunikasi perspektif psikosufistik. Walisongo telah melahirkan tradisi Islam Jawa yang dialogis, terbuka (inklusif), kultural, dan sufistik sehingga membentuk pola berpikir, sikap dan perilaku keagamaan yang fleksibel, namun tetap berpegang pada nilai-nilai ketauhidan. Islam yang dikenalkan Walisongo menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian, keselamatan bagi seluruh umat, bukan Islam yang penuh dengan simbolisme namun rawan untuk melakukan kekerasan atas nama agama.Kerangka pemahaman Islam seperti tersebut di atas merupakan hasil penanaman nilai-nilai Islam yang didakwahkan Walisongo yang memiliki latar belakang ajaran Tasawuf. Sebagaimana yang telah penulis baca dalam literatur yang membahas Walisongo bahwa Walisongo adalah para sufi dan juga para psikolog yang mampu memengaruhi masyarakat Jawa pada masanya untuk menerima dan menjadikan Islam sebagai keyakinan baru yang membawa ketentraman. Terkait dengan psikosufistik yang penulis jadikan sebagai kerangka berpikir dalam komunikasi dakwah, penulis melihat bahwa pola komunikasi dakwah yang dibangun Walisongo mengarah pada pendekatan psikosufistik, yakni sebuah pandangan psikologis dalam memahami ajaran tasawuf sehingga dapat dijadikan sebagai kerangka pemikiran untuk menentukan sikap dan perilaku beragama yang berpegang pada nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah. Pendekatan psikosufistik akan mengarahkan umat dalam bersikap dan berperilaku Islami meskipun di tengah berbagai perbedaan dan derasnya perubahan zaman. Ibaratnya hidup di tengah komunitas yang berbeda agama dan keyakinan, berbeda pemahaman agama, atau di tengah komunitas yang antipati terhadap agama kita, kita tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai ketauhidan dan jugamampu menerapkan nilai-nilai toleransi sehingga dapat hidup berdampingan bahkan dipandang baik oleh komunitas yang berbeda tadi. Cara pandang, sikap, dan perilaku yang fleksibel, dialogis, dan terbuka itu juga sebenarnya merupakan bagian dari berdakwah, karena bagaimanapun, hanya Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Mengetahui dan Berkehendak untuk membuka kesadaran manusia untuk menerima dan memeluk Islam sebagai agama yang rahmatal lil’alamin. Sementara kita sebagai umat Islam hanya ikhtiar (tanpa kekerasan) dan berdoa untuk kebaikan seluruh
umat

Pola komunikasi dakwah dengan pendekatan psikosufistik sebagaimana yang telah penulis gambarkan di atas menarik untuk penulis kaji dalam tulisan ini. Dari hasil penelitian penulis sebelum ini, bahwa pola komunikasi dakwah yang telah dilakukan Walisongo memuat nilai-nilai psikosufistik yang memiliki potensi untuk dapat diimplementasikan dalam konteks berdakwah di era sekarang ini. Penulis melihat di era yang telah berkembang pesat berbagai media, pengembangan, dan metode dakwah memang telah meluas di masyarakat. Model-model dakwah pun telah beragam, misalnya model dakwah di media radio, televisi, media cetak (misal: opini, rubrik konseling agama, rubrik khotbah). Namun pada umumnya masih bersifat informatif kognitif dan dengan pendekatan fiqh saja. Sementara pola komunikasi dakwah yang akan membentuk keseimbangan diri masih sedikit. Komunikasi dakwah psikosufistik akan menjadi alternatif untuk memberikan pencerahan dalam berdakwah untuk mendampingi masyarakat di era modern yang sarat dengan berbagai problem kejiwaan.

Selasa, 07 Januari 2020

Cak Nur dan Gus Dur

Keakraban antara Gus Dur dan Nurcholis Madjid alias Cak Nur sudah terjalin lama. Selain sama-sama berasal dari Jombang, Jawa Timur, keduanya juga memiliki kedekatan di bidang pemikiran. Selama Cak Nur berada di Chicago, AS, guna melanjutkan studi, Gus Dur pun bolak-balik menengoknya. Pokoknya setiap ada kesempatan ke AS, Gus Dur pasti menyempatkan diri mampir ke rumah kontrakan Cak Nur.

Gus Dur terheran-heran melihat Cak Nur yang menurutnya “Tetap Tetapi Berubah” –begitu kolom yang ditulisnya khusus tentang sahabatnya itu di majalah Tempo. Tetap dalam arti meski sudah menuntut ilmu di Barat toh Cak Nur masih saja tidak terpengaruh oleh lingkungannya, kecuali dalam kedalaman ilmunya.

“Dua kali pindah rumah,” kata Gus Dur, “rumahnya juga masih begitu-begitu saja . Susunannya rumahnya juga tetap saja: ruangan utamanya masih seperti toko buku loakan Pasar Senen. Pakaiannya juga masih seperti dulu, enggak modis dan kelihatan dan pernah mengikuti fashion.”

Mobil Cak Nur juga dilihat Gus Dur masih seperti yang digunakan di Jakarta: karena tidak mengerti mesin dan tidak tahu penyakit mobil, ya dibiarkan saja berjalan seadanya. Selera bacaannya juga kurang bervariasi. “Belum tampak novel tingkat dunia menghiasi lemari bukunya.”

Tetapi, kata Gus Dur, selera musik Cak Nur kini sudah mulai agak berubah. “Cak Nur tidak lagi puas dengan lagu Indonesia Raya, dan himne HMI, dua lagu yang sangat dia hafal.” Ternyata Cak Nur sedikit demi sedikit sudah mulai membuka diri pada lagu klasik –walaupun masih seri Greatest Hits yang dijajakan The Reader’s Digest dengan harga diskon.

Selain itu, lanjut Gus Dur, Cak Nur juga sudah mulai senang memotret, yang kelihatannta jadi hobi serius yang dapat menopang hidup kalau rezeki tidak “ketulungan” di tanah air. Mata fotografinya memang jeli, dan kualitas kerjanya memang tinggi. Dan yang penting, ia sudah “mampu” bertanya berapa harga gas elpiji dan kulkas di tanah air. “Pesat sekali kemajuannya, bahai lompatan dari manusia Neanderthal menjadi manusia bionic, karena dulu ia tidak pernah bertanya tentang hal-hal sekecil itu,” ungkap Gus Dur.

Cak Nur sendiri menilai kawannya itu dengan cara yang sebaliknya: Gus Dur berubah, tapi tetap. Gus Dur itu jelas berubah, karena sekarang dia sudah jadi orang nomor satu di Indonesia. Tapi menurut Cak Nur, yang mengenalnya dengan baik sejak 1960an, Gus Dur itu tetap: dia tak akan mau menuruti desakan orang lain. Maka, Cak Nur yakin, Gus Dur tak akan mundur, walaupun diminta banyak orang agar meletakkan jabatannya.

Nah, kita akan melihat apakah keyakinan Cak Nur itu terbukti atau tidak. Apakah Gus Dur berubah, tapi tetap, ataukah dia tetap tapi berubah? Atau dia berubah, dan memang berubah? (Sumber: Ger-Geran Bersama Gus Dur,Pustaka Alvabet, 2010)