Kamis, 09 Januari 2020
WALISONGO DALAM STRATEGI DAKWAH KOMUNIKASI
Dalam perkembangan keberagamaan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan ini berbeda dengan keberagamaan zaman penyebaran agama Islam di Nusantara sebelum kedatangan Walisongo. Pada zaman sebelum kedatangan Walisongo, masih menggunakan sistem dakwah dengan pola mengajak komunitas masyarakat dari berbagai kepercayaan untuk menngikuti ajaran Islam. Pola dakwah seperti sebelum kedatangan Walisongo ini berlangsung kurang mendapatkan respon masyarakat. Kondisi masyarakat sebelum Walisongo masih kuat mengikuti tradisi ajaran agama nenek moyang, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh ajaran atau kepercayaan yang lain.
Berbeda dengan pola dakwah sebelum Walisongo, pada zaman Walisongo lebih menekankan pada pola mengenalkan budaya baru di tengah institusi kuasa kerajaan, yaitu budaya agama Islam yang berintegrasi dengan budaya lokal atau nilai-nilai kearifan lokal. Pola komunikasi dakwah Walisongo ini bukan dalam bentukkomunikasi mengajak, namun dalam bentuk mengkomunikasikan kebudayaan baru yang memerankan tradisi lama yang telah berlangsung di Nusantara. Pola membangun dialog budaya baru dengan budaya lama inilah yang mempengaruhi pengertian dakwah dalam konteks keindonesiaan. Pengertian dakwah di Nusantara berbeda dengan makna dakwah yang berkembang di kawasan Timur Tengah, yang bermakna mengajak dan menekankan simbol-simbol yang bersifat konfrontatif, agar pihak yang menjadi objek dakwah mengikutinya, baik berlangsung secara paksa maupun berlangsung secara simbolik keagamaan. Pengertian istilah dakwah di Nusantara telah dipengaruhi pola dakwah yang telah dikenalkan Walisongo. Secara spesifik, pola dakwah Walisongo didasarkan pada pola pengelolaan dan pengembangan budaya masyarakat. Dalam pengembangan kebudayaan ini, bisa dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai universal, kearifan lokal, dan ajaran Islam rahmatan lil’alamiin. Berbagai pola kegiatan dakwah mewarnai kehidupan umat sebagai upaya untuk mengiringi perkembangan kehidupan masyarakat. Mengingat kegiatan dakwah bertujuan untuk membentuk dan meningkatkan karakter kepribadian yang baik, yang berakhlakul karimah dan dapat membentuk keseimbangan unsur jiwa sebagai manusia yang berdimensi fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Dalam upaya mengaktualisasikan kembali pola dakwah Walisongo ini diperlukan kajian ilmiah. Kajian ilmiah tentang pola dakwah Walisongo ini, akan bermanfaat untuk mengenalkan pola dakwah yang ramah lingkungan dan pola dakwah yang lebih menekankan pada pola pribumisasi Islam. Dalam beberapa kajian, pola dakwah Walisongo ini dikenal dengan pola dakwah
Berdasarkan teks kewalian. Dalam penelitian ini, telah dipetakan, bahwa salah satu kajian dakwah yang akan memberi referensi pemikiran dalam pengembangan dakwah adalah melalui kajian terhadap awal perkembangan dakwah Islam yang telah terbukti mampu menanamkan ajaran Islam secara kuat di Nusantara. Walisongo yang sebenarnya sebagai sebutan untuk para wali yang dikenal jumlahnya sembilan (wali songo= wali sembilan), telah menjadi kesepakatan bahwa ketika menyebut Walisongo berarti yang dimaksud adalah kesembilan wali tersebut (nama-nama wali dimaksud akan disebutkan dalam sub bab nanti).Penulis menyadari telah banyak kajian, penelitian, dan berbagai diskursus membahas Walisongo terutama terkait dengan historisitas dan aktivitas dakwahnya. Bahkan penulis sendiri telah melakukan penelitian terhadap para peziarah Walisongo untuk mempelajari pola modeling (peneladanan) terhadap pola keberagamaan Walisongo sebagai muslim sekaligus da’I yang Kharismatik mampu memimpin umat pada zamannya hingga membentuk masyarakat muslim yang hingga sekarang masih begitu besar pengaruhnya (penelitian Thesis tahun 2007 dan dipublikasikan dalam artikel Jurnal Empirik P3M STAIN Kudus, 2009). Termasuk juga dalam penelitian tahun 2014 dengan judul “Komunikasi Dakwah Psikosufistik (Studi terhadap Pola Komunikasi Dakwah Walisongo)”, yang kemudian hasil penelitiannya penulis kembangkan lagi dalam tulisan ini dengan menambah beberapa teori dan data.
B. Pengembangan Dakwah
Dari berbagai kajian tentang Walisongo penulis melihat masih dalam bentuk kajian historis terkait dengan pola dan metode dakwah Walisongo secara umum, misalnya yang ditulis Widji Saksono: Mengislamkan Tanah Jawa, Telaah atas Metode Dakwah Walisongo (2005); Ridin Sofwan, dkk. (2000): Islamisasi di Jawa, Walisongo, Penyebar Islam di Jawa, menurut Penuturan Babad; dan Tarwilah (2006): ”Peranan Walisongo dalam Pengembangan
Dakwah Islam”. Dalam tulisan ini—sebagai pengembangan hasil penelitian penulis sendiri tahun 2014—akan penulis tekankan pada sisi pola komunikasi perspektif psikosufistik. Walisongo telah melahirkan tradisi Islam Jawa yang dialogis, terbuka (inklusif), kultural, dan sufistik sehingga membentuk pola berpikir, sikap dan perilaku keagamaan yang fleksibel, namun tetap berpegang pada nilai-nilai ketauhidan. Islam yang dikenalkan Walisongo menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian, keselamatan bagi seluruh umat, bukan Islam yang penuh dengan simbolisme namun rawan untuk melakukan kekerasan atas nama agama.Kerangka pemahaman Islam seperti tersebut di atas merupakan hasil penanaman nilai-nilai Islam yang didakwahkan Walisongo yang memiliki latar belakang ajaran Tasawuf. Sebagaimana yang telah penulis baca dalam literatur yang membahas Walisongo bahwa Walisongo adalah para sufi dan juga para psikolog yang mampu memengaruhi masyarakat Jawa pada masanya untuk menerima dan menjadikan Islam sebagai keyakinan baru yang membawa ketentraman. Terkait dengan psikosufistik yang penulis jadikan sebagai kerangka berpikir dalam komunikasi dakwah, penulis melihat bahwa pola komunikasi dakwah yang dibangun Walisongo mengarah pada pendekatan psikosufistik, yakni sebuah pandangan psikologis dalam memahami ajaran tasawuf sehingga dapat dijadikan sebagai kerangka pemikiran untuk menentukan sikap dan perilaku beragama yang berpegang pada nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah. Pendekatan psikosufistik akan mengarahkan umat dalam bersikap dan berperilaku Islami meskipun di tengah berbagai perbedaan dan derasnya perubahan zaman. Ibaratnya hidup di tengah komunitas yang berbeda agama dan keyakinan, berbeda pemahaman agama, atau di tengah komunitas yang antipati terhadap agama kita, kita tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai ketauhidan dan jugamampu menerapkan nilai-nilai toleransi sehingga dapat hidup berdampingan bahkan dipandang baik oleh komunitas yang berbeda tadi. Cara pandang, sikap, dan perilaku yang fleksibel, dialogis, dan terbuka itu juga sebenarnya merupakan bagian dari berdakwah, karena bagaimanapun, hanya Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Mengetahui dan Berkehendak untuk membuka kesadaran manusia untuk menerima dan memeluk Islam sebagai agama yang rahmatal lil’alamin. Sementara kita sebagai umat Islam hanya ikhtiar (tanpa kekerasan) dan berdoa untuk kebaikan seluruh
umat
Pola komunikasi dakwah dengan pendekatan psikosufistik sebagaimana yang telah penulis gambarkan di atas menarik untuk penulis kaji dalam tulisan ini. Dari hasil penelitian penulis sebelum ini, bahwa pola komunikasi dakwah yang telah dilakukan Walisongo memuat nilai-nilai psikosufistik yang memiliki potensi untuk dapat diimplementasikan dalam konteks berdakwah di era sekarang ini. Penulis melihat di era yang telah berkembang pesat berbagai media, pengembangan, dan metode dakwah memang telah meluas di masyarakat. Model-model dakwah pun telah beragam, misalnya model dakwah di media radio, televisi, media cetak (misal: opini, rubrik konseling agama, rubrik khotbah). Namun pada umumnya masih bersifat informatif kognitif dan dengan pendekatan fiqh saja. Sementara pola komunikasi dakwah yang akan membentuk keseimbangan diri masih sedikit. Komunikasi dakwah psikosufistik akan menjadi alternatif untuk memberikan pencerahan dalam berdakwah untuk mendampingi masyarakat di era modern yang sarat dengan berbagai problem kejiwaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar