Cerita
ini berkisar tentang semangat juang Zainuddin, bagaimana merana dan melaratnya
hidup Zainuddin setelah cintanya ditolak oleh keluarga Hayati. Kemudian beliau
bangun semula dari segala kedukaan, membuka lembaran baru dalam hidupnya
menjadi seorang penulis yang ternama dan berjaya. Ia menceritakan tentang
kesetiaan, cinta dan kasihnya Zainuddin terhadap Hayati. Meski Hayati sudah berkahwin
tetapi sebaik mendapat tahu tentang kesusahan yang dihadapi Hayati, lantaran
suaminya yang suka berpoya-poya serta tidak bertanggung-jawab, Zainuddin terus
membantu tanpa ada dendam dan benci.
Sesungguhnya cinta yang suci itu akan terus mekar di dalam
hati hingga ke hujung nyawa begitulah jua cinta antara Zainuddin dan Hayati.
Pada suatu masa di Desa Batipuh, Minang Kabau terjadi pertengkaran antara Mamak
dan kemenakannya. Pertengkaran itu berujung pada kematian Sang Mamak, Datuk
Mantari Labih ditangan kemenakannya, Pandekar Sutan. Pandekar Sutan lalu
menjalani masa hukuman dan pembuangan di Cilacap dan terakhir dia dibuang ke
Bugis. Setelah menjalani masa tahanan Pandekar Sutan menetap dan bekerja di
Mengkasar. Karena dia menunjukkan budi pekerti yang baik akhirnya Pandekar
Sutan diambil mantu oleh seorang seorang Mengkasar keturunan melayu. Ia
dinikahkan dengan puteri buangsunya bernama Habibah. Ditahun keempat perkawinan
Pandekar Sutan dan Habibah hadirlah Zainuddin. Tetapi malang diusia sembilan bulan
Zainuddin harus kehilangan kasih sayang Ibunya dan dia kemudian diasuh oleh
Ayahnya dan Mak Base, pembantu keluarga Pandekar Sutan yang berasal dari
Bulukumba.
Tak lama kemudian ketika
Zainuddin masih balita Ayahnya juga berpulang ke hadirat Illahi. Mak Base-lah
yang kemudian mengasuh Zainuddin hingga dewasa. Mak Base mengasuh dan mendidik
Zainuddin dengan sangat baik hingga asuhannya itu tidak lupa akar keluarganya.
Darah Minang yang mengalir dalam dirinya membuat Zainuddin selalu terkenang dan
berhasrat untuk bisa datang ke kampung tempat ayahnya berasal. Di Mengkasar
sendiri Zainuddin tidak sepenuhnya diterima dalam lingkungan karena orang-orang
selalu memandang dirinya sebagi anak Minang. Hasrat Zainuddin untuk bisa dating
ke Minang Kabau sudah tidak terbendung. Dan suatu hari berangkatlah Zainuddin
berlayar menuju kampung halamannya dengan diiringi derail air mata dan alunan
do’a dari Mak Base. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat akhirnya
Zainuddin tiba di dusun Batipuh. Awalnya Zainuddin diterima dengan sumringah
oleh sanak saudaranya tetapi lama-kelamaan ia pun menginsyafi bahwa adat
Minangkabau sangatlah berbeda. Orang-orang memandang dia sebagai orang jauh,
orang Bugis, orang Mengkasar atau dalam bahasa Minangkabau disebut “ Anak
Pisang “. Di dusun Batipuh ini Zainuddin bertemu dengan belahan jiwanya bernama
Hayati. Tetapi kisah cinta Zainuddin dan Hayati membentur tembok
peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh dan kuat dalam suatu negeri yang
bersuku, berlembaga, berkaum kerabat dan berninik mamak.
Zainuddin terpaksa menyingkir ke Padang Panjang. Selain
menunggu pujaan hatinya, di Padang Panjang Zainuddin memperdalam ilmu agama dan
pengetahuannya karena di kota itu telah berdiri sekolah-sekolah bagus. Tetapi penantian
Zainuddin tidak berujung indah karena Hayati akhirnya memilih untuk diperistri
oleh Aziz, kakak sahabatnya yang bernama Khadijah. Luluh lantaklah hati si
Yatim-Piatu yang terbuang itu, terlebih lagi disaat yang sama Zainuddin
mendapat kabar kalau Mak Base, pengasuhnya juga telah berpulang. Singkat cerita
penderitaan yang datang bertubi-tubi itu membuat Zainuddin menjadi pribadi lain
yang lebih tangguh. Berbekal uang warisan dari ayahnya Zainuddin mempertaruhkan
peruntungan nasibnya di tanah Jawa. Kota pertama yang disinggahinya adalah
Jakarta. Di Jakarta dia bekerja sebagai penulis lepas yang membuat hikayat atau
cerita bersambung. Tulisan Zainuddin banyak peminatnya karena jiwa pengarangnya
membuat dia selalu mengasilkan hikayat atau cerita yang isinya sangat menyentuh
kalbu pembacanya. Zainuddin di kenal oleh pembacanya dengan nama pena “ Z ”.
Keberhasilan Zainuddin menaklukkan Jakarta tidak terlepas dari jasa Muluk
seorang “ perawa ” yang memilih insyaf dan selalu memanggil Zainuddin dengan
sebutan Guru. Tak berapa lama tinggal di Jakarta, zainuddin memutuskan untuk
pindah ke Surabaya dengan alasan supaya dia bisa lebih dekat dengan kampung
halamannya di Mengkasar.
Berbekal pengalaman di Jakarta tak sulit bagi
Zainuddin untuk memperoleh kejayaan di Surabaya. Di Surabaya Zainuddin selain
dikenal dengan nama pena “ Z “ ia juga di kenal dengan nama “ Tuan Shabir “.
Zainuddin juga aktif di perkumpulan “ Anak Sumatera “ dan menjadi motor
penggerak dari kelompok Tonil “ Andalas “ Di Surabaya ini lah cinta Zainuddin
dan Hayati di uji kembali. Sayangnya kisah cinta kedua anak manusia yang saling
mengasihi ini tidak membuahkan kebahagiaan di dunia. Jiwa keduanya harus karam
seiring dengan tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Kisah cinta yang mendayu dan
mengharu-biru ini dituturkan oleh HAMKA dengan bahasa yang “ rancak “ , indah
khas melayu. Jangan berharap menemukan kata-kata berbau makian meski dalam
settingan ceritanya diliputi amarah atau kekecewaan. Walaupun masih menggunakan
gaya bahasa “ tempoe doeloe “ novel ini secara keseluruhan tidaklah menjemukan.
Diluar kisah romansa banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa kita dapat dari
novel ini, pertama mengenai adat dan budaya Minangkabau yang bersifat
matrilinear ( menurut garis keturunan ibu ). Dan yang lain mengenai metafore
karena seperti kita ketahui bahwa penulis berasal dari Minangkabau tentu saja
gaya melayunya yang sangat kental menjadi jiwa dari novel ini. “ Di belakang
kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, disana telah tertulis rol yang akan
kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut
dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya”. Tentu
saja kalimat ini tidak langsung dimasukkan mentah-mentah ke dalam hati dan
pikiran karena selalu tawakal, ikhtiar, ikhlas dan berdoa wajib hukumnya
terutama bagi orang-orang beriman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar